Hadis 258


ليس مني ذوحسد وذو نميمة ولا ذو كهانة ولا أمانة منه، ثم تلى هذه الآية ) والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ماكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا635)
“Tidak tergolong dariku seorang pendengki, pengadu domba maupun juru ramal, dan tiada amanah darinya. Kemudian, Beliau Saw. membacakan ayat, ‘Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, mereka sesungguhnya telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.’”

Takhrij Hadis:

Seperti yang dijelaskan oleh al-Mundhiri dan al-Haythami, hadis ini diriwayatkan al- Tabarani dalam al-Kabir dari ‘Abd Allah bin Bishr melalui Sulayman bin Salamah al-Khaba’izi.636

Hukum Hadis: Sangat da’if

al-Mundhiri menjelaskan da’if-nya hadis ini dengan lafal “diriwayatkan” (ruwiya). al- Haythami mengatakan bahwa Sulayman bin Salamah ditinggalkan (matruk). Menurut Abu Zur’ah dan Ibn ‘Adiy, ia ditinggalkan dan jangan mengkaji riwayatnya. Ibn al-Junayd berpendapat bahwa ia seorang yang jujur dan pernah berdusta (saduq, yakdhib). Sedangkan al-Khatib mengatakan bahwa ia masyhur dengan ke-da’if-annya.637

al-Suyuti menghukumi hadis ini hasan. al-Munawi menolaknya dan mengatakan bahwa al-Mundhiri telah men-da’if-kannya. al-Haythami mengatakan bahwa pada sanadnya terdapat Sulayman bin Salamah, perawi yang ditinggalkan. al-Albani menghukumi hadis ini palsu, sebab Sulayman dituduh pendusta oleh Ibn Junayd.638 Namun seperti yang telah disebutkan di atas, ia disifati sebagai seorang yang jujur, yang dahulunya pendusta. Jadi, menghukumi hadis ini dengan sangat da’if lebih selamat dari menghukuminya palsu. Meskipun kesannya sama, yaitu tidak boleh digunakan sebagai dalil dalam semua masalah.


  • 635 al-Qur’an, al-Ahzab 33: 58.
  • 636 al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 3, hlm. 399; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 8, hlm. 91.
  • 637 Ibid., dan lihat biografi Sulayman bin Salman dalam al-Razi, al-Jarh wa al-Ta’dil, jil. 4, hlm. 121-122; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 209.
  • 638 al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 1402; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 5, hlm. 390; al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Da’ifah, jil. 1, hlm. 54-55, h.n. 586.