Hadis 474


عن عقيل: سافرت مع النيب فرأيت منه ثالثة أشياء فاستقر اإلسالم يف قليب بسببها: فأوهلا أن النيب أراد أن يقضي حاجته وكان حبذائه أشجار فقال يل امض قل هلا أن رسول هللا يقول تعالني وكوين يل سرتا فإين أريد أن أتوضأ فخرجت، فما استتممت الرسالة إال واألشجار قد انقطعت من أصوهلا وحتولت حىت فرغ النيب صلى هللا عليه وسلم فرجعت إىل مكاهنا. والثاين: غلبين العطش فطلبت املاء فلم أجده، فقال اصعد إىل هذا اجلبل وأقرئه مين السالم وقل له إن كان فيك ماء فاسقين، قال: فصعدت اجلبل وقلت له ما قال النيب، فما استتممت الكالم حىت قال اجلبل بلسان فصيح: قل لرسول هللا، أان منذ يوم أنزل هللا هذه اآلية (اي أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم انراوقودها الناس واحلجارة)أبكي من الفزع أن أكون ذلك احلجر فلم يبقى يف ماء. والثالث: كنا منشي فإذا حنن جبمل يعدو حىت بلغ رسول هللا فقال: اي رسول هللا األمان األمان، فلم يلبث حىت جاء خلفه أعرايب ومعه سيف مسلول. فقال النيب: ما تريد من هذا املسكني؟ قال: اي رسول هللا اشرتيته بثمن كثري وليس هو يطيعين، فأريد أن أذحبه فأنتفع بلحمه. فقال النيب للجمل: مل تعصيه؟ قال: اي رسول هللا لست أعصيه من العمل، ولكين أعصيه من ذلك العمل القبيح
عنده ألن القبيلة اليت هو فيها ينامون على صالة العشاء األخرية، فلو عاهدك أن يصليها، عاهدتك أن ال أعصيه، فإين أخاف أن ينزل عليهم عذاب من هللا فأكون فيهم. فأخذ النيب العهد ع لى األعرايب أن ال يرتك الصالة، وسلم اجلمل إليه ورجع إىل أهلها.

“Diriwayatkan dari ‘Uqayl bin Abu Talib r.a., bahwa ia berkata, ‘Pernah aku bepergian bersama
Nabi Saw., maka aku melihat dari beliau tiga hal yang menyebabkan mantapnya Islam dalam
hatiku. Pertama, Nabi Saw. hendak memenuhi hajatnya sedang di seberang beliau ada beberapa
batang pohon. Maka sabda beliau kepadaku, ‘Pergilah ke pohon-pohon itu dan katakan kepada
mereka, bahwa Rasulullah berkata, ‘Kemarilah dan jadilah penutup bagiku, karena aku hendak
berwudu.’ Maka, aku pun berangkat. Namun, belum lagi tugas itu aku selesaikan, ternyata pohonpohon itu telah terpotong dari pangkalnya masing-masing dan menjadi penutup di sekeliling
beliau, sampai Nabi Saw. menyelesaikan hajatnya lalu kembalilah pohon-pohon itu ke tempatnya
semula. Kedua, aku pernah kehausan, maka aku mencari air. Namun aku tidak menemukannya.
Maka, sabda Nabi Saw., “Naiklah ke gunung ini dan sampaikan salam dariku, lalu katakan
kepadanya, ‘Jika ada air padamu, maka berilah aku minum.’ ‘Uqayl berkata, ‘Maka aku pun
mendaki gunung dan aku katakan kepadanya seperti yang dikatakan oleh Nabi Saw. Maka belum
lagi selesai perkataanku, tiba-tiba gunung itu berkata dengan perkataan yang jelas, ‘Katakan
kepada Rasulullah, aku sejak saat Allah menurunkan ayat ini, ‘Wahai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu,’ maka aku menangis, karena takut jangan-jangan aku menjadi batu itu, sehingga tidak
tersisa lagi air padaku.’ Dan ketiga, kami berjalan, tiba-tiba ada seekor unta lari-lari, sehingga
sampailah kepada Rasulullah. Berkatalah binatang itu, ‘Ya Rasulullah tolong lindungilah aku!’
Tidak lama, maka datanglah seudah itu seorang Badui membawa sebilah pedang yang terhunus.
Maka bertanyalah Nabi Saw., ‘Akan engkau apakan binatang yang malang ini?’ Ia menjawab,
‘Ya Rasulallah, aku telah membelinya dengan harga mahal, tetapi ia tidak menurut kepadaku.
Maka aku hendak menyembelihnya. Lalu aku manfaatkan dagingnya.’ ‘Kenapa kamu
membangkang kepadanya?’ Tanya Nabi Saw. kepada unta itu. Ia jawab, ‘Ya Rasulallah, aku tidak
membangkangnya untuk bekerja, tetapi aku membangkang kepadanya dari perbuatan buruk yang
ada pada sisinya. Karena kabilah yang ia diami pada tidur tanpa melakukan shalat malam terakhir
(shalat ‘Isha’). Jika ia mau berjanji kepadamu akan melakukan shalat ‘Isha’, maka akupun berjanji
kepadamu untuk tidak membangkang lagi kepadanya. Karena aku takut mereka ditimpa azab dari
Allah, padahal aku ada di tengah mereka.’ Maka Nabi Saw. mengambil janji dari orang Badui itu
untuk tidak meninggalkan shalat lalu beliau serahkan unta itu kepadanya dan ia pun kembali
kepada keluarganya.’”  

Takhrij Hadis:

Hadis ini telah dikutip oleh al-Khubawi dari kitab Rawnaq al-Majalis tanpa menyebutkan
perawinya. Setelah merujuk kepada kitab-kitab tentang mukjizat-mukjizat Nabi Saw. seperti alKhasa’is al-Kubra karangan al-Suyuti, kitab-kitab tentang bukti-bukti kenabian seperti Dala’il
al-Nubuwwah karangan al-Bayhaqi dan Abu Nu’aym, juga dalam kitab-kitab sejarah dan biografi
para sahabat seperti al-Kamil fi al-Tarikh, al-Bidayah wa al-Nihayah, Siyar A’lam al-Nubala’,
Usud al-Ghabah, al-Isti’ab, al-Isabah dan lain-lainnya, namun cerita tentang bertambah yakinnya
keislaman ‘Uqayl tidak dapat ditemukan. Akan tetapi cerita mengenai pohon yang menghampiri
Rasulullah Saw. dan menjadi tirai ketika baginda buang hajat, banyak diriwayatkan oleh alBayhaqi dan disebutkan oleh al-Suyuti dalam al-Khasa’is. Begitu pula mengenai mukjizat
baginda yang bisa bercakap dengan binatang seperti sapi dan sebagainya.1123

Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.

Hadis ini bisa dihukumi palsu, sebab ia tidak dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadis
maupun kitab sejarah yang mu’tabar. Ia hanya diambil dari kitab Rawnaq al-Majalis yang
merupakan sebuah kitab cerita tanpa sanad dan tanpa menyebutkan sumbernya. Isi kandungan
kitab ini tidak dapat dipertanggungjawabkan ke-sahihan-nya. Sedangkan mukjizat-mukjizat Nabi
Saw. yang serupa dengan apa yang diceritakan di atas, seperti yang sudah dijelaskan, disebutkan
oleh al-Suyuti dalam al-Khasa’is al-Kubra.


  • 1120 al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 158-159.
  • 1121 al-Qur’an, al-An‘am 6: 164.
  • 1122 al-Qur’an, al-Tahrim 66: 6.