Hadis 389


أن النبي لما أصبح ليلة أسري به وأخبر الناس بذلك ارتد ناس ممن صدقوا وفتنوا فتنة عظيمة وسعى رجال من المشركين إلى أبي بكر فقالوا: إن صاحبك يزعم أنه أسري به الليلة إلى بيت المقدس ومنه إلى السموات وجاء قبل أن يصبح. قال:لئن قال ذلك لقد صدق. قالوا: أأنت تصدقه في هذا؟ قال: نعم أصدقه فيما هو أبعد من ذلك-فلذا سمي الصديق-وجاء واحد منهم فقال: يا محمد قم. فقام فقال: ارفع إحدى رجليك. فرفع، ثم قال: ارفع الأخرى. فقال: إن رفعتها أسقط. فقال الكافر: إذا لم ترفع عن الأرض شبرا، فكيف رفعت إلى السماء وإلى سدرة المنتهى؟ فقال: اخرج من المسجد واحك بهذا القول لعلي فإنه يجيبك. فخرج من المسجد فلقي عليا فحكى له القصة، فسأل سيفه…..

“Sesungguhnya Nabi Saw. pada pagi harinya setelah malam hari ia diperjalankan, ia mengabarkan pada orang-orang tentang peristiwa itu. Maka orang-orang yang membenarkan beliau mengingkarinya, bahkan mereka melontarkan fitnah yang besar. Lantas beberapa tokoh dari kaum musyrik menghampiri Abu Bakar dan berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya sahabatmu (Muhammad) mengaku bahwasanya ia diperjalankan pada malam hari menuju Bayt al-Muqaddas, lalu dari sana ia menuju langit-langit, dan kembali sebelum pagi tiba.’ Abu Bakar menjawab, ‘Jika ia berkata demikian, maka ia jujur.’ Mereka bertanya, ‘Apakah engkau mempercayainya terkait peristiwa ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Iya. Aku mempercayai apa yang berkaitan dengannya, bahkan meskipun lebih dari ini – maka ia mendapat gelar as-Siddiq – . Lalu datanglah salah seorang tokoh dari kaum kafir berkata, ‘Wahai Muhammad berdirilah!’ Maka Nabi Saw. berdiri. Lalu orang itu berkata, ‘Angkat salah satu kakimu!” Nabi Saw. mengangkatnya. Kemudian orang itu berkata, ‘Angkatlah yang satunya lagi.’ Nabi Saw. menjawab, ‘Jika aku mengangkatnya, maka aku akan jatuh.’ Maka orang kafir itu berkata, ‘Jika kamu tidak bisa terbang sejengkal saja dari bumi, bagaimana mungkin kamu bisa naik hingga ke langit dan Sidrah al-Muntaha?’ Maka ia berkata, ‘Keluarlah dari Masjid al-Haram dan ceritakan peristiwa ini kepada ‘Ali. Sesungguhnya ia akan menjawabmu.’ Maka Nabi Saw. keluar dari Masjid al-Haram dan menemui ‘Ali, lalu menceritakan kisah tersebut kepadanya. Lalu ia menanyakan pedangnya……’”

Takhrij Hadis:

Hadis ini merupakan dua hadis yang berbeda. Bagian pertama hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Bayhaqi dalam al-Dala’il, juga oleh Ibn Mardiwayh seperti yang dikutip oleh al- Suyuti. Semuanya dari ‘A’ishah dengan redaksi sedikit berbeda sampai lafal: الصديق سمي فلذا .916 (Karena itu, ia dinamai as-Siddiq).

Bagian kedua, bermula dari perkataan …محمد يا :فقال منهم واحد وجاء (Lalu datang salah satu dari mereka berkata, ‘Wahai Muhammad…).
Hadis dengan cerita dan maksud seperti ini belum dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadis dan sejarah yang mu’tamad.

Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.

Hadis bagian pertama dihukumi sahih oleh al-Hakim dan disetujui oleh al-Dhahabi.917 Sedangkan bagian kedua, Penulis tidak yakin akan kesahihannya, sebab cerita tersebut tidak terdapat dalam kitab-kitab hadis dan sejarah Nabi Saw. yang mu’tamad, yang telah dirujuk. Seandainya cerita itu memang ada, tentu cerita itu akan masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah atau hadis. Selain itu, kedudukan umat Islam yang masih lemah tidak memungkinkan ‘Ali berbuat demikian, karena hal ini akan dapat dijadikan alasan bagi pihak musuh untuk membunuh ‘Ali dan Nabi Saw. sendiri, atau paling tidak meminta kepada ‘Ali dan keluarganya pampasan. Cerita tentang ini tidak ditemukan dalam sejarah. Jadi hadis bagian kedua ini palsu. Kesimpulannya, hadis dengan redaksi seperti dalam Durrah al-Nasihin itu palsu. Sedangkan bagian pertama hadis itu sahih seperti yang dijelaskan di atas.


  • 916 al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab Ma’rifah al-Sahabah, Bab al-Ahadith al-Mush‘irah Bitasmiyah Abi Bakar Siddiqan, jil. 3, hlm. 62-63; al-Bayhaqi, Dala’il al-Nubuwwah, jil. 2, hlm. 360-361; al-Suyuti, al-Khasa’is al-Kubra, jil. 1, hlm. 291.
  • 917 al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab Ma’rifah al-Sahabah, Bab al-Ahadith al-Mush‘irah Bitasmiyah Abi Bakar Siddiqan, jil. 3, hlm. 62-63; al-Dhahabi, al-Talkhis, jil. 3, hlm. 63.