{"id":54,"date":"2025-03-06T09:04:25","date_gmt":"2025-03-06T09:04:25","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/1-sumber-rujukan-dalam-tafsir\/"},"modified":"2025-03-06T09:04:25","modified_gmt":"2025-03-06T09:04:25","slug":"1-sumber-rujukan-dalam-tafsir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/1-sumber-rujukan-dalam-tafsir\/","title":{"rendered":"1.Sumber Rujukan dalam Tafsir"},"content":{"rendered":"<p>Ada beberapa kitab tafsir yang dijadikan rujukan oleh pengarang kitab <em>D.N. <\/em>, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta\u2019wil atau lebih dikenal dengan Tafsir al-Baydawi yang ditulis oleh Imam al-Baydawi, yang nama lengkapnya adalah Nasr al-Din \u2018Abdullah bin \u2018Umar al-Baydawi al-Shayrazi al-Shafi\u2019i (692 H.). Tafsir ini merupakan referensi utama yang dipakai kitab D.N. dalam menafsirkan ayat-ayat yang dikutip. Ini merupakan kitab tafsir yang sangat terkenal, yang telah dicetak berulang kali, diringkas, dan di-Sharh oleh beberapa ulama kenamaan seperti al-Shihab al-Khafaji (1069 H.), Shaykh Zadah (950 H.), yang keduanya juga dijadikan rujukan oleh al-Khubawi. hadis-hadis yang terdapat dalam kitab tafsir ini telah di-takhrij oleh \u2018Abd. al-Ra\u2019uf al-Munawi (1031 H.) dalam kitab yang berjudul al-Fath al-Samawi fi Takhrij Ahadith Tafsir al-Baydawi. Dalam kitab D.N. ini, al- Khubawi sering menulisnya dengan sebutan Qadi Baydawi atau Qadi saja.<\/li>\n<li>al-Kashshaf \u2018an Haqa\u2019iq Ghawamid al-Tanzil wa \u2018Uyun al-Ta\u2019wil fi Wujuh al-Ta\u2019wil atau yang lebih terkenal dengan sebutan Tafsir al-Kashshaf dan Tafsir al-Zamakhshari yang ditulis oleh Imam Mahmud bin \u2018Umar al-Zamakhshari (528 H.). Tafsir ini sangat terkenal dan telah berulang kali naik cetak. hadis-hadisnya juga telah di-takhrij oleh Ibn Hajar dalam kitab al-Kafi al-Shaf fi Takhrij Ahadith al-Kashshaf. Tafsir ini menjadi referensi kedua yang dipakai ketika ia menafsirkan ayat-ayat al-Qur\u2019an di dalam kitab D.N.. Dalam kitab D.N., tafsir ini sering disingkat dengan al-Kashshaf.<\/li>\n<li>Lubab al-Ta\u2019wil fi Ma\u2019ani al-Tanzil atau dikenal dengan sebutan Tafsir al-Khazin yang ditulis oleh \u2018Ala\u2019 al-Din \u2018Ali bin Muhammad al-Baghdadi yang lebih dikenal dengan sebutan al-Khazin (725 H.). Ini termasuk kitab tafsir yang cukup terkenal dan telah dicetak beberapa kali oleh percetakan terkenal seperti Dar al-Fikr, Bayrut. Dalam kitab D.N., tafsir ini sering disingkat dengan al-Lubab atau al-Khazin saja.<\/li>\n<li>Irshad al-\u2018Aql al-Salim ila Mazaya al-Qur\u2019an al-Karim atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Abi Sa\u2019ud. Kitab tafsir ini ditulis oleh al-Qadi Abu al-Sa\u2019ud Muhammad bin Muhammad al-\u2018Imad (951 H.). Tafsir yang cukup terkenal ini telah dicetak beberapa kali. Dalam kitab D.N., tafsir ini sering disingkat dengan Tafsir Abu Sa\u2019ud saja.<\/li>\n<li>Madarik al-Tanzil wa al-Haqa\u2019iq al-Ta\u2019wil atau yang terkenal dengan sebutan Tafsir al- Nasafi, yang ditulis oleh Imam al-Nasafi \u2018Abd Allah bin Ahmad (701 H.). Tafsir ini sangat terkenal dan diklasifikasikan sebagai tafsir dengan hadis ma\u2019thur.<\/li>\n<li>Ma\u2019alim al-Tanzil atau yang terkenal dengan sebutan Tafsir al-Baghawi, yang ditulis oleh Husayn bin Mas\u2019ud al-Farra\u2019 al-Baghawi (516 H.). Tafsir ini cukup terkenal dan dapat dikategorikan sebagai tafsir dengan hadis ma\u2019thur. Dalam kitab D.N., tafsir ini sering disebut dengan Ma\u2019alim saja.<\/li>\n<li>1)\u2018Inayah al-Qadi wa Kifayah al-Radi \u2018ala Tafsir al-Baydawi atau lebih terkenal dengan sebutan Hashiyah al-Shihab. Kitab tafsir ini ditulis oleh al-Shihab al-Khafaji Ahmad bin Muhammad (1069 H.). Dalam kitab D.N., tafsir ini sering disebut dengan Shihab saja atau Hashiyah Shihab. Kitab ini dicetak bersama kitab Tafsir al-Baydawi.<\/li>\n<li>Hashiyah Shaykh Zadah \u2018ala Tafsir al-Baydawi, yang ditulis oleh Muslih al-Din Muhammad bin Mustafa al-Tujawi al-Hanafi yang lebih terkenal dengan julukan Shaykh Zadah (950 H.). Kitab ini dicetak empat jilid. Dalam kitab D.N., al-Khubawi sering menyebutnya dengan sebutan Shaykh Zadah saja.<\/li>\n<li>Ruh al-Bayan yang ditulis oleh Isma\u2019il Haqqi al-Barusawi (1137 H.). Tafsir ini telah dicetak dalam volume sebanyak 10 jilid oleh Penerbit Dar al-Fikr. Dalam kitab D.N., al- Khubawi sering menyebutnya dengan sebutan Tafsir Haqqi saja.<\/li>\n<li>Tafsir al-Qur\u2019an al-Karim, yang ditulis oleh Abu Sa\u2019id al-Hanafi. Tafsir ini masih belum dicetak untuk publik, dan manuskripnya masih tersimpan rapi di Perpustakaan al-Asad Shiria dengan nomor panggil 627 dan 7500. Dalam kitab D.N., al-Khubawi sering menyebutnya dengan sebutan Tafsir Hanafi. al-Khubawi sering mengutip hadis-hadis fadilah dari kitab tafsir ini. Sayangnya, hadis-hadis yang ada dalam kitab tafsir ini, baik yang dikutip oleh al-Khubawi maupun yang tidak dikutip, banyak yang bersifat gharib dan sukar ditemukan padanannya dalam kitab-kitab hadis terkenal dan kredibel, bahkan hadis- hadis tersebut mempunyai ciri-ciri hadis palsu.<\/li>\n<li>al-Tafsir al-Kabir atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir al-Fakhr al-Razi, yang ditulis oleh Imam Fakhr al-Din Abu Bakr al-Razi. (606 H) Kitab tafsir ini termasuk kitab yang cukup terkenal, tetapi al-Khubawi jarang mengutip dari kitab tafsir yang telah dicetak berulang kali ini.<\/li>\n<li>Bahr al-\u2018Ulum atau yang lebih terkenal dengan sebutan Tafsir al-Samarqandi, yang ditulis oleh Abu Layth Nasr bin Muhammad bin Ahmad al-Samarqandi (860 H.). Kitab ini dicetak dalam tiga jilid.<\/li>\n<li>Tafsir al-Fatihah. al-Khubawi beberapa kali mengutip dari kitab tafsir ini, tetapi Penulis tidak dapat memastikan tafsir ini ditulis oleh siapa, karena ada beberapa kitab tafsir yang berjudul Tafsir al-Fatihah yang disebutkan oleh Haji Khalifah dalam Kashf al-Zunun dan Isma\u2019il Basha dalam Idah al-Maknun. Dari beberapa manuskrip kitab Tafsir al-Fatihah yang Penulis telusuri, Penulis tidak menemukan kutipan-kutipan tersebut dari manuskrip- manuskrip yang ada.<\/li>\n<li>al-Kashf wa al-Bayan fi Tafsir al-Qur\u2019an atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir al- Tha\u2019labi yang ditulis oleh Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tha\u2019labi (427 H.).25 Dalam kitab D.N., al-Khubawi sering menyebutnya dengan sebutan Tafsir Tha\u2019labi. Kitab ini telah dicetak dalam empat jilid.<\/li>\n<li>al-Taysir fi al-Tafsir, yang ditulis oleh Najm al-Din Abu Hafs \u2018Umar bin Muhammad al- Nasafi al-Hanafi (537 H.).26 Dalam kitab D.N., al-Khubawi sering menyebutnya dengan sebutan Tafsir Taysir.<\/li>\n<li>Tafsir al-\u2018Uyun. Penulis belum dapat memastikan yang dimaksud dengan kitab tafsir ini. Kemungkinannya adalah al-\u2018Uyun fi Ta\u2019wil al-Qur\u2019an yang ditulis oleh Abu al-Hasan \u2018Ali bin Muhammad al-Basri al-Mawardi (450 H.).27 Dalam kitab D.N. sering disingkat al- \u2018Uyun.<\/li>\n<li>Tafsir Abi al-Layth, yang ditulis oleh Abu al-Layth Nasr bin Muhammad bin Ibrahim al- Samarqandi yang dikenal dengan julukan Imam al-Huda (393 H.).28 al-Khubawi selalu mengutip dengan menyingkat nama tafsirnya dengan sebutan Abu al-Layth.<\/li>\n<li>al-Basa\u2019ir fi al-Tafsir, yang lebih dikenal dengan nama Tafsir al-Nisaburi. Tafsir ini ditulis dalam Bahasa Persia oleh al-Shaykh Zahir al-Din Abu Ja\u2019far Muhammad bin Mahmud al- Nisaburi (599 H.).29 Dalam kitab D.N. tafsir ini sering disebut al-Nisaburi saja.<\/li>\n<li>al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma\u2019thur yang ditulis oleh Imam Jalal al-Din \u2018Abd al- Rahman bin Abi Bakr al-Suyuti (911 H.). Tafsir ini sangat terkenal dan telah dicetak berkali-kali. Dalam kitab D.N. tafsir ini disebut dengan al-Durr al-Manthur atau al-Durr al- Manthur li al-Suyuti.<\/li>\n<li>al-Wasit fi Mukhtasar al-Muhit atau dikenal juga dengan nama Tafsir al-Wasit. Kitab tafsir ini ditulis oleh Badr al-Din Muhammad bin Shihab al-Din Ahmad bin Musa al-\u2018Ayni al-Hanafi (855 H.).30 Tafsir ini merupakan ringkasan dari kitab tafsir al-Bahr al-Muhit karya Ibn Hayyan. Dalam kitab D.N. tafsir ini ditulis dengan sebutan Tafsir Wasit.<\/li>\n<li>al-Jami\u2019 li AHkam al-Qur\u2019an atau lebih terkenal dengan sebutan Tafsir al-Qurtubi, yang ditulis oleh al-Imam Abu \u2018Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Ansari al-Qurtubi (671 H.). Tafsir ini sangat terkenal dan sudah mengalami cetak ulang berkali-kali.<\/li>\n<li>\u00a0Himayah min Yasin. Kitab ini belum diketahui penulisnya. Haji Khalifah dan Isma\u2019il Basha tidak menyebutkan kitab ini.<\/li>\n<\/ol>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>25 Mustafa bin \u2018Abd Allah Haji Khalifah, Kashf al-Zunun \u2018an Asami al-Kutub wa al-Funun, al-Maktabah al-Islamiyyah, Tahran, 1977, jil. 1, hlm. 444 dan jil. 2, hlm. 1496.<\/li>\n<li>26 Ibid., jil. 1, hlm. 460 dan 519.<\/li>\n<li>27 Haji Khalifah, Kashf al-Zunun, jil. 2, hlm. 1888.<\/li>\n<li>28 Ibid., jil. 1, hlm. 441; Kahhalah, Mu\u2019jam, jil. 13, hlm. 91.<\/li>\n<li>29 Haji Khalifah, Kashf al-Zunun, jil. 1, hlm. 246 dan 460; Kahhalah, Mu\u2019jam, jil. 12, hlm. 7.<\/li>\n<li>30 Isma\u2019il Basha, Idah al-Maknun, jil. 2, hlm, 705 dan Hidayah al-\u2018Arifin, jil. 2, hlm. 421.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa kitab tafsir yang dijadikan rujukan oleh pengarang kitab D.N. , di antaranya: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta\u2019wil atau lebih dikenal dengan Tafsir al-Baydawi yang ditulis oleh Imam al-Baydawi, yang nama lengkapnya adalah Nasr al-Din \u2018Abdullah bin \u2018Umar al-Baydawi al-Shayrazi al-Shafi\u2019i (692 H.). Tafsir ini merupakan referensi utama yang dipakai kitab D.N. dalam menafsirkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-54","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sumber-rujukan-dalam-tafsir"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/durratun-nasihin\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}