أنه صلى الله عليه سولم كان نائما في بيت أم هانئ بعد صلاة العشاء فأسري به ورجع من ليلته وقص القصة عليها، وقال صلى الله عليه وسلم: مثل لي النبيون فصليت بهم. ثم خرج إلى المسجد وأخبر به قريشا فتعجبوا منها استحالة، وارتد ناس ممن آمن به وسعى رجال إلى أبي بكر، فقال: إن كان قال لقد صدق. فقالوا: أتصدقه على ذلك؟ قال: إني لأصدقه على أبعد من ذلك. فسمى الصديق، وكان ذلك قبل الهجرة بسنة.
“Bahwasanya beliau tidur di rumah Ummu Hani’, sesudah shalat Isha’, lalu beliau diisra’kan dan pulang pada malam itu juga, lalu menceritakan kisah perjalanan itu kepadanya seraya berkata, ‘Para Nabi dihadapkan di hadapanku lalu aku shalat bersama mereka.’ Kemudian, keluarlah Nabi ke masjid dan memberitakan hal itu pada orang-orang Quraysh. Mereka terheran-heran mendengarnya, karena menganggap mustahil. Sementara ada beberapa orang yang murtad di antara mereka, yang telah beriman kepada Nabi, dan ada pula beberapa orang yang lari kepada Abu Bakar As-Siddiq r.a. Maka berkatalah Abu Bakar, ‘Jika memang ia berkata begitu, maka sesungguhnya ia benar,’ Orang-orang itu bertanya, ‘Apakah engkau benarkan juga atas hal itu?’ Abu Bakar menjawab, ‘Sesungguhnya aku betul-betul membenarkannya atas apa saja yang lebih jauh dari itu.’ Karena itu, ia disebut As-Siddiq. Peristiwa itu terjadi setahun sebelum hijrah.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini dikutip oleh al-Khubawi dari al-Baydawi dalam tafsirnya. al-Zamakhshari juga menyebutkan hadis ini dalam tafsirnya. al-Munawi yang men-takhrij hadis-hadis dalam Tafsir al- Baydawi mengutip takhrij Ibn Hajar terhadap hadis-hadis Tafsir al-Zamakhshari. Ibn Hajar mengatakan bahwa hadis ini disebutkan oleh al-Tha‘labi dalam tafsirnya dari Ibn ‘Abbas, tanpa sanad. Seakan-akan beliau meriwayatkannya melalui al-Kalbi. al-Hakim dalam al-Iklil dan al- Bayhaqi melalui al-Hakim, juga meriwayatkannya dari Ibn ‘Abbas melalui Juwaybir. al-Nasa’i meriwayatkannya secara ringkas dari Ibn ‘Abbas melalui ‘Awuf dari Zurarah bin Abi Awfa dari Ibn ‘Abbas. Ibn Sa’ad, Abu Ya’la dan al-Tabarani, semuanya dari Ummu Hani dalam hadis yang
panjang.898 al-Suyuti menjelaskan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Ishaq dalam al-Sirah, al-Tabari dan al-Tabarani.899
al-Tabari dalam tafsirnya, meriwayatkannya secara ringkas melalui Ibn Ishaq. Sedangkan al-Tabarani meriwayatkannya dalam hadis yang panjang. Di dalamnya terdapat redaksi seperti di atas, melalui ‘Abd al-A’la bin Abi al-Masawir, tanpa redaksi 900 بسنة الهجرة قبل ذلك كان
Hukum Hadis: Da’if.
Hadis riwayat al-Tha‘labi sanadnya mawdu’, karena terdapat al-Kalbi, seperti yang dijelaskan sebelum ini dan akan dijelaskan di bawah bahwasanya ia dituduh pendusta.901 Riwayat kedua melalui Juwaybir juga sangat da’if, karena Juwaybir bin Sa’id sangat da’if. Ia dinilai oleh al-Nasa’i dan al-Daraqutni sebagai orang yang hadisnya layak ditinggalkan (matruk al-hadith).902 Riwayat al-Tabarani pada sanadnya terdapat ‘Abd al-A’la. Menurut Yahya dan Abu Dawud ia tidak cacat (lays bi shay’). Ibn Numayr dan al-Nasa’i berkata matruk (ditinggalkan). al-Daraqutni berpendapat ia da’if. Adapun al-Haythami menyatakan bahwa ia ditinggalkan dan pendusta (matruk kadhdhab).903 Jadi sanad ini sangat da’if.
Riwayat Ibn Ishaq dan al-Tabari pada sanadnya terdapat Muhammad bin al-Sa’ib al- Kalbi. Ia, seperti dikatakan Ibn Hajar, dituduh pendusta dan pengikut mazhab Rafidah. Selain Ibn al-Sa’ib, Ibn Ishaq sendiri da’if menurut beberapa ulama, meskipun beliau imam dalam perkara sejarah. Ibn Hajar menilainya saduq. Hanya saja men-tadlis dan dituduh sebagai Shi’ah dan penganut Qadariyah.904 Jadi sanad ini sangat da’if, bahkan mawdu’. Karena itu, tidak dapat menguatkan riwayat pertama. Akan tetapi hadis ini mempunyai shawahid bahwa Nabi Saw. mikraj dari rumah Ummu Hani’. Jadi, hadis dapat dihukumi da’if. Secara teks, hadis ini bertentangan dengan hadis sebelumnya yang sahih (Hadis ke 382). Namun masih bisa dipadukan seperti yang telah diusahakan Ibn Hajar dalam Fath al-Bari.905
- 898 ‘Abd Allah bin ‘Umar al-Shayrazi al-Baydawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, Tafsir al-Baydawi, Dar al-Fikr, Bayrut, t.th., hlm. 370; Muhammad bin ‘Umar al-Zamakhshari, al-Kashshaf ‘an Haqa’iq al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil, Maktabah al-Ma’arif, al-Riyad, t.th., jil. 2, hlm. 350; Ibn Hajar, al-Kafi al-Shaf, hlm. 97, h.n. 271; al-Munawi, al-Fath al-Samawi, jil. 2, hlm. 762, h.n. 650.
- 899 ‘Abd al-Rahman bin Muhammad Abu Bakar al-Suyuti, Manahil al-Safa fi Takhrij Ahadith al-Shifa, TaH. Samir al-Qadi, Mu’assasah al-Kutub al-Thaqafiyyah, Bayrut, 1988, hlm. 97, h.n. 403.
- 900 al-Tabari, Tafsir, jil. 15, hlm. 2; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, jil. 24, hlm. 432-434, h.n. 1059; al- Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 75-76.
- 901 Lihat biografi al-Kalbi dalam al-Halabi, Kashf al-Astar, hlm. 230-231.
- 902 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 427.
- 903 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 531; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 76.
- 904 Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 479 dan 467.
- 905 Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 7, hlm. 207.