يسلط على أهل النار اجلوع، وعذاب اجلوع يكون عليهم أشد من سائر العذاب فيبكون ويطلبون الطعام، فتطعمهم الزابنية
ضريعا- وهو حشيش يف الربية إذا أكله اجلمل يقف يف حلقومه فيموت.- فإذا أكل أهل النار ذلك الضريع يقف يف حلقومهم
فيطلبون ماء، فيؤتون مبشربة من ماء محيم إذا قربوا املشربة إىل أفواههم تقع حلوم وجوههم على املشربة من شـدة حرارة ذلك
املاء، فإذا شربوا قطعت أمعاؤهم يف بطوهنم فينظرون ويتضرعون إىل الزابنية، فتقول الزابنية هلم: أمل أيتكم نذير يف الدنيا؟ فيقولون:
بلى، ولكن مل نسمع كالم الرسول ومل نصدقهم. فتقول الزابنية: اآلن ال يفيدكم اجلزع والتضرع، مث يتضرعون إىل مالك فال جييبهم إىل ألف سنة، فإذا مت األلف يقول مالك هلم: [إنكم ماكثون]1769فيها، مث يتضرعون إىل هللا تعاىل ويقولون: [ربنا غلبت علينا شقوتنا] اليت كتبت علينا فلم هنتد [وكنا قوما ضالني] عن اهلدى [ربنا أخرجنا منها] من النار [فإن عدان ] فعلنا معصية مما تكره [فإان ظاملون ] أي كنا من الظاملني، يعىن ان فعلنا معصية بعد ذلك فـأدخلنا النار وعذبنا بنوع من عذاب جهنم مث أييت اخلطاب من هللا تعاىل بعد ألف سنة [قال: اخسئوا فيها وال تكلمون1770] . إخ
“Penghuni neraka itu dikungkung (diliputi) rasa lapar. Siksaan lapar itu demikian beratnya
mereka rasakan melebihi siksaan-siksaan yang lain. Lalu menangislah mereka minta makanan.
Oleh Malaikat Zabaniyah, mereka diberi makan Dari’, yaitu sejenis rumput di darat yang apabila
termakan oleh unta, maka akan berhenti di kerongkongan, sampai mati. Apabila penghuni neraka
itu memakan rumput berduri itu, rumput itu berhenti di kerongkongan, maka mereka diberi
minum air yang mendidih. Manakala mereka dekatkan minuman itu ke mulut-mulut mereka,
maka rontoklah daging wajah mereka menjatuhi minuman itu, lantaran sangat panasnya air itu.
Dan apabila mereka meminumnya juga, maka putuslah usus-usus di dalam perut mereka. Mereka
memandang dan menghiba-hiba kepada para malaikat Zabaniyah. Maka malaikat-malaikat itu
mengatakan kepada mereka, “Tidakkah telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan di
dunia?” Penghuni neraka itu menjawab, “Benar! Tetapi kami tidak mendengarkan perkataan para
rasul itu dan tiada membenarkan mereka.” Maka kata para malaikat Zabaniyah pula, “Sekarang
sesal dan merendahkan diri tidak berguna lagi bagimu.” Kemudian mereka menghiba-hiba kepada
malaikat Malik, tetapi Malik tidak sudi menjawab mereka sampai seribu tahun. Maka apabila
telah genap seribu tahun, berkatalah malaikat Malik kepada mereka, “(Kamu akan tetap) tinggal
di neraka ini.” Akhirnya mereka menghiba-hiba kepada Allah, seraya berkata, “(Ya Tuhan kami,
kami telah dikuasai oleh kejahatan kami) yang telah ditetapkan atas kami, maka kami tidak
mengikuti petunjuk, (dan kami adalah orang-orang yang sesat) dari petunjuk (Ya Tuhan kami,
keluarkanlah kami dari padanya), dari neraka. (Maka, jika kami kembali) melakukan kedurhakaan
yang tidak Engkau sukai (maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim), maksudnya
kami tergolong orang-orang yang zalim. Yakni: jika kami melakukan kedurhakaan sesudah itu,
maka masukkanlah kami ke dalam neraka, dan siksalah kami dengan semacam siksa Jahannam.
Kemudian setelah seribu tahun barulah datang jawaban dari Allah Swt. (Allah berfirman,
“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan jangan kamu berbicara dengan Aku)…..
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan secara marfu’ oleh al-Tirmidhi dan al-Bayhaqi dalam al-Ba’th
melalui Qutbah bin ‘Abd al-‘Aziz. Juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Shaybah secara mawquf
melalui Muhammad bin Fudayl. Keduanya (Qutbah dan Muhammad) dari al-A’mash dari Shamar
bin ‘Atiyyah dari Shahr bin Hawshab dari Ummu al-Darda’ dari Abu al-Darda’. Semuanya dengan
redaksi berbeda. Pada riwayat Ibn Abi Shaybah tidak terdapat kata-kata: سنة ألف.
1771 Dalam riwayat yang disebutkan oleh al-Khubawi ini, banyak penyisipan kata yang merupakan tafsir dari
ayat al-Qur’an yang disebutkan.
Hukum Hadis: Da’if
al-Tirmidhi yang menukil pendapat al-Darimi mengatakan bahwa yang kami kenali hadis
ini diriwayatkan secara mawquf sebagai perkataan Abu al-Darda’. Namun Qutbah adalah perawi
yang thiqah menurut ulama hadis. al-Albani menghukumi sanad al-Tirmidhi da’if. Menurut
Penulis, perawi pada sanad al-Tirmidhi adalah thiqat, kecuali Shahr bin Hawshab. Ia menurut
pendapat Ibn Hajar saduq banyak meriwayatkan hadis mursal dan banyak kesalahan (kathir alawham). Karena itu, sanad ini da’if.1772
Sedangkan riwayat Ibn Abi Shaybah, meskipun ia mawquf, namun seperti yang dikatakan
al-Mubarkafuri ia mempunyai hukum marfu’.1773
- 1769 al-Qur’an, al-Zukhruf 43: 77.
- 1770 al-Qur’an, al-Mu’minun 23: 108.
- 1771 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab Sifah Jahannam, Bab Ma Ja’a fi Sifah Ta’am Ahl al-Nar, h.n. 2586; Ibn Abi
Shaybah, al-Musannaf, Kitab Dhikr al-Nar, Bab Ma Dhukir Fima U’idd li Ahl al-Nar wa Shiddatih; al-Bayhaqi, alBa’ath wa al-Nushur, hlm. 291, h.n. 600. - 1772 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab Sifah Jahannam, Bab Ma Ja’a fi Sifah Ta’am Ahl al-Nar, h.n. 2586; al-Albani,Da’if Sunan al-Tirmidhi, hlm. 306, h.n. 307; lih. biografi Shahr bin Hawshab dalam Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib,hlm. 269.
- 1773 al-Mubarkafuri, Tuhfah al-Ahwadhi, jil. 7, hlm. 311-312.