Hadis 629


من أحيا ليلة العيدين وليلة النصف من شعبان مل ميت قلبه حني متوت القلوب.

“Siapa menghidupkan malam dua hari raya dan malam pertengahan bulan Sha’ban, maka hatinya
takkan mati pada saat hati-hati (orang lain) mati.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn al-Jawzi dalam al-‘Ilal melalui ‘Isa bin Ibrahim al-Qurashi
dari Salamah bin Sulayman al-Jazri dari Marwan bin Salim dari Ibn Kardars dari bapaknya secara marfu’ dengan redaksi yang sama, tetapi dalam riwayat ini terdapat kata-kata العيد, sebagai ganti. العيدين1476

Hukum Hadis: Mursal dan sangat da’if.

Ibn al-Jawzi menghukumi hadis ini mawdu’, sebab pada sanadnya terdapat beberapa
perawi yang dikritik yaitu Marwan bin Salim, Salamah dan ‘Isa. Marwan, menurut Ahmad, tidak
thiqah (lays bi thiqah). al-Nasa’i, al-Daraqutni dan al-Azdi berpendapat ia ditinggalkan (matruk).
Salamah, menurut al-Azdi, ia da’if. ‘Isa menurut Yahya tidak cacat (lays bi shay’).1477
al-Bukhari dan al-Nasa’i mengatakan ‘Isa bin Ibrahim al-Hashimi munkar al-hadith. Abu
Hatim dan al-Nasa’i dalam riwayat lain mengatakan ia matruk (ditinggalkan). Sedangkan
Marwan menurut pendapat Ahmad dan beberapa ulama lain tidak thiqah (lays bi thiqah). alBukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata ia munkar al-hadith. Abu ‘Urubah menuduhnya
memalsukan hadis (yada‘ al-hadith). Ibn ‘Adiy menyatakan mayoritas hadisnya tidak
mendapatkan penguat dari perawi thiqah.1478 al-Dhahabi menyebutkan hadis ini dalam al-Mizan
dan mengatakan bahwa hadis ini munkar dan mursal.1479
Perlu ditambahkan di sini bahwa hadis yang dikenali dalam perkara ini adalah dengan
redaksi,

من أحيا ليليت العيدين مل ميت قلبه حني متوت القلوب

“Siapa yang menghidupkan (dengan beribadah) dua malam hari raya (raya puasa dan raya haji),
maka hatinya tidak akan mati ketika hati-hati yang lain mati.”

kata-kata tanpa Yaitu .وليلة النصف من شعبان

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah, al-Asbahani dalam al-Targhib, dan Ibn al-Jawzi
dalam al-‘Ilal. Semuanya melalui Thawr bin Yazid dari Khalid bin Ma‘dan dari Abu Umamah
secara marfu’. al-Tabarani juga meriwayatkannya secara marfu’ dari ‘Ubbadah bin al-Samit al – Shafi’i dan melalui beliau al-Bayhaqi meriwayatkannya dari Abu al-Darda’ secara mawquf
sebagai perkataan beliau. Ibn al-Mubarak meriwayatkannya dalam al-Birr wa al-Silah secara
balaghat.1480 al-Daraqutni seperti yang dikutip oleh Ibn al-Jawzi dan Ibn Hajar mengatakan
bahwa yang benar hadis ini riwayat dari Makhul. Ibn Hajar secara teks menguatkan pendapat
yang mengatakan bahwa hadis ini mawquf. Mawquf adalah jenis hadis da’if.1481


  • 1476 Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 562, h.n. 924.
  • 1477 Ibid.
  • 1478 Lihat biografi ‘Isa dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 308-309; dan biografi Marwan bin
    Salim dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 90-91.
  • 1479 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 308.
  • 1480 Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Siyam, Bab fi Man Qam fi Laylatay al-‘Idayn, h.n. 1782; al-Asbahani, alTarghib, jil. 1, hlm. 248, h.n. 373; Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 562, h.n. 924; Muhammad bin Idris al-Shafi’i, alUmm, Bayrut, Dar al-Fikr, 1983, jil. 1, hlm. 204; al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm. 312-313, h.n. 150; al-Bayhaqi,Ma’rifah al-Sunan wa al-Athar ‘an al-Shafi’i, jil. 3, hlm. 67, h.n. 1958; al-Bayhaqi, al-Sunan, Kitab Salah al-‘Idayn, Bab ‘Ibadah Laylatay al-‘Idayn; ‘Abd Allah bin al-Mubarak, al-Birr wa al-Silah, di akhir kitab Musnad ‘Abd Allah bin al-Mubarak, Tah. Dr. Mustafa ‘Uthman Muhammad, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991, hlm. 135, h.n. 63.
  • 1481 Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 72, h.n. 924; Ibn Hajar, Talhis al-Habir, jil. 2, hlm. 80, h.n. 675.