يا أيها الناس توبوا إلى الله تعالى قبل أن تموتوا. وبادروا بالأعمال الصالحة قبل أن تشغلوا، وصلوا الذي بينكم وبين ربكم بكثرة ذكركم له تعالى، وأثروا الصدقة في السر والعلانية ترزقوا وتنصروا وتجبروا.
“Wahai manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah Ta’ala sebelum kamu mati, cepat-cepatlah melakukan amal-amal saleh sebelum kamu sibuk, sambunglah hubungan di antara kamu dan dengan Tuhanmu dengan banyak mengingat Dia Yang Maha Tinggi dan banyak-banyaklah bersedekah secara rahasia maupun terang-terangan, niscaya kamu diberi rezeki, kemenangan dan kekayaan.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Ibn ‘Adiy. Kedua-duanya dari Jabir melalui ‘Abd Allah bin Muhammad al-‘Adawi dari ‘Ali bin Zayd bin Jud; dari Sa’id bin al-Musayyab. Seperti yang diisyaratkan oleh al-Busiri, hadis ini juga diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humayd dari Jabir tanpa melalui al-‘Adawi. Sedangkan Abu Ya’la meriwayatkannya juga dari Jabir tanpa melalui al-‘Adawi dan ‘Ali bin Zayd, tetapi seorang perawinya tidak disebutkan namanya (mubham).786
Hukum Hadis: Da’if.
Dalam sanad Ibn Majah terdapat dua perawi yang bermasalah, yaitu ‘Abd Allah bin Muhammad al-‘Adawi dan ‘Ali bin Zayd. al-‘Adawi dituduh memalsukan hadis oleh Waki’. al- Bukhari menyifatinya sebagai munkar al-hadith, dan menurut Ibn Hajar, matruk. Sedangkan ‘Ali bin Zayd, ia menurut Ahmad, Yahya dan beberapa ulama lain adalah da’if. Menurut al-Bukhari dan Abu Hatim tidak boleh ber-hujjah dengannya (la yuhtajju). Sedangkan menurut al-Tirmidhi, ia jujur (saduq).787 Jadi hadis ini paling tinggi boleh dihukumi sangat da’if; atau bahkan palsu sebab seorang perawinya sudah dituduh pemalsu hadis.
Riwayat ‘Abd bin Humayd juga da’if, karena melalui ‘Ali dan ia disifati da’if. Sedangkan riwayat Abu Ya’la, meskipun tanpa melalui kedua perawi tersebut, tetapi seorang perawinya tidak diketahui namanya (mubham), dan hadis mubham adalah salah satu jenis hadis da’if. al- Busiri mengatakan bahwa hadis ini mempunyai shahid dari hadis Abu Sa’id yang diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Awsat. Namun, seperti yang dikatakan oleh al-Haythami, di dalam sanadnya terdapat Musa bin ‘Atiyyah al-Bahili. Beliau belum dapat menemukan biografinya (lam ajid lahu tarjamah).788 al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil menyebutkan beberapa jalur lain, tetapi beliau berpendapat semua jalur tersebut tidak terlepas dari sebab-sebab yang men-da’if-kan.789 Maka hadis ini tetap da’if.
- 786 Ibn Majah, Sunan, Kitab Iqamah al-Salah, Bab Fard al-Jum’ah, h.n. 1081; Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 4. hlm. 1498; Abu Ya’la, Musnad, jil. 3, hlm. 282, h.n. 1856; al-Busiri, Misbah al-Zujajah, jil. 1, hlm. 204, h.n. 386.
- 787 Lihat biografi ‘Abd Allah al-‘Adawi dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 485- 486; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 322; dan biografi ‘Ali bin Zayd dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 127-129; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 401.
- 788 al-Busiri, Misbah al-Zujajah, jil. 1, hlm. 204, h.n. 386; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 2, hlm.
169
- 789 Muhammad Nasir al-Din al-Albani, Irwa’ al-Ghalil fi Takhrij Ahadith al-Manar al-Sabil, al-Maktab al- Islami, Bayrut, 1980, jil. 3, hlm. 50-54.