Hadis 260


استعينوا على قضاء الحوا ئج بالكتمان، فإن كل ذي نعمة محسود.

“Jadikanlah diam sebagai penolongmu dalam menunaikan keperluan, karena setiap orang yang memperoleh nikmat itu didengki (ada pendengkinya).”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Kabir dan al-Saghir, al-‘Uqayli dalam al-Du’afa’, Abu Nu’aym, al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab dan al-Quda’i. Semuanya dari Mu’adh

melalui Sa‘d bin Sallam.641 Ibn ‘Adiy juga meriwayatkannya dari Mu’adh dengan jalan berbeda, namun pada sanadnya terdapat Husayn bin ‘Alwan.642 al-Khatib juga meriwayatkannya dari Ibn ‘Abbas melalui al-Husayn bin ‘Abd Allah al-Abzari.643

Hukum Hadis: Da’if.

Abu Hatim mengatakan bahwa hadis ini tidak dikenali sumbernya. Ibn al-Jawzi, al- Dhahabi, dan al-Shawkani menghukumi palsu, sebab Sa’id bin Sallam telah dituduh pendusta oleh Ahmad dan Ibn Numayr. Menurut al-Bukhari ia telah memalsukan hadis. Sedangkan al- Nasa’i mengatakan bahwa ia da’if. Mengikuti pendapat al-‘Ijli, ia la ba’sa bih. Dalam riwayat dari Ibn ‘Abbas terdapat al-Abzari, iapun telah dituduh pendusta. Begitu pula dengan Husayn bin ‘Alwan. Menurut Ibn ‘Adiy, ia pendusta.644

Beberapa ulama lain seperti Abu Nu’aym, al-‘Iraqi, al-Sakhawi, al-Suyuti, al-‘Ajluni dan al-Zabidi mengatakan, bahwa hadis ini tidak sampai ke taraf palsu, melainkan hanya setingkat da’if. Alasan mereka karena hadis ini telah diriwayatkan juga tanpa melalui Sa’id, Husayn ataupun al-Abzari di atas. Seperti sanad Ibn Abi al-Dunya tanpa melalui jalur ini, meskipun dikatakan oleh al-‘Iraqi sangat da’if. al-Sakhawi menyebutkan riwayat lain dari ‘Ali oleh al- Khal‘i dalam al-Fawa’id dengan lafal, استعينوا على قضاء الحوائج بكتمان لها

al-Zabidi juga menyebutkan riwayat lain yaitu dari Ibn ‘Umar.645 Menurut al-Sakhawi, hadis ini boleh dikuatkan (isti’nas) dengan hadis yang diriwayatkan al-Tabarani dalam al-Awsat dari Ibn ‘Abbas dengan lafal, إن لأهل النعم حسادا فاحذروه646

Jadi, hadis ini boleh dihukumi da’if, karena adanya shahid dan beberapa jalur yang menguatkan seperti yang telah diuraikan. Beberapa tahun lalu seorang ulama telah menulis kitab Ithbat al-Burhan fi Sihhah Hadith Ista‘inu ‘ala al-Hawa’ij bi al-Kitman, di mana beliau membuktikan ke-da’if-an hadis ini.647


  • 641 al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, jil. 20, hlm. 183; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Saghir, hlm. 116, h.n. 1152; al-‘Uqayli, al-Du’afa’, jil. 2, hlm. 109; Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 5, hlm. 215; al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 5, hlm. 277, h.n. 6555; al-Quda’i, jil. 1, hlm. 410-413, h.n. 707-708.
  • 642 Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 2, hlm. 771.
  • 643 al-Khatib, Tarikh Baghdad, jil. 8, hlm. 56-57.
  • 644 al-Razi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 255, h.n. 2558; Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 2, hlm. 165; al- Sakhawi, al- Fawa’id, hlm. 70 dan 261; al-Dhahabi; Tartib al-Mawdu’at, hlm. 172, h.n. ; lih. biografi Sa’id bin Salam dalam al- Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 141; Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 1, hlm. 321-322; Ibn Hajar, Lisan al-Mizan, jil. 3, hlm. 31-32; biografi Husayn bin ‘Alwan dalam Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 2, hlm 771; biografi al-Abzari dalam al-Khatib, Tarikh Baghdad, jil. 8, hlm. 56-57.
  • 645 Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 5, hlm. 215; al-‘Iraqi, al-Mughni, jil. 3, hlm. 234; al-Suyuti, al- La’ali, jil. 2, hlm. 81; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 134; al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 56- 57, h.n. 103; al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 8, hlm. 54.