Hadis 518


يبعث هللا العباد يوم القيامة مث مييز العلماء فيقول: اي معشر العلماء، إين مل أضع فيكم علمي إال لعلمي بكم، فلم أضع علمي فيكم ألعذبكم، انطلقوا فقد غفرت لكم.

“Allah mengutus para hamba-Nya pada Hari Kiamat, kemudian memisahkan para ulama. FirmanNya, ‘Wahai sekalian para ulama, sesungguhnya Aku tidaklah menaruh ilmu-Ku padamu, kecuali
karena pengetahuan-Ku padamu. Aku tidaklah menaruh ilmu-Ku padamu untuk menyiksa kamu.
Pergilah! Sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu sekalian.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Adiy dan al-Tabarani. Seperti dikutip oleh al-Suyuti,
keduanya dari Abu Musa al-Ash‘ari melalui Talhah bin Zayd dan Musa bin ‘Ubaydah dengan
redaksi yang sama, tetapi tanpa kata-kata العلماء مييز مث dan dengan tambahan pada akhir redaksinya,

ويقول هللا عز وجل: ال حتقروا عبدا آتيته علما فإين مل أحقره حني علمته

Hadis ini juga diriwayatkan dari Wathilah bin al-Asqa’ melalui ‘Uthman bin ‘Abd al-Rahman alQurashi dengan redaksi,

 إذا كان يوم القيامة مجع هللا العلماء فقال: إين مل أستودع حكميت قلوبكم وأان أريد أن أعذبكم، ادخلوا اجلنة1236

Hukum Hadis: Sangat Da’if.

Dalam riwayat Abu Musa terdapat Talhah bin Zayd. al-Bukhari mengatakan ia munkar
al-hadith. al-Nasa’i berpendapat ia hadisnya ditinggalkan. al-Dhahabi menyatakan ia telah dida’if-kan oleh ulama-ulama. Selain itu, terdapat juga Musa bin ‘Ubaydah. Menurut Ibn Hajar, ia
da’if.1237

Riwayat dari Wathilah pada sanadnya terdapat Uthman al-Jumahi. Menurut Abu Hatim
ia tidak bisa dijadikan hujjah (la yuhtajju bih). Ibn ‘Adiy berkata ia munkar al-hadith. Ibn Hajar
menilai periwayatannya tidaklah kuat (lays bi qawiy).1238 hadis ini dihukumi palsu oleh Ibn ‘Adiy,
Ibn al-Jawzi, al-Dhahabi dan Ibn ‘Arraq.1239

al-Suyuti dan al-Shawkani menolak hadis ini dihukumi palsu dengan alasan bahwa Musa
bin ‘Ubaydah adalah perawi Sunan al-Tirmidhi dan Sunan Ibn Majah, serta tidak dituduh sebagai
pendusta. Selain itu, hadis ini telah diriwayatkan melalui jalur lain dari beberapa sahabat,
diantaranya oleh al-Tabarani yang meriwayatkannya dari Tha‘labah bin Hakim dengan redaksi,

يقول هللا عز وجل للعلماء يوم القيامة إذا فصل عباده: إين مل أجعل حكمي وعلمي فيكم إال وأان أريد أن أغفر لكم على ما كان فيكم وال أابيل .

al-Suyuti mengatakan bahwa perawi-perawinya telah di-thiqah-kan (rijal mauthuqun). alHaythami, al-Mundhiri dan Ibn Kathir mengatakan bahwa sanad ini baik (isnaduh jayyid). Jalan
lain yang disebutkan oleh al-Suyuti adalah yang diriwayatkan oleh al-Tibsi dalam al-Targhib dari
Abu Hurayrah dan Jabir. Ibn al-Najjar meriwayatkan dalam al-Tarikh dari Abu Hurayrah, Ibn alSa‘sari dalam al-Amali dari Ibn ‘Umar. Semuanya dengan redaksi yang berbeda.1240

Semua shawahid ini tidak lepas dari kelemahan yang buruk, seperti yang dikatakan oleh
Ibn ‘Arraq. Dalam riwayat al-Tabarani yang dinilai oleh al-Mundhiri, Ibn Kathir, al-Haythami
dan al-Suyuti sebagai baik. Ibn ‘Arraq mengatakan pada sanadnya terdapat al-‘Ala’ bin
Maslamah al-Ruwasi. Sedangkan riwayat Abu Hurayrah, Jabir dan Ibn ‘Umar terdapat perawi
pemalsu hadis (fih wida‘) seperti yang dikatakan oleh Ibn ‘Arraq.1241

al-‘Ala’ merupakan seorang perawi dalam Sunan al-Tirmidhi (rijal al-Tirmidhi). Namun
menurut al-Azdi, ia perawi yang tidak halal meriwayatkan darinya dan ia termasuk perawi yang
tidak dipedulikan periwayatannya. Ibn Tahir berpendapat ia orang yang meriwayatkan hadis
mawdu’. Ibn Hibban berkata ia meriwayatkan hadis-hadis mawdu’ dari perawi thiqah. Ibn Hajar
menilainya sebagai matruk (ditinggalkan), dan dituduh pemalsu hadis oleh Ibnu Hibban.1242
Jadi menurut Penulis, shawahid hadis ini tidak dapat menguatkan hadis asal, sebab ia
diriwayatkan melalui perawi yang matruk (ditinggalkan) atau pemalsu hadis. Maka hadis ini tetap
sangat da’if, seperti nampak pada sanad riwayat hadis Abu Musa al-Ash‘ari dan Wathilah.


  • 1233 Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal al-Mutanahiyah, jil. 1, hlm. 107, h.n. 143.
  • 1234 Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 1, hlm. 280; Shaykh Khalil al-Mis, dalam tahqiq Kitab al-‘Ilal alMutanahiyah karangan Ibn al-Jawzi, jil. 1, hlm. 107.
  • 1235 Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 2, hlm. 61-62; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 587; al-Khatib alBaghdadi, Tarikh Baghdad, jil. 10, hlm. 294.
  • 1236 Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 4, hlm. 111 dan jil. 5, hlm. 162; al-Suyuti, al-La’ali, jil. 1, hlm. 220.
  • 1237 Lihat biografi Talhah dalam Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 4, hlm. 108-112; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2,hlm. 587; al-Dhahabi, al-Mughni, jil. 1, hlm. 316; dan biografi Musa dalam Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 552.
  • 1238 Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 5, hlm. 161-162; Ibn al-Jawzi, al-Du’afa’, jil. 2, hlm. 168; al-Dhahabi, Mizan alI’tidal, jil. 3, hlm. 47; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 385.
  • 1239 Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 4, hlm. 111; Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 1, hlm. 262-263; al-Dhahabi, Tartib
    al-Mawdu’at, hlm. 70, h.n. 169; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 1, hlm. 268.
  • 1240 al-Suyuti, al-La’ali, jil. 1, hlm. 221-222, Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 1, hlm. 268; al-Shawkani, alFawa’id al-Majmu‘ah, hlm. 292.
  • 1241 Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 1, hlm. 268.
  • 1242 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 105; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 436.