{"id":836,"date":"2025-03-12T06:22:56","date_gmt":"2025-03-12T06:22:56","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/hadis-360\/"},"modified":"2025-03-12T06:23:13","modified_gmt":"2025-03-12T06:23:13","slug":"hadis-360","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/hadis-360\/","title":{"rendered":"Hadis 360"},"content":{"rendered":"<p dir=\"rtl\">\u0627\u0644\u0643\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u062f\u0627\u0646 \u0646\u0641\u0633\u0647 \u0648\u0639\u0645\u0644 \u0644\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f \u0627\u0644\u0645\u0648\u062a\u060c \u0648\u0627\u0644\u0623\u062d\u0645\u0642 \u0645\u0646 \u0627\u062a\u0628\u0639 \u0647\u0648\u0627\u0647\u0627 \u0648\u062a\u0645\u0646\u0649 \u0639\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0645\u0627\u0646\u064a.<\/p>\n<p>\u201cOrang yang cerdik (yang berakal lagi cerdas), ialah orang yang menundukkan nafsunya (mengalahkannya), dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedang orang bodoh adalah orang yang menuruti keinginannya dan mengangankan terhadap Allah bermacam angan-angan, (bahwa Dia akan memberikan kenikmatan di surga).\u201d<\/p>\n<p><strong>Takhrij Hadis:<\/strong><\/p>\n<p>Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, al-Nasa\u2019i, Ibn Majah, Ahmad dalam Musnad dan al-Zuhd, al-Hakim, al-Tabarani dalam al-Kabir dan al-Saghir dan Musnad al-Shamiyyin, al- Bayhaqi dalam al-Shu\u2019ab, Abu Nu\u2019aym, Ibn Abi al-Dunya dalam Muhasabah al-Nafs, al-Khatib dan al-Quda\u2019i. Semuanya dari Shaddad bin Aws melalui Abu Bakar bin \u2018Abd Allah bin Abi Maryam.849<\/p>\n<p><strong>Hukum Hadis:<\/strong> Da\u2019if.<\/p>\n<p>Meskipun hadis ini diriwayatkan oleh banyak perawi, namun jalurnya berpusat pada seorang perawi yaitu Abu Bakar bin Abi Maryam al-Ghassani.<\/p>\n<p>al-Tirmidhi menghukumi hadis ini hasan dan al-Hakim menghukuminya sahih mengikuti syarat al-Bukhari. Namun al-Dhahabi menolaknya dengan mengingatkan bahwa Abu Bakar adalah perawi yang wahin (sangat da\u2019if). al-Suyuti juga menghukuminya sahih, namun ditolak oleh al-Munawi dengan mengutip perkataan al-Dhahabi di atas dan pendapat Ibn Tahir bahwa riwayat\/sanad hadis ini berpusat pada Ibn Abi Maryam, dan ia sangat da\u2019if.850 Dalam biografi Abu Bakar Ibn Abi Maryam ditemukan bahwa Ahmad dan beberapa ulama lainnya men-da\u2019if-kannya. Ibn Hibban mengatakan bahwa hafalannya buruk, maka tidak boleh ber-hujjah dengannya jika ia menyendiri (radi\u2019 al-hifd la yuhtajj bih idha infarad). Ibn \u2018Adiy mengatakan bahwa hadis- hadisnya baik, akan tetapi tidak dapat dijadikan hujjah (ahadithuh salihah lakin la yuhtajj bih). Ibn Hajar memberikan penjelasan kenapa beliau disifati da\u2019if, yaitu karena rumahnya (kitab- kitabnya) dicuri, sehingga mengakibatkan ia mukhtalit. Padahal sebelum ini, seperti yang dikatakan Ahmad, ia merupakan salah seorang sumber ilmu (wa kana ahad aw\u2018iyah al-\u2018ilm). Jadi jelaslah bahwa hafalan beliau yang menyebabkan riwayatnya menjadi da\u2019if meskipun pribadinya seorang ulama yang jujur.851 Jadi sanad hadis ini da\u2019if. hadis ini mempunyai shahid yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dari Anas melalui \u2018Awn bin \u2018Ammarah dengan lafal<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0627\u0644\u0643\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0639\u0645\u0644 \u0644\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f \u0627\u0644\u0645\u0648\u062a\u060c \u0648 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0631\u064a \u0627\u0644\u0639\u0627\u0631\u064a \u0645\u0646 \u0627\u0644\u062f\u0646\u064a\u0627\u060c \u0627\u0644\u0644\u0647\u0645 \u0644\u0627 \u0639\u064a\u0634 \u0625\u0644\u0627 \u0639\u064a\u0634 \u0627\u0644\u0622\u062e\u0631\u0629<\/p>\n<p>Akan tetapi \u2018Awn da\u2019if menurut al-Bayhaqi dan Abu Dawud dan menurut al-Bukhari yu\u2018raf yankir. Sedangkan menurut Abu Hatim da\u2019if dan munkar al-hadith?852\u00a0Jadi shahid inipun da\u2019if, sehingga belum dapat menaikkan hadis asal yang da\u2019if menjadi hasan.<\/p>\n<p>Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa al-Hakim menyebutkan hadis ini pada dua tempat dan menghukuminya sahih. al-Dhahabi pada kali pertama hadis ini disebutkan, menolak hadis ini dihukumi sahih. Namun pada kali kedua beliau diam. Kenyataan ini benar, namun menurut Penulis diamnya al-Dhahabi pada kali kedua disebutkannya hadis ini bukan berarti beliau menyetujui pendapat al-Hakim, akan tetapi karena sanad hadis pertama dan hadis ke dua adalah sama, maka al-Dhahabi merasa cukup untuk memberikan pendapatnya di kali pertama saja.853 Jadi hadis ini tetap da\u2019if menurut al-Dhahabi.<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>849 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab Sifah al-Qiyamah, Bab (tanpa judul no 25), h.n. 2461; al-Nasa\u2019i, Sunan, Kitab Sifah al-Qiyamah, Bab (tanpa judul, no. 25), h.n. 2459; Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Zuhd, Bab Dhikr al-Mawt wa al-Isti\u2019dad lah, h.n. 4260; Ahmad, Musnad, jil. 4, hlm. 124; Ahmad, al-Zuhd, hlm. 66, h.n. 206; al-Hakim, al- Mustadrak, Kitab al-Iman, Bab al-Kayyis Man Dana Nafsuh wa \u2018Amil Lima Ba\u2018d al-Mawt, jil. 1, hlm. 57; al- Tabarani, al-Mu\u2019jam al-Kabir, jil. 7, hlm. 284, h.n. 7143; al-Tabarani, al-Mu\u2019jam al-Saghir, hlm. 316, h.n. 849; Sulayman bin Ahmad bin Ayyub al-Tabarani, Musnad al-Shamiyyin, Tah. Hamdi \u2018Abd al-Majid al-Salafi, Mu\u2019assasah al-Risalah, Bayrut, 1989, jil. 1, h.n. 463, dan jil. 2, h.n. 7143; al-Bayhaqi, Shu\u2019ab al-Iman, jil. 7, hlm. 350, 111, 1046; Abu Nu\u2019aym, Hilyah al-Awliya\u2019, jil. 1, hlm. 267, dan jil. 8, hlm. 174; al-Khatib, Tarikh Baghdad, jil. 12, hlm. 50; al-Quda\u2019i, Musnad, jil. 1, hlm. 140, h.n. 185; \u2018Abd Allah bin Muhammad bin \u2018Ubayd @ Ibn Abi al- Dunya, Muhasabah al-Nafs, Tah. Majdi al-Sayyid Ibrahim, Maktabah al-Qur\u2019an, al-Qahirah, t.th., hlm. 28, h.n. 1.<\/li>\n<li>850 al-Dhahabi, al-Talkhis, jil, 1, hlm. 57; al-Suyuti, al-Jami\u2019 al-Saghir, jil. 2, hlm. 256; al- Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 5, hlm. 67-68.<\/li>\n<li>851 al-Dhahabi, Mizan al-I\u2019tidal, jil. 4, hlm. 497-498; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 623.<\/li>\n<li>852 al-Bayhaqi, Shu\u2019ab al-Iman, jil. 7, hlm. 350, h.n. 1045; lihat biografi \u2018Awn bin \u2018Ammarah dalam al- Dhahabi, Mizan al-I\u2019tidal, jil. 3, hlm. 306.<\/li>\n<li>853 al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab al-Iman, Bab al-Kayyis Man Dana Nafsuh wa \u2018Amil Lima Ba\u2018d al- Mawt, jil. 1, hlm. 57 dan lihat jil. 4, hlm. 325; al-Dhahabi, al-Talkhis, jil. 1, hlm. 57 dan jil. 4, hlm. 325. Lihat juga pembahasan Hadis ini dalam al-Suyuti, al-Durar al-Muntathirah, hlm. 343, h.n. 330; al-Zarkashi, al-Tadhkirah, hlm. 139; al-\u2018Ajluni, Kashf al-Khafa\u2019, jil. 2, hlm. 136, h.n. 2029; al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 229-230, h.n. 850.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u0627\u0644\u0643\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u062f\u0627\u0646 \u0646\u0641\u0633\u0647 \u0648\u0639\u0645\u0644 \u0644\u0645\u0627 \u0628\u0639\u062f \u0627\u0644\u0645\u0648\u062a\u060c \u0648\u0627\u0644\u0623\u062d\u0645\u0642 \u0645\u0646 \u0627\u062a\u0628\u0639 \u0647\u0648\u0627\u0647\u0627 \u0648\u062a\u0645\u0646\u0649 \u0639\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0645\u0627\u0646\u064a. \u201cOrang yang cerdik (yang berakal lagi cerdas), ialah orang yang menundukkan nafsunya (mengalahkannya), dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedang orang bodoh adalah orang yang menuruti keinginannya dan mengangankan terhadap Allah bermacam angan-angan, (bahwa Dia akan memberikan kenikmatan di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[805],"tags":[],"class_list":["post-836","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hadis-360"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=836"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":837,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/836\/revisions\/837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}