Hadis 791


روي عن النيب صلى هللا عليه وسلمأنه ذكر إسرائيليا لبس السالح وغزى يف سبيل هللا ألف شهر، فتعجب املؤمنون وتقاصرت
إليهم أعماهلم، فأعطوا ليلة هي خري من مدة ذلك الغازي.

“Diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwa beliau pernah menceritakan seorang Isra’il yang
mengenakan senjata dan berperang di jalan Allah selama seribu bulan. Maka orang-orang mukmin
terheran-heran dan merasa terlalu kecil amal perbuatan mereka. Lalu mereka diberi suatu malam
yang lebih baik dari pada masa yang ditempuh oleh pahlawan tadi.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini seperti yang juga dikutip oleh Ibn Hajar, kemudian ditambahkan oleh al-Suyuti,
telah diriwayatkan oleh al-Wahidi dalam Asbab al-Nuzul, al-Bayhaqi dalam al-Sunan, Ibn alMundhir dan Ibn Abi Hatim. Semuanya melalui Muslim bin Khalid al-Zanji dari Ibn Abi Najih
dari Mujahid secara mursal. Semuanya dengan redaksi tanpa kata-kata,

 وتقاصرت إليهم أعماهلم…1847

al-Tabari meriwayatkannya dari Muhammad bin Humayd dari Hakkam bin Muslim dari
al-Muthanna bin al-Sabbah dari Mujahid secara maqtu sebagai perkataan beliau.1848

Hukum Hadis: Da’if.

Dalam riwayat yang mursal terdapat Muslim bin Khalid al-Zanji. Beliau menurut Ibn
Ma’in thiqah dan dalam pendapatnya yang lain da’if. Menurut pendapat Abu Hatim ia tidak bisa
dijadikan hujjah. al-Bukhari berkata munkar al-hadith. Abu Dawud menilainya da’if. Ibn Hajar
menyimpulkannya faqih, saduq, banyak kesalahan (kathir al-awham).1849 Jadi hadis ini da’if

Sedangkan riwayat yang mawquf, sekalipun ia mempunyai hukum marfu’, akan tetapi
pada sanadnya terdapat dua perawi yang dikritik. Pertama, Muhammad bin Humayd al-Razi.
Beliau menurut al-Bukhari perawi yang perlu diteliti (fih nazar). Menurut pendapat Ya’qub bin
Shaybah banyak meriwayatkan hadis munkar (kathir al-manakir). Abu Zur’ah menuduhnya
sebagai pendusta (kadhdhab). Ibn Hajar menilainya hafiz-da’if. Ibn Ma’in menilai bagus
terhadapnya (hasan al-ra’y fih). Kedua, al-Muthanna bin al-Sabbah. Beliau menurut Ahmad tidak
ada hadisnya satupun yang sama dengan perawi thiqah (la yusawi hadithuh shay’an). al-Qattan
berpendapat ditinggalkan, karena ia pikun. al-Nasa’i menilainya matruk (ditinggalkan). Ibn
Ma’in berkata secara pribadi ia seorang yang saleh (salih). Ibn Hajar menyimpulkannya sebagai
da’if yang mengalami pikun di akhir hayat dan ia sosok ahli ibadah.1850 Jadi sanad hadis ini pun
da’if. Maka hadis ini secara keseluruhannya dapat dihukumi da’if.


  • 1847 al-Wahidi, Asbab Nuzul al-Qur’an, hlm. 495; Bayhaqi, Sunan, Kitab al-Siyam, Bab Fadl Laylah al-Qadr; Ibn Hajar, al-Kafi al-Shaff, hlm. 186, h.n. 346; ‘Abd al-Rahman bin Abu Bakar al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Sunt. Ahmad ‘Abd al-Shafi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, t.th., hlm. 215; al-Suyuti, al-Durr alManthur, jil. 6, hlm. 629; al-Munawi, al-Fath al-Samawi, jil. 3, hlm. 1111, h.n. 1017.
  • 1848 al-Tabari, Tafsir, jil. 30, hlm. 259-260.
  • 1849 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 102-103; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 529.
  • 1850 Lih. biografi Muhammad bin Humayd dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 530; Ibn Hajar,
    Taqrib al-Tahdhib, hlm. 475; biografi al-Muthanna dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 435; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 519.