أن النيب صلى هللا عليه وسلم كان جالسا على ابب املدينة إذ مرت جنازة رجل. فقال صلى هللا عليه وسلم: هل عليه دين؟
فقالوا: عليه دين أربعة دراهم ومات ومل يؤدها. فقال صلى هللا عليه وسلم: صلوا فإين ال أصلي على من كان عليه دين ومات ومل
يؤده. فنزل جربائيل عليه السال م فقال: اي حممد إن هللا يقرئك السالم ويقول: بعثت جربائيل بصورته وأدى دينه، قم فصل فإنه
مغفور له، ومن صلى على جنازته غفر هللا له. فقال النيب صلى هللا عليه وسلم: اي جربائيل من أين له هذه الكرامة؟ فقال: بقراءته
كل يوم مائة مرة سورة قل هو هللا أحد، ألن فيها بيان صفات هللا والثناء عليه.
“Bahwasanya Nabi Saw. sedang duduk di pintu kota Madinah. Tiba-tiba lewatlah jenazah seorang
laki-laki. Nabi Saw. bertanya, ‘Masihkah ia punya hutang?’ ‘Ia punya hutang empat dirham. Ia
mati, sedang ia belum sempat membayarnya,’ jawab orang-orang yang membawanya. Nabi Saw.
berkata, ‘Shalatilah olehmu sekalian! Aku takkan menyalati orang mati yang masih berhutang,
sedang ia belum melunasinya.’ Kemudian turunlah Malaikat Jibril a.s. lalu katanya, ‘Wahai
Muhammad, sesungguhnya Allah Ta’ala mengucapkan salam kepadamu, dan berfirman, ‘Aku
telah mengutus Jibril menyerupai orang itu, lalu melunasi hutangnya. Bangkitlah engkau dan
shalatilah, karena orang itu mendapatkan ampunan! Dan siapa menyalati jenazahnya, maka akan
mendapatkan ampunan pula dari Allah.’ Nabi Saw. bertanya, ‘Wahai Jibril, dari manakah ia
mempunyai kemuliaan seperti ini?’ Jibril menjawab, ‘Karena ia tiap hari membaca seratus kali
Surah ‘Qul Huwa Allah ahad.’ Karena di dalam surah itu ada keterangan tentang sifat-sifat Allah
dan pujian terhadap-Nya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini belum dapat ditemukan dalam kitab-kitab rujukan yang ada. Secara teks, alKhubawi menukilnya dari kitab Hadith al-Arba’in. Hanya saja Penulis tidak menemukannya
dalam kitab Hadith al-Arba’in fi Fadl Qul Huwa Allah Ahad karangan al-Arminiyyuni.
Kemungkinannya beliau telah menukilnya dari kitab al-Arba’in yang lain.1918
Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.
Hadis ini dapat dihukumi palsu dengan beberapa sebab. Pertama, hadis ini belum dapat
ditemukan di semua kitab yang ada. Kedua, makna hadis ini kontradiktif dengan hukum fikih
yang berlaku, yaitu hutang mesti dibayar. Ia menjadi urusan manusia dengan manusia. Nabi
Muhammad Saw. sendiri ketika meninggal, sehelai baju baginda tergadai pada seorang Yahudi,
tetapi tidak ada malaikat yang membayarkan gadaian baginya. Ketiga, urusan manusia
diselesaikan antara manusia. Piutang termasuk urusan manusia. Jadi, kandungan hadis ini
kontradiktif dengan hukum shariat. Kalau ingin dikatakan perkara ini sebagai karamah sahabat
tersebut, kenapa nama sahabat ini tidak disebutkan? Hal ini menimbulkan keraguan. Kemudian,
jika ceritanya betul terjadi, tentu akan banyak yang meriwayatkannya, sedangkan pernyataan
yang ada, tidak ada satu sanad pun yang ditemukan. Jadi jelas sekali kepalsuan hadis ini.
- 1918 al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 314.