Hadis 496


حيشر الناس يوم القيامة كما ولدهتم أمهاهتم حفاة عراة. فقالت عائشة: الرجل والنساء؟ قال: نعم. قالت: واسوأاته، ينظر بعضهم بعضا؟ فضرب النيب صلى هللا عليه وسلم يده على منكبها وقال: اي ابنت أيب قحافة، اشتغل الناس يومئذ عن النظر، وشخصت أبصارهم إىل السماء، يقفون أربعني سنة ال أيكلون وال يشربون، فمنهم من يبلغ العرق إىل قدميه ومنهم من يبلغ إىل ساقيه، ومنهم من يببلغ إىل بطنه، ومنهم من يبلغ إىل صدره ، والعرق يكون من طول الوقوف. قالت: قلت: اي رسول هللا هل حيشر أحد كاسيا يوم القيامة؟ قال: األنبياء وأهليهم. وصائمو رجب وشعبان ورمضان على الوالء، وكل الناس جياع يومئذ إال األنبياء وأهل بيتهم وصائمو رجب وشعبان فإهنم شباعالناس ال جوع هلم وال عطش، يساقون أبمجعهم إىل احملشر عند بيت املقدس أبرض يقال هلا
الساهرة، قال تعاىل (فإمنا هي زجرة واحدة فإذاهم ابلساهرة )1169

“Manusia akan dihimpun pada Hari Kiamat, sebagaimana ketika mereka dilahirkan oleh ibu
mereka, tidak beralas kaki lagi telanjang.” “Laki-laki dan perempuan?” tanya ‘A’ishah, “Ya,”
jawab beliau. ‘A’ishah berkata, “Alangkah malunya. Sebagian melilat pada yang lain?” Maka,
Nabi Saw. memukulkan tangannya pada kedua pundaknya ‘A’ishah seraya bersabda, “Wahai
putri Abu Quhafah, manusia pada hari itu terlalu sibuk untuk saling melihat, sedang mata mereka
menatap ke langit. Mereka berdiri selama empat puluh tahun tanpa makan, tanpa minum.
Diantara mereka ada yang keringatnya sampai telapak kakinya. Ada pula di antaranya yang
mencapai kedua betisnya. Ada pula yang mencapai perutnya. Dan ada pula yang mencapai
dadanya. Dan keringat itu terjadi karena lamanya mereka berdiri.” Kata ‘A’ishah, “Aku bertanya,
‘Ya Rasulallah, adakah seseorang yang dihimpun dalam keadaan berpakaian pada Hari Kiamat?’”
“Para Nabi dan keluarga mereka,” jawab Nabi, “Dan juga orang-orang yang berpuasa di bulan
Rajab, Sha’ban dan Ramadan dengan penuh ketaatan. Dan semua orang pada hari itu kelaparan,
selain para Nabi dan keluarga mereka, dan mereka yang berpuasa di bulan Rajab dan Sha’ban.
Sesungguhnya mereka orang-orang yang kenyang, tidak mengalami lapar maupun haus. Seluruh
manusia digiring ke Mahshar (tempat berkumpul) di Bayt al-Maqdis di tanah yang disebut
Sahirah, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali
tiupan saja, maka dengan serta-merta mereka berada di Sahirah.”

Takhrij Hadis:

Hadis dengan redaksi seperti ini disebutkan oleh Ahmad al-Qadi dalam Daqa’iq al-Akhbar
tanpa menyebutkan perawinya.1170 Kemungkinan hadis dengan redaksi seperti ini adalah rekaan
para pemalsu Hadis, yaitu dengan cara menambahkan beberapa perkara yang tidak ada ke dalam
hadis yang semula ada.

Asal hadis di atas, yaitu bagian pertamanya sampai perkataan النظر عن يومئذ الناس اشتغل,
diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari ‘A’ishah dengan redaksi,

حتشرون حفاة عراة عزال. قالت عائشة: فقلت: اي رسول هللا، الرجال والنساء ينظر بعضهم إىل بعض؟ فقال: األمر أشد من أن
يهمهم ذلك1171

Bagian pertama dan bagian kedua Hadis, yaitu sampai perkataan: الوقوف طول من disebutkan
oleh al-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin dari Nafi‘ dari ‘Umar, dan seperti yang dikutip oleh al-Zabidi, ia diriwayatkan oleh Ibn Mardiwayh, dan seperti yang dikutip oleh Ibn Kathir dalam
al-Nihayah fi al-Fitan, ia diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Musili.1175
Bagian selanjutnya,

قالت: اي رسول هللا هل حيشر أحد كاسيا يوم القيامة؟ األنبياء وأهليهم وصائم رجب وشعبان ورمضان…

belum ditemukan, kecuali dalam hadis yang disebutkan oleh Ahmad al-Qadi dalam Daqa’iq alAkhbar.

Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.

al-Qurtubi dalam al-Tadhkirah, Ibn Kathir dalam al-Nihayah dan al-Suyuti dalam alBudur al-Safirah, ketika membahas secara panjang lebar tentang keadaan manusia saat
dibangkitkan dari kuburnya, menyebutkan semua hadis-hadis mengenainya. Ibn Hajar juga
menguraikan hadis ‘A’ishah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari seperti di atas. Tapi tidak ada
seorang pun dari mereka yang menyebutkan atau menjelaskan adanya hadis dengan makna ini.1173
Sedangkan yang mereka sebutkan atau isyaratkan mengenai adanya pengecualian terhadap
mereka yang dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berpakaian adalah hadis-hadis yang
secara teks kontradiktif dengan hadis ‘A’ishah yang diriwayatkan al-Bukhari1174

hadis-hadis dimaksud diantaranya adalah; {Pertama, hadis Abu Sa’id yang diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan Ibn Hibban,

 إن امليت يبعث يف الثياب اليت ميوت فيها1175

“Sesungguhnya orang yang meninggal itu akan dibangkitkan dari kuburnya dengan pakaian yang
dikenakan ketika meninggal.”

Kedua, hadis Ibn ‘Abbas yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud dalam al-Ba‘th
dan lain-lain dengan redaksi,

أول اخلالئق يكسى يوم القيامة إبراهيم اخلليل1176

“Sesungguhnya makhluk yang pertama diberi pakaian pada Hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim alKhalil.”

Hal ini bermakna bahwa tambahan seperti yang terdapat pada hadis ini tidak dikenali oleh
ulama hadis. Jadi jelaslah bahwa hadis dengan redaksi ini adalah palsu. Sedangkan beberapa
bagian dari hadis ini adalah sahih seperti yang diuraikan di atas.

Selain dengan dalil di atas, hadis ini dapat juga dihukumi palsu menurut kaidah yang
disebutkan oleh Ibn Hajar mengenai hadis-hadis puasa Rajab.1177


  • 1169 al-Qur’an, al-Nazi‘at 79:13-14.
  • 1170 Ahmad al-Qadi, Daqa’iq al-Akhbar, hlm. 49.
  • 1171 al-Bukhari, Sahih, Kitab al-Riqaq, Bab Kayf al-Hashr, h.n. 6162; Muslim, Sahih, Kitab al-Jannah wa Sifah Na‘imiha, Bab Fana’ al-Dunya wa Bayan al-Hashr Yawm al-Qiyamah, h.n. 2859.
  • 1172 al-Samarqandi, Tanbih al-Ghafilin, hlm. 61, h.n. 48; al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 1, hlm.
    456; Ibn Kathir, al-Nihayah, jil. 1, hlm. 319-32.
  • 1173 Lihat al-Qurtubi, al-Tadhkirah, hlm. 236-239; Ibn Kathir, al-Nihayah, jil. 1, hlm. 315-323; al-Suyuti, alBudur al-Safirah, hlm. 55-57; Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 11, hlm. 384-385.
  • 1174 Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 11, hlm. 384-385.
  • 1175 Abu Dawud, Sunan, Kitab al-Jana’iz, Bab Ma Yustahabb min Tathir Libas al-Mayyit ‘ind al-Mawt, h.n.
    3115; Ibn Hibban, Sahih, Kitab Akhbaruh Saw., Bab Akhbaruh Saw. ‘an al-Ba’ath, h.n. 7269.
  • 1176 al-Bukhari, Sa{hih, Kitab al-Riqaq, Bab al-Hashr, h.n. 6525; Sulayman bin al-Ash’ath Abu Dawud alSajastani, al-Ba’ath, Tah. Muhammad Sa’id Basyuni Zaghlul, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1987, hlm. 29, h.n.24.
  • 1177 Lihat penjelasan kaidah yang disebutkan oleh Ibn Hajar pada pembahasan Hadis ke 154, hlm. 158.