Hadis 227


من تكلم قبل السلام فلا تجيبوه

“Siapa berbicara sebelum mengucapkan salam, maka janganlah kamu menjawabnya.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Sinni, al-Tabarani dalam al-Awsat dan Abu Nu’aym dari Ibn ‘Umar dengan lafal,

من بدأ الكلام قبل السلام فلا تجيبوه
Dalam lafal al-Tabarani السؤال sebagai ganti الكلام.552

Hukum Hadis: Da’if.

al-‘Iraqi mengatakan sanad al-Tabarani dan Abu Nu’aym tidak kuat (layyin). al-Haythami dan al-Zabidi mengatakan dalam sanad al-Tabarani terdapat H<arun bin Muhammad Abu Tayyib. Ia dituduh pendusta. al-Suyuti menghukumi hadis ini da’if.553 Ibn Sinni meriwayatkannya dengan jalur berbeda;

أخبرنا العباس بن أحمد الحمصي، ثنا كثير بن عبيد، ثنا بقية بن الوليد، ثنا ابن أبي رواد عن نافع عن ابن عمر

al-Albani menghukumi hadis dengan sanad dari Ibn Sinni ini hasan.554 Akan tetapi seorang perawi dalam sanad ini belum ditemukan biodatanya, yaitu al-‘Abbas bin Ahmad al-Humsi. al- Albani juga tidak menerangkan biodata beliau. Jadi, untuk menghukumi hadis ini hasan adalah kurang teliti. Maka Penulis mengambil pendapat ulama-ulama terdahulu seperti al-‘Iraqi dan al- Suyuti yang menghukumi hadis ini da’if. hadis ini mempunyai shahid yang diriwayatkan oleh al- Tirmidhi, Abu Ya’la dan al-Quda’i dari Jabir secara marfu’ melalui ‘Ansabah bin ‘Abd al-Rahman dengan lafal الكلام قبل السلام. Akan tetapi hadis ini sangat da’if, karena seorang perawinya, yaitu

‘Ansabah, menurut Abu Hatim hadisnya matruk dan termasuk pemalsu hadis. Ibn Hibban mengatakan bahwa ia pemilik hadis-hadis palsu. Ibnu Hajar mengatakan matruk. Abu Hatim menuduhnya pemalsu hadis.555 Jadi, riwayat ini tidak dapat dijadikan penguat hadis yang asal.


  • 552 Ibn Sinni, ‘Amal al-Yawm wa al-Laylah, hlm. 90, h.n. 213; Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 8, hlm. 199; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Awsat, jil. 1, hlm. 269-270, h.n. 43.
  • 553 al-‘Iraqi, al-Mughni, jil. 2, hlm. 257; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 8, hlm. 32; al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 6, hlm. 273; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 43; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 6, hlm. 94; Muhammad Nasir al-Din al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah wa Shay’ min Naf’iha wa Fawa’idiha, Maktabah al-Ma’arif, al-Riyad, 1988, jil. 2, hlm. 479.
  • 554 al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, jil. 2, hlm. 479.
  • 555 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Isti’dhan, Bab Ma Ja’a fi al-Kalam Qabl al-Salam, h.n. 2700; Abu Ya’la, Musnad, jil. 4, hlm, 48. h.n. 2059; al-Quda’i, Musnad, jil. 1, hlm. 56, h.n. 34; Lih, biografi ‘Ansabah dalam al-Razi, al-Jarh wa al-Ta’dil, jil. 6, hlm. 402-403; Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 2, hlm. 178-179; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 433.