{"id":608,"date":"2025-03-11T07:20:27","date_gmt":"2025-03-11T07:20:27","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/hadis-213\/"},"modified":"2025-03-11T07:20:27","modified_gmt":"2025-03-11T07:20:27","slug":"hadis-213","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/hadis-213\/","title":{"rendered":"Hadis 213"},"content":{"rendered":"<p dir=\"rtl\">\u0645\u0646 \u062a\u0645\u0633\u0643 \u0628\u0633\u0646\u062a\u064a \u0639\u0646\u062f \u0641\u0633\u0627\u062f \u0623\u0645\u062a\u064a \u0641\u0625\u0646\u0647 \u0623\u062c\u0631 \u0645\u0627\u0626\u0629 \u0634\u0647\u064a\u062f.\n<\/p>\n<p>\u201cSiapa berpegang teguh pada sunnahku di kala umatku rusak, maka ia memperoleh pahala setara seratus orang mati shahid.\u201d<\/p>\n<p><strong>Takhrij Hadis:<\/strong><\/p>\n<p>Hadis dengan lafal ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Zuhd dan Ibn \u2018Adiy melalui Hasan bin Qutaybah. Seperti yang dijelaskan oleh al-Mundhiri, al-Tabarani dalam al-Awsat dan<\/p>\n<p>Abu Nu\u2019aym, meriwayatkannya melalui jalur berbeda dari Abu Hurayrah, tetapi tanpa kata-kata<\/p>\n<p>\u0645\u0625\u0626\u0629. Lafalnya adalah \u0634\u0647\u064a\u062f \u0627\u062c\u0631 \u0641\u0644\u0647.523<\/p>\n<p><strong>Hukum Hadis:<\/strong> Sangat Da\u2019if.<\/p>\n<p>Sanad al-Bayhaqi dan Ibn \u2018Adiy sangat da\u2019if. Hasan bin Qutaybah, menurut Ibn \u2018Adiy, tidak terlalu bermasalah (arju annahu la ba\u2019sa bih). Tetapi al-Dhahabi menolak pendapat ini dengan mengingatkan bahwa ia binasa (halik). Menurut al-Daraqutni, hadisnya ditinggalkan (matruk al-hadith). Abu Hatim berpendapat ia da\u2019if. al-\u2018Uqayli berkata, \u201cIa banyak salah duga (kathir al-awham)\u201d.<\/p>\n<p>Dalam sanad al-Tabarani dan Abu Nu\u2019aym yang meriwayatkannya dari al-Tabarani, terdapat \u2018Abd al-\u2018Aziz bin Abi Ruwwad dan Mahmud bin Salih. \u2018Abd al \u2018Aziz menurut pendapat Abu Hatim adalah saduq (tepercaya). Ahmad berkata, ia salih al-hadith. Tetapi ia dituduh sesat dalam akidah, karena mengikuti paham Murji\u2019ah. Ibn Hibban mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari Nafi\u2018 dari Ibn \u2018Umar naskah yang palsu. Namun hadis-hadisnya boleh diuji (yu\u2019tabar minh). Sedangkan Mahmud bin Salih al-Haythami mengatakan bahwa ia tidak menemukan biografinya. Karena itu, riwayat ini tidak dapat menguatkan riwayat al-Bayhaqi. Selain itu, ada perbedaan yang jelas dalam bilangan pahala yang dijanjikan. Dari sisi teks, al- Mundhiri men-da\u2019if-kan hadis ini. al-Albani menghukumi hadis ini sangat da\u2019if.524 Penulis menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa hadis ini sangat da\u2019if dengan sebab seperti yang telah dijelaskan di atas.<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>523 Ahmad bin Husayn bin \u2018Ali al-Bayhaqi, al-Zuhd al-Kabir, Tah. \u2018Amir Ahmad Haydar, Muassasah al- Kutub al-Thaqafiyyah, Bayrut, 1933, hlm.151, h.n. 209; Ibn \u2018Adiy, al-Kamil, jil. 2, hlm 739; Abu Nu\u2019aym, Hilyah al-Awliya\u2019, jil. 8, hlm. 200; al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 1, hlm. 80.<\/li>\n<li>524 al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 1, hlm. 80; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 1, hlm. 80; al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Da\u2019ifah, jil. 1, hlm. 33, h.n. 326; lihat boigrafi \u2018Abd \u2018Aziz bin Abi Ruwwad dalam al-Dhahabi, Mizan al-I\u2019tidal, jil. 2, hlm. 628-629; dan biografi Muhammad bin Salih dalam al-Dhahabi, Mizan al-I\u2019tidal, jil. 1, hlm.518-519.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u0645\u0646 \u062a\u0645\u0633\u0643 \u0628\u0633\u0646\u062a\u064a \u0639\u0646\u062f \u0641\u0633\u0627\u062f \u0623\u0645\u062a\u064a \u0641\u0625\u0646\u0647 \u0623\u062c\u0631 \u0645\u0627\u0626\u0629 \u0634\u0647\u064a\u062f. \u201cSiapa berpegang teguh pada sunnahku di kala umatku rusak, maka ia memperoleh pahala setara seratus orang mati shahid.\u201d Takhrij Hadis: Hadis dengan lafal ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Zuhd dan Ibn \u2018Adiy melalui Hasan bin Qutaybah. Seperti yang dijelaskan oleh al-Mundhiri, al-Tabarani dalam al-Awsat dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[607],"tags":[],"class_list":["post-608","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hadis-213"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/608","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=608"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/608\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=608"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=608"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=608"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}