ثلاثة علي فريضة وسنة لكم: الوتر والسواك وقيام الليل.
“Tiga hal yang wajib atas diriku dan sunah bagi kalian, yakni shalat witir, siwak dan Qiyam al- Layl.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini dikutip oleh Ibn Hajar, diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Awsat dan al- Bayhaqi dari ‘A’ishah melalui Musa bin ‘Abd al-Rahman. al-Munawi menjelaskan hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Awsat.965
Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.
Dalam hadis ini terdapat perawi bernama Musa bin ‘Abd al-Rahman. Musa bin ‘Abd al- Rahman yang dimaksud di sini adalah al-Thaqafi al-San‘ani. Menurut Ibn Hibban, ia dajjal, memalsukan hadis dalam satu kitab tafsir. Menurut Ibn ‘Adiy munkar al-hadith. al-Dhahabi mengatakan ia dikenali, tetapi tidak thiqah (ma’ruf lays bithiqqah). al-Tabarani mengatakan bahwa Musa telah bersendiri dalam meriwayatkan. al-Haythami mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Awsat. Pada sanadnya terdapat Musa bin ‘Abd al- Rahman. Ia seorang pendusta. Jadi sanad hadis ini sangat da’if atau mawdu’. Ibn Hajar menghukuminya sangat da’if dengan dua alasan. Pertama, pada sanadnya terdapat Musa. Kedua, makna hadis ini bertentangan dengan makna hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir mengenai sifat haji Rasulullah Saw., dimana Baginda meninggalkan tiga perkara di atas ketika berada di ‘Arafah dan Muzdalifah.966 Menurut Penulis, hadis ini boleh dihukumi mawdu’, sebab pada sanadnya terdapat seorang yang dituduh pendusta. Selain itu, makna hadis ini bertentangan dengan hadis sahih seperti dijelaskan Ibn Hajar.
- 965 Ibn Hajar, Talkhis al-Habir, jil. 3, hlm. 119-120; al-Munawi, Jami’ al-Azhar, jil. 10, hlm. 271, h.n. 30618.
- 966 Ibn Hajar, Talkhis al-Habir, jil. 3, hlm. 119-120, h.n. 1438; lihat biografi Musa dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 211-212; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 8, hlm. 214.