Hadis 348


من أصبح لا ينوي الظلم على أحد غفر له ماجنى، ومن أصبح ينوي نصرة المظلوم وقضى حاجة المسلم كانت له كأجر حجة مبرورة.

“Siapa saja yang memasuki pagi hari sedang ia tidak berniat menzalimi seorang pun, maka Allah mengampuni dosa yang telah dilakukannya. Dan siapa saja yang memasuki paginya berniat menolong orang yang terzalimi dan memenuhi hajat seorang muslim, maka ia memperoleh seperti pahala berhaji mabrur.”

Takhrij Hadis:

Penggalan pertama dari hadis ini diriwayatkan oleh al-Quda’i melalui Dawud al- Muhabbar dari al-Hayyaj bin Bustam dari Ishaq bin Murrah dari Anas. al-Suyuti menjelaskan bahwa Ibn ‘Asakir juga meriwayatkannya dari Anas. al-Munawi menambahkan bahwa ia juga diriwayatkan oleh Ibn Abi al-Dunya, al-Daylami, al-Baghawi dan al-Mukhallas dalam Fawa’id- nya. Semuanya dari Anas melalui ‘Uyaynah bin ‘Abd al-Rahman dari Ishaq bin Murrah dari Anas. al-Azdi juga meriwayatkannya dari Anas melalui ‘Ammar bin ‘Abd al-Malik dari Baqiyyah dari Abi Bustam dari Anas.

Hukum Hadis: Sangat da’if.

Dalam sanad al-Quda’i terdapat beberapa perawi yang bermasalah. Dawud bin al- Muhabbar, seperti telah dibahas beberapa kali, dituduh pemalsu hadis. Dalam satu sanad al-Azdi, juga sanad Ibn ‘Asakir dan lain-lainnya terdapat ‘Uyaynah bin ‘Abd al-Rahman dan Ishaq bin Murrah. ‘Uyaynah, menurut Abu Hatim ia da’if. Ibn Hajar berpendapat ia sangat da’if. Sedangkan Ishaq, menurut al-Azdi, matruk. Jadi riwayat ini sangat da’if.830

Dalam riwayat al-Azdi yang lain, dalam sanad-nya terdapat ‘Ammar bin ‘Abd al-Malik. Ia disifati oleh al-Azdi sebagai matruk.831 Jadi riwayat inipun sangat da’if. Menurut al-‘Iraqi seperti yang dikutip al-Munawi, sanad hadis ini da’if. al-Suyuti menghukumi penggalan pertama hadis di atas da’if. Namun al-Munawi mengingatkan bahwa terdapat perawi yang disifati matruk pada semua jalur hadis ini. al-Ghummari menghukumi hadis ini sangat da’if.832 Penulis menguatkan pendapat yang mengatakan hadis ini sangat da’if, karena pada semua sanad hadis ini terdapat perawi yang disifati matruk, sehingga tidak dapat saling menguatkan.


  • 830 al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 6, hlm. 67; lihat biografi ‘Uyaynah dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 329; Ibn Hajar, Lisan al-Mizan, jil. 4, hlm. 412 dan jil. 1, hlm. 276; dan biografi Ishaq dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 210; Ibn Hajar, Lisan al-Mizan, jil. 1, hlm. 375-376.
  • 831 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 165; Ibn Hajar, Lisan al-Mizan, jil. 4, hlm. 272.
  • 832 al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 494; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 6, hlm. 67; Ahmad bin Muhammad bin al-Siddiq al-Ghummari, Fath al-Wahhab fi Takhrij Ahadith al-Shihab, Dar ‘Alam al-Kutub dan Dar al-Nahdah, Bayrut, 1988, jil. 1, hlm. 158-159.