تعوذوا ابهلل من حب احلزن. قيل اي رسول هللا وما حب احلزن؟ قال: واد يف جهنم تتعوذ جهنم منه كل يوم سبعني مرة أعده هللا
تعاىل للقراء املرائني.
“Berlindunglah kamu sekalian kepada Allah dari sumur kesedihan.” Ada yang bertanya, “Ya
Rasulallah, apakah sumur kesedihan itu?” jawab beliau. “(Ialah) sebuah lembah di dalam neraka
Jahannam, yang neraka Jahannam itu sendiri berlindung dari padanya setiap harinya tujuh puluh
kali. Allah telah menyiapkan bagi para pembaca al-Qur’an yang ingin dipuji orang (riya’).”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, Ibn Majah, Ibn ‘Adiy dan Abu al-Shaykh dalam
al-Tawbikh. Semuanya melalui ‘Ammar bin Sayf dari Abu Mu’an atau Abu Mu’az (keduanya
benar) al-Basri dari Ibn Sirin dari Abu Hurayrah dengan redaksi sedikit berbeda. Dalam redaksi
al-Tirmidhi dan مرة مائة sebagai ganti مرة سبعني. Dalam redaksi Ibn Majah dan Abu al-Shaykh أربعمائة
مرة dan redaksi tambahan pada akhirnya dalam riwayat Ibn Majah,
وإن أبغض القراء إىل هللا الذين يزورون األمراء1696
al-‘Uqayli dan Ibn ‘Adiy juga meriwayatkannya melalui Abu Bakar al-Dahiri dari Sufyan
dari Abi Ishaq dari ‘Asim bin Damrah. Redaksinya hampir sama dengan redaksi al-Khubawi yaitu سبعني مرة1697
Hukum Hadis: Da’if.
Hadis ini telah dihukumi palsu oleh Ibn al-Jawzi, karena pada sanad riwayat ‘Asim
terdapat Abu Bakar al-Dahiri. Ia menurut al-‘Uqayli meriwayatkan hadis-hadis yang batil dari
perawi-perawi thiqat. Sedangkan riwayat dari Abu Hurayrah pada sanadnya terdapat ‘Ammar
dan Abu Mu’an. Keduanya ditinggalkan (matrukan) .1698
Pendapat di atas ditolak oleh al-Suyuti dan Ibn ‘Arraq, sebab hadis riwayat dari Abu
Hurayrah telah diriwayatkan oleh al-Tirmidhi melalui jalur yang sama dan beliau
menghukuminya gharib. Sebab lainnya adalah karena hadis ini mempunyai shahid yang
diriwayatkan oleh al-Tabarani dari Ibn ‘Abbas secara marfu’ dengan redaksi awalnya,
إن يف جهنم واداي تستـعيـذ جهـنم من ذلك الوادي يف كل يوم أربعمائة مرة ….1699
Abu Mu’az atau Mu’an, menurut al-‘Uqayli, al-Dhahabi dan Ibn Hajar tidak dikenal
(majhul). Sedangkan ‘Ammar bin Sayf menurut YahyA thiqah. Menurut pendapat Abu Zur’ah
dan Abu Hatim da’if. Ibn Ma’in berkata tidak cacat (lays bi shay’). Abu Dawud menilainya
sebagai pelupa (mughaffalan). Menurut pendapat Ibn ‘Adiy munkar al-Hadith. Ibn Hajar
menyimpulkannya da’if al-Hadith.1700 Jadi sanad ini masih dapat dihukumi da’if.
Sedangkan al-Dahiri, yang namanya adalah Abu Bakar ‘Abd Allah bin Hakim, ia menurut
al-Sa’di pendusta (kadhdhab). Ibn Hibban berkata ia memalsukan hadis dari perawi-perawi
thiqah. Ibn Ma’in mengatakan ia lays bi shay’. Ahmad berpendapat ia meriwayatkan hadis-hadis
munkar dan tidak cacat (lays bi shay’).1701 Jadi sanad ini amat da’if. Sedangkan shahid-nya yang
diriwayatkan oleh al-Tabarani dari Ibn ‘Abbas, menurut al-Haythami, guru dan bapak gurunya
al-Tabarani yaitu Yahya bin ‘Abd Allah bin ‘Abdiwayh, keduanya belum dikenali.1702
Menurut Penulis, meskipun redaksi yang disebutkan oleh al-Khubawi lebih mendekati
redaksi riwayat al-‘Uqayli dan Ibn ‘Adiy ini, dan riwayat ini mawdu’, namun hadis ini dapat
dikuatkan melalui riwayat Abu Hurayrah dan riwayat al-Tabarani di atas, meskipun ia da’if. Jadi
hadis ini masih dapat dihukumi da’if, karena ia masih mempunyai asal.
- 1696 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Zuhd, Bab Ma Ja’a fi al-Riya’ wa al-Sum’ah, h.n. 2383; Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Muqaddimah, Bab al-Intifa’ bi al-‘Ilm wa al-‘Amal Bih, h.n. 256; Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 5, hlm. 571; Abu al-Shaykh, al-Tawbikh, hlm. 78, h.n. 165.
- 1697 al-‘Uqayli, al-Du’afa’, jil. 2, hlm. 242; Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 4, hlm. 139.
- 1698 Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 3, hlm. 263-264.
- 1699 al-Suyuti, al-La’ali, jil. 2, hlm. 462; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 385; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, jil. 12, hlm. 136, h.n. 2803.
- 1700 Lih. biografi Abu Mu’adh dalam al-‘Uqayli, al-Du’afa’, jil. 2, hlm. 242; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil.
4, hlm. 574; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 674; dan lih. juga biografi ‘Ammar bin Sayf dalam Ibn ‘Adiy, alKamil, jil. 5, hlm. 70-71; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 165; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 407. - 1701 Ibn Hibban al-Majruhin, jil. 2, hlm. 21-22; Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 4, hlm. 138-141; al-‘Uqayli, al-Du’afa’,jil. 2, hlm. 242.
- 1702 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 10, hlm. 222.
- 1703 Hlm. 41 dan 249 (45 dan 249).