Hadis 643


إن للشيطان ملة اببن آدم وللملك ملة. فأما ملة الشيطان فإبعاد الشر وتكذيب احلق، وأما ملة امللك فإيعاد اخلري وتصديق احلق.
فمن وجد هذا فليعلم أنه من هللا فليحمد هللا تعاىل، ومن وجد اآلخر فليتعوذ من الشيطان الرجيم

“Sesungguhnya setan itu mempunyai pendekatan kepada anak Adam dan malaikatpun
mempunyai pendekatan. Adapun pendekatan setan ialah dengan mengancamkan keburukan dan
mendustakan kebenaran. Adapun pendekatan malaikat ialah dengan menjanjikan kebaikan dan
membenarkan kebenaran. Siapa mendapatkan yang ini, ketahuilah bahwa itu adalah dari Allah,
maka hendaklah ia memuji-Nya. Dan siapa mendapatkan yang lain, maka hendaknya ia
berlindung dari setan yang terkutuk.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, Ibn Hibban dan al-Nasa’i dalam al-Kabir seperti
yang dikutip oleh al-Mizzi. Semuanya melalui Abu al-Ahwas dari ‘Ata’ bin al-Sa’ib dari Murrah
al-Hamdani dari Ibn Mas’ud secara marfu’ dengan redaksi sedikit berbeda. Dalam semua redaksi,

إيعاد ابلشر وتكذيب ابلشر

Dan

إيعاد ابخلري وتصديق ابحلق

sebagai ganti

إيعاد ابلشر وتكذيب ابحلق

Dan

إيعاد ابخلري وتصديق ابحلق1518

al-Tabari juga meriwayatkannya melalui Ibn ‘Ulayyah, ‘Amru bin al-Qays dan Hammad
bin Salamah. Ketiganya dari ‘Ata’ dari Murrah dari Ibn Mas’ud secara mawquf,sebagai perkataan
beliau.1519

Hukum Hadis: Hasan li-ghayrih.

al-Tirmidhi mengatakan bahwa hadis ini hasan gharib (dalam riwayat lain gharib); “Kami
tidak mengetahuinya secara marfu’, kecuali dari hadis Abi al-Ahwas.1520 al-Albani menghukumi
hadis ini da’if. al-Suyuti menghukuminya sahih. Sedangkan al-Munawi hanya mengutip pendapat
al-Tirmidhi dan mengatakan bahwa perawinya adalah perawi sahih, kecuali ‘Ata’. Muslim tidak
meriwayatkan Hadisnya, kecuali secara mutaba’ah.1521

Masalah pada sanad yang marfu’ itu karena ‘Ata’ pada dasarnya thiqah, namun beliau
pikun/campur baur ingatannya pada masa tuanya (ikhtalata bi akhirah). Sedangkan Abu al-Ahwas
yang nama sebenarnya adalah Sallam bin Sulaym, juga seorang yang thiqah. Akan tetapi beliau
berguru kepada ‘Ata’ setelah ‘Ata’ pikun (sami‘a minh ba‘da al-ikhtilat). Maka riwayat ini
da’if.1522

Akan tetapi, riwayat ini mempunyai shahid yang kuat, seperti dijelaskan oleh al-Arna’ut.
Ia diriwayatkan oleh al-Tabari melalui ‘Abd al-Razzaq dari Ma‘mar dari al-Zuhri dari ‘Ubaydillah
bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Ibn Mas’ud secara mawquf. Menurut al-Arna’ut sanad
ini sahih meskipun mawquf. Akan tetapi ia mempunyai hukum marfu’, karena kandungan
hadisnya termasuk perkara yang tidak dapat dikatakan oleh manusia biasa dan perkara yang tidak
bisa dianalogikan.1523

Menurut Penulis, sanad ini terputus, sebab ‘Ubaydillah bin ‘Abdullah bin ‘Abd Allah bin
Mas’ud, meskipun beliau thiqah, tetapi tidak mendengar secara langsung dari paman bapaknya.
al-Mizzi mengatakan bahwa riwayatnya dari paman bapaknya, yaitu ‘Abdullah bin Mas’ud
adalah mursal. Berarti sanad ini juga da’if.1524 Tapi secara keseluruhan hadis ini masih dapat
dihukumi hasan li-ghayrih, karena riwayat-riwayat yang da’if di atas masih dapat saling
menguatkan.


  • 1518 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Tafsir, Bab Min Surah al-Baqarah, h.n. 2988; al-Mizzi, Tuhfah al-Ashraf,
    jil. 7, hlm. 139; Ibn Hibban, Sahih, Kitab al-Raqa’iq, Bab al-Ad’iyah, h.n. 993; al-Tabari, Tafsir, jil. 3, hlm. 88.
  • 1519 al-Tabari, Tafsir, jil. 3, hlm. 88-89.
  • 1520 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Tafsir, Bab Min Surah al-Baqarah, h.n. 2988; Lih. al-Tabrizi, Mishkah alMasabih, jil. 1, hlm. 28, h.n. 74.
  • 1521 al-Albani, Da’if Sunan al-Tirmidhi, hlm. 360-361, h.n. 572; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 1, hlm. 322;al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 2, hlm. 499-500.
  • 1522 Lihat biografi Abu al-Ahwas dalam al-Razi, al-Jarh wa al-Ta’dil, jil. 4, hlm. 259-260; al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, jil. 11, hlm. 282-285; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 361; biografi ‘Ata’ dalam al-Razi, al-Jarh wa alTa’dil, jil. 6, hlm. 332-334; al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, jil. 20, hlm. 86-94; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 391.
  • 1523 al-Arna’ut dalam tahqiq Sahih Ibn Hibban, jil. 3, hlm. 278-279.
  • 1524 Lihat biografi ‘Ubaydillah bin ‘Abd Allah dalam al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, jil. 19, hlm. 73.