إذا كان أمراؤكم خياركم وأغنياؤكم أسخياؤكم وأمركم شورى بينكم فظهر الأرض خير لكم من بطنها، وإذا كان أمراؤكم شراركم وأغنياؤكم بخلاؤكم وأمركم إلى نسائكم فبطنها خير لكم من ظهرها.
“Apabila pejabat-pejabatmu adalah orang-orang terpilih darimu, dan orang-orang kaya darimu adalah orang-orang dermawan, sedang urusanmu dimusyawarahkan sesamamu, maka permukaan bumi lebih baik bagimu daripada dalamnya. Sedang apabila pejabat-pejabatmu adalah orang- orang jahat darimu, orang-orang kaya darimu adalah orang-orang kikir darimu, sedang urusanmu diserahkan pada wanita-wanitamu, maka dalamnya bumi lebih baik bagimu dari permukaannya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, Abu Nu’aym, al-Khatib dalam al-Tarikh, Ibn Abi al-Dunya dalam al-Tawbah dan Abu ‘Amru al-Dani dalam al-Sunan al-Waridah fi al-Fitan. Kesemuanya dari Abu Hurayrah melalui Salih bin Basir al-Murri.778
Hukum Hadis: Sangat da’if
al-Tirmidhi mengatakan hadis ini gharib, yang tidak diketahui kecuali melalui riwayat Salih al-Murri. Salih dalam hadis-hadisnya terdapat banyak perkara-perkara yang aneh. Ia telah menyendiri dalam meriwayatkannya, dan tidak ada yang mengikutinya, akan tetapi ia sendiri merupakan seorang yang saleh.779
al-Suyuti menyebutkan, hadis ini tanpa memberikan hukumnya. al-Munawi menilainya da’if dengan mengutip pendapat al-Tirmidhi. al-Albani juga menghukumi da’if.780 Dalam biografi Salih ini ditemukan bahwa ia da’if menurut Ibn Ma’in dan al-Daraqutni. Ibn Madini berpendapat ia da’if. Ahmad menyatakan ia seorang tukang cerita dan bukan ahli hadis dan tidak mengetahui hadis. al-Nasa’i menyifatinya matruk. Menurut al-Bukhari, ia munkar al-hadith. Ibn ‘Adiy berkata, “Ia bukan termasuk orang yang sengaja memalsukan Hadis, tetapi banyak mempunyai kesalahan, karena pengetahuannya yang sedikit tentang sanad dan matan.” Ibn Hajar menyifatinya da’if.781
Melihat perbedaan pendapat beberapa orang ulama tentang riwayat Salih al-Murri ini, Penulis menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa riwayatnya sangat da’if, seperti pendapat al-Bukhari, Ibn al-Madini, al-Nasa’i dan Ahmad, meskipun beliau merupakan seorang yang saleh dan zuhud. Apalagi beliau telah menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini. Karena itu, hadis ini sangat da’if.
- 778 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Fitan, Bab (tanpa judul, no. 78), h.n. 2266; Abu Nu’aym, Hilyah al- Awliya’, jil. 6, hlm. 176; al-Khatib, Tarikh Baghdad, jil. 2, hlm. 190; Ibn Abi al-Dunya, al-Tawbah, hlm. 182-183,h.n. 179; Abu ‘Amru ‘Uthman bin Sa’id al-Dani, al-Sunan al-Waridah fi al-Fitan wa Ghawa’iliha wa al-Sa’ah wa Ashratiha, Tah. Dr. Rida Allah Muhammad Idris al-Mubarkafuri, Dar al-‘Ismah, Bayrut, 1995, jil. 3, hlm. 663, h.n. 303.
- 779 Ibid.
- 780 al-Suyu}ti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 1, hlm. 108; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 1, hlm. 4130; al-Albani,Da’if al-Jami’ al-Saghir, jil. 1, hlm. 221. h.n. 746.
- 781 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 289-290; Ibn Hajar, Tahdhib al-Tahdhib, jil. 4, hlm. 334-335; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 271.