الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والأحمق من اتبع هواها وتمنى على الله الأماني.
“Orang yang cerdik (yang berakal lagi cerdas), ialah orang yang menundukkan nafsunya (mengalahkannya), dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedang orang bodoh adalah orang yang menuruti keinginannya dan mengangankan terhadap Allah bermacam angan-angan, (bahwa Dia akan memberikan kenikmatan di surga).”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, al-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad dalam Musnad dan al-Zuhd, al-Hakim, al-Tabarani dalam al-Kabir dan al-Saghir dan Musnad al-Shamiyyin, al- Bayhaqi dalam al-Shu’ab, Abu Nu’aym, Ibn Abi al-Dunya dalam Muhasabah al-Nafs, al-Khatib dan al-Quda’i. Semuanya dari Shaddad bin Aws melalui Abu Bakar bin ‘Abd Allah bin Abi Maryam.849
Hukum Hadis: Da’if.
Meskipun hadis ini diriwayatkan oleh banyak perawi, namun jalurnya berpusat pada seorang perawi yaitu Abu Bakar bin Abi Maryam al-Ghassani.
al-Tirmidhi menghukumi hadis ini hasan dan al-Hakim menghukuminya sahih mengikuti syarat al-Bukhari. Namun al-Dhahabi menolaknya dengan mengingatkan bahwa Abu Bakar adalah perawi yang wahin (sangat da’if). al-Suyuti juga menghukuminya sahih, namun ditolak oleh al-Munawi dengan mengutip perkataan al-Dhahabi di atas dan pendapat Ibn Tahir bahwa riwayat/sanad hadis ini berpusat pada Ibn Abi Maryam, dan ia sangat da’if.850 Dalam biografi Abu Bakar Ibn Abi Maryam ditemukan bahwa Ahmad dan beberapa ulama lainnya men-da’if-kannya. Ibn Hibban mengatakan bahwa hafalannya buruk, maka tidak boleh ber-hujjah dengannya jika ia menyendiri (radi’ al-hifd la yuhtajj bih idha infarad). Ibn ‘Adiy mengatakan bahwa hadis- hadisnya baik, akan tetapi tidak dapat dijadikan hujjah (ahadithuh salihah lakin la yuhtajj bih). Ibn Hajar memberikan penjelasan kenapa beliau disifati da’if, yaitu karena rumahnya (kitab- kitabnya) dicuri, sehingga mengakibatkan ia mukhtalit. Padahal sebelum ini, seperti yang dikatakan Ahmad, ia merupakan salah seorang sumber ilmu (wa kana ahad aw‘iyah al-‘ilm). Jadi jelaslah bahwa hafalan beliau yang menyebabkan riwayatnya menjadi da’if meskipun pribadinya seorang ulama yang jujur.851 Jadi sanad hadis ini da’if. hadis ini mempunyai shahid yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dari Anas melalui ‘Awn bin ‘Ammarah dengan lafal
الكيس من عمل لما بعد الموت، و العاري العاري من الدنيا، اللهم لا عيش إلا عيش الآخرة
Akan tetapi ‘Awn da’if menurut al-Bayhaqi dan Abu Dawud dan menurut al-Bukhari yu‘raf yankir. Sedangkan menurut Abu Hatim da’if dan munkar al-hadith?852 Jadi shahid inipun da’if, sehingga belum dapat menaikkan hadis asal yang da’if menjadi hasan.
Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa al-Hakim menyebutkan hadis ini pada dua tempat dan menghukuminya sahih. al-Dhahabi pada kali pertama hadis ini disebutkan, menolak hadis ini dihukumi sahih. Namun pada kali kedua beliau diam. Kenyataan ini benar, namun menurut Penulis diamnya al-Dhahabi pada kali kedua disebutkannya hadis ini bukan berarti beliau menyetujui pendapat al-Hakim, akan tetapi karena sanad hadis pertama dan hadis ke dua adalah sama, maka al-Dhahabi merasa cukup untuk memberikan pendapatnya di kali pertama saja.853 Jadi hadis ini tetap da’if menurut al-Dhahabi.
- 849 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab Sifah al-Qiyamah, Bab (tanpa judul no 25), h.n. 2461; al-Nasa’i, Sunan, Kitab Sifah al-Qiyamah, Bab (tanpa judul, no. 25), h.n. 2459; Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Zuhd, Bab Dhikr al-Mawt wa al-Isti’dad lah, h.n. 4260; Ahmad, Musnad, jil. 4, hlm. 124; Ahmad, al-Zuhd, hlm. 66, h.n. 206; al-Hakim, al- Mustadrak, Kitab al-Iman, Bab al-Kayyis Man Dana Nafsuh wa ‘Amil Lima Ba‘d al-Mawt, jil. 1, hlm. 57; al- Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, jil. 7, hlm. 284, h.n. 7143; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Saghir, hlm. 316, h.n. 849; Sulayman bin Ahmad bin Ayyub al-Tabarani, Musnad al-Shamiyyin, Tah. Hamdi ‘Abd al-Majid al-Salafi, Mu’assasah al-Risalah, Bayrut, 1989, jil. 1, h.n. 463, dan jil. 2, h.n. 7143; al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 7, hlm. 350, 111, 1046; Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 1, hlm. 267, dan jil. 8, hlm. 174; al-Khatib, Tarikh Baghdad, jil. 12, hlm. 50; al-Quda’i, Musnad, jil. 1, hlm. 140, h.n. 185; ‘Abd Allah bin Muhammad bin ‘Ubayd @ Ibn Abi al- Dunya, Muhasabah al-Nafs, Tah. Majdi al-Sayyid Ibrahim, Maktabah al-Qur’an, al-Qahirah, t.th., hlm. 28, h.n. 1.
- 850 al-Dhahabi, al-Talkhis, jil, 1, hlm. 57; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 256; al- Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 5, hlm. 67-68.
- 851 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 497-498; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 623.
- 852 al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 7, hlm. 350, h.n. 1045; lihat biografi ‘Awn bin ‘Ammarah dalam al- Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 306.
- 853 al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab al-Iman, Bab al-Kayyis Man Dana Nafsuh wa ‘Amil Lima Ba‘d al- Mawt, jil. 1, hlm. 57 dan lihat jil. 4, hlm. 325; al-Dhahabi, al-Talkhis, jil. 1, hlm. 57 dan jil. 4, hlm. 325. Lihat juga pembahasan Hadis ini dalam al-Suyuti, al-Durar al-Muntathirah, hlm. 343, h.n. 330; al-Zarkashi, al-Tadhkirah, hlm. 139; al-‘Ajluni, Kashf al-Khafa’, jil. 2, hlm. 136, h.n. 2029; al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 229-230, h.n. 850.