لو أن دلوا من ذلك الغساق ألقي على الدنيا ألحرق أهل الدنيا كلها.
“Andaikata seember saja dari nanah itu dicurahkan ke dunia, pasti akan terbakarlah penghuni
dunia seluruhnya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan al-Baghawi. Keduanya melalui Rishdin.
Ahmad, Abu Ya’la dan al-Bayhaqi dalam al-Ba‘ath. Semuanya melalui Ibn Lahi’ah. al-Hakim
melalui ‘Amru bin al-Warith. Rishdin, Ibn Lahi’ah dan ‘Amru bin al-Warith meriwayatkannya
dari Darraj dari Abu al-Haytham dari Abu Sa’id dengan kebanyakan redaksinya adalah,
لو أن دلوا من غساق يهراق يف الدنيا ألننت أهل الدنيا1388
Hukum Hadis: Hasan.
al-Tirmidhi mengatakan bahwa hadis ini diketahui sebagai hadis riwayat Rishdin bin
Sa’ad. Kredibilitas Rishdin terdapat kecacatan dari segi hafalannya.
1389 al-‘Iraqi ketika mentakhrij hadis ini dalam al-Mughni hanya mengutip pendapat al-Tirmidhi yang men-da’ifkannya.
1390
Dalam biografi Rishdin ditemukan bahwa Ahmad berkata, tidak ada kecacatan dalam
hadis dari siapapun yang ia riwayatkan dan saya berharap bahwa ia tidak cacat (la ba’sa bih). Ibn
Ma’in berpendapat ia tidak cacat (lays bih ba’s). Abu Zur’ah dan Ibn Hajar hanya menilainya
sebagai da’if. Ibn Yunus berkata, dalam agamanya ia saleh dan meriwayatkan hadis dari orangorang saleh yang pelupa, sehingga ia tersalah dalam meriwayatkan hadis. al-Dhahabi menyatakan
bahwa ia sosok ahli ibadah, saleh, namun buruk hafalannya, sehingga tidak dapat dipegang
periwayatannya.
1391 Jadi sanad hadis ini da’if. Akan tetapi Rishdin tidak menyendiri. Beliau telah
diikuti oleh Ibn Lahi’ah dan ‘Amru bin al-Harith.
Ahmad, Abu Ya’la dan al-Bayhaqi meriwayatkannya tanpa melalui Rishdin, melainkan
melalui Ibn Lahi’ah. Mayoritas ulama berpendapat ia da’if. Akan tetapi Ibn Hajar berkata ia
perawi saduq, namun banyak salah setelah kitab-kitabnya terbakar. Jadi sanad ini da’if.
1392
al-Hakim meriwayatkannya melalui ‘Amru bin al-Harith. Menurut Ibn Ma’in dan Abu
Zur’ah ia thiqah. Abu Hatim berkata, pada masanya ia adalah orang yang paling banyak
hafalannya (ahfaz al-nas). Ibn Hajar menilainya thiqah, hafid dan faqih.
1393 al-Hakim men-sahihkan hadis ini dan al-Dhahabi menyetujuinya. Demikian pula al-Suyuti dan al-Munawi yang mengutip pendapat al-Hakim dan al-Dhahabi.1394
Menurut Penulis, semua riwayat melalui ‘Abd al-‘Aziz bin Abi Rawwad. Yahya
berpendapat ia thiqah. Ahmad menyatakan ia salih al-hadith (Hadisnya bagus). Abu Hatim
menilainya saduq dan ahli ibadah (muta‘abbid). Ibn Hibban berkata, ia meriwayatkan dari Nafi‘ dari Ibnu ‘Umar naskah mawdu’. Ibn Hajar menyimpulkannya saduq dan ahli ibadah. Mungkin ia
juga wahm.1395 Jadi sanad hadis ini hasan. Maka menghukumi hadis ini hasan adalah lebih selamat
dibandingkan menghukuminya sahih
- 1388 al-Tirmidhi, Sahih, Kitab Sifah Jahannam, Bab Ma Ja’a fi Sifah Sharab Ahl al-Nar, h.n. 2584; Ahmad,
Musnad, jil. 3, hlm. 83; al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab al-Ahwal, Bab Law Durib Bimiqma‘in min Hadid Jahannam al-Jabal Lanafatat, jld. 4, hlm. 602; Ibn; Abu Ya’la, Musnad, jil. 2, hlm. 522, h.n. 1381; al-Bayhaqi, al-Ba’ath, hlm.290, h.n. 514; al-Baghawi, Sharh al-Sunnah, Kitab al-Fitan, Bab Sifah al-Nar wa Ahliha, h.n. 4407. - 1389 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab Sifah Jahannam, Bab Ma Ja’a fi Sifah Sharab Ahl al-Nar, h.n. 2584.
- 1390 al-‘Iraqi, al-Mughni, jil. 4, hlm. 660.
- 1391 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 475-483; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 319.
- 1392 Lih. biografi Ibn Lahi’ah dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 49-50; Ibn Hajar, Taqrib alTahdhib, hlm. 209.
- 1393 Lihat biografi ‘Amru bin Harith dalam al-Razi, al-Jarh wa al-Ta’dil, jil. 6, hlm. 225-226; Ibn Hajar, Taqribal-Tahdhib, hlm. 419.
- 1394 al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab al-Ahwal, Bab Law Durib Bimiqma‘in min Hadid Jahannam al-Jabal
Lanafatat, jil. 4, hlm. 602; al-Dhahabi, al-Talkhis, jil. 4, hlm. 602; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 1, hlm. 366-367;al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 5, hlm. 308. - 1395 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 628-629; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 357.