كن عالما أو متعلما أو سامعا ولاتكن رابعا.
“Jadilah kamu orang yang alim, pelajar, atau pendengar. Dan janganlah kamu menjadi orang keempat!”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aym, al-Bazzar, al-Tabarani dalam kitab Mu’jam- nya dan Khatib al-Baghdadi dari Abu Bakarah secara marfu’ dengan lafaz: مستمعا أو متعلما أو عالما اغد فتهلك الخامس ولاتكن محبا أو. hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam Mu’jam al-Kabir dan Ibn ‘Abd al-Barr secara mawquf dari perkataan Ibn Mas’ud dengan lafaz: بين ولاتغد أومتعلما عالما اغد ذلك,
dalam riwayat al-Tabarani ditambah redaksi: تبغضه ولا العلماء فأحب تفعل لم فإن. Ibn ‘Abd al-Barr dan al-‘Uqayli juga meriwayatkannya dari Hasan al-Basri secara maqtu’ sebagai perkataan Ibn Mas’ud dengan lafaz sedikit berbeda. Ibn ‘Abd al-Barr juga meriwayatkannya dari Abu al-Darda’ secara mawquf sebagai perkataan Ibn Mas’ud.199
Hukum Hadis: Da’if.
al-‘Iraqi, seperti yang dikutip oleh al-Zabid, menilai hadis ini dengan riwayat Abu Bakarah sebagai hadis da’if, karena sanad-nya. Tetapi, al-Haythami mengatakan bahwa hadis Abu Bakarah yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Tabarani dalam ketiga Mu’jam-nya, perawi-perawinya thiqah. Dengan kata lain, al-Haythami menguatkan hadis dengan jalur riwayat ini. al-‘Ajluni yang mengutarakan perbedaan pendapat tersebut tidak memutuskan pendapat manakah yang lebih kuat.200
Setelah melihat sanad riwayat Abu Bakarah, pendapat al-‘Iraqi yang menilai hadis ini da’if adalah lebih kuat karena hadis Abu Bakarah semuanya diriwayatkan melalui jalan ‘Ata’ bin Muslim. Menurut Ahmad: hadisnya bertentangan, mengikut pendapat Abu Dawud: ia tidak berarti sama sekali (بشيء هو ليس), Abu Bakar bin Abu Dawud berkata: hadis-hadisnya layyin, tetapi Ibn Ma’in mengatakan bahwa ia thiqah. Tetapi, pen-thiqah-an Ibn Ma’in tidak menguatkan riwayat ‘Ata’, karena pen-da’if-an Ahmad, Abu Dawud dan anaknya adalah dari segi periwayatan hadis. Sedangkan pen-thiqah-an Ibn Ma’in adalah dari segi umumnya. Selain itu, hadis ini juga telah diriwayatkan secara mawquf dan maqtu’ dengan lafaz yang berbeda-beda. Kesimpulannya hadis ini tetap da’if.201
- 199 Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 7, hlm, 237; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 22; Ahmad bin ‘Ali al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Bayrut, t.th, jil. 12, hlm. 294-295; Muhammad bin ‘Amru bin Musa al-Makki al-‘Uqayli, al-Du’afa’ al-Kabir, Tah. ‘Abd al-Mu’ti Amin Qal’aji, Dar al- Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1984, jil. 3, hlm. 28; Ibn ‘Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm, hlm 34-35.
- 200 al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 8, hlm. 73; al-‘Ajluni, Kashf al-Khafa’, jil. 1, hlm. 148, h.n.437; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 22.
- 201 al-‘Ajluni, Kashf al-Khafa’, jil. 1, hlm. 148, h.n. 437; Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, jil. 12, hlm.295; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 22.