إن هذه الأية نزلت في حق ثوبان مولى رسول الله، وكان شديد الحب لرسول الله قليل الصبر عن مفارقته، فأتى النب يوما وقد تغير وجهه ونحل جسمه وعرف الحزن في وجهه، فسأله رسول الله عن حاله فقال يا رسول الله، مابي من وجع ولا مرض غير أني إذا لم أراك استوحشت وحشة شديدة حتى ألقاك، فذكرت الآخرة فخفت أن لا أراك هنالك، لأنني عرفت أنك ترفع مع النبيين، وإن دخلت الجنة كنت في منزل دون منزلك، وإن لم أدخل فلا اراك ابدا، فكيف يكون فيها حال؟ فنزلت (ومن يطع الله والرسول505)
“Sesunggulmya ayat ini turun mengenai Thauban, bekas budak Rasulullah Saw. Ia sangat mencintai Rasulullah dan sedikit sabar untuk berpisah darinya. Pada suatu hari, ia datang pada Nabi, sedang wajahnya telah berubah. Tubuhnya kurus dan tampak sedih pada wajahnya. Maka Rasulullah bertanya tentang kondisinya. Ia menjawab, ‘Ya Rasulullah, tidak ada rasa nyeri maupun penyakit dalam diriku. Hanya saja bila aku tidak melihatmu, aku merasa sangat gelisah, hingga aku bertemu denganmu. Aku ingat akan akhirat lalu aku khawatir jangan-jangan aku tidak dapat melihatmu di sana, karena aku tahu bahwa engkau diangkat bersama para nabi. Jika aku dimasukkan ke surga, aku berada pada tingkat di bawah tingkatanmu. Dan jika aku tidak dimasukkan, maka aku takkan melihatmu selama-lamanya. Maka bagaimana keadaanku di sana?” Maka turunlah: (Dan siapa mentaati Allah dan Rasul…)”
Takhrij Hadis:
Hadis ini disebutkan oleh al-Wahidi dalam Asbab al-Nuzul dari al-Kalbi, tanpa disebutkan sanadnya. Beliau berkata, “al-Kalbi berkata,…” al-Wahidi juga menyebutkan beberapa sebab lain diturunkan ayat ini, selain hadis yang disebutkan al-Khubawi.506 al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab, al- Tabarani dalam al-Kabir. Dan dari al-Tabarani Ibn Mardiwayh meriwayatkannya dalam al-Tafsir seperti yang dikatakan Ibn Hajar. Semuanya dari Ibn ‘Abbas dengan lafal, الأنصار من رجل sebagai ganti Thawban.507 al-Tabari juga meriwayatkan dalam Tafsir-nya dari beberapa orang Tabi‘in seperti Sa’id bin Jubayr, Qatadah, al-Sadiy dan al-Rabi’, yang semuanya meriwayatkan secara mursal dengan lafal الأنصار من رجل.508
Seperti yang diisyaratkan oleh al-Haythami, al-Tabarani juga meriwayatkannya dalam al- Saghir dan al-Awsat dari ‘A’ishah tanpa menyebutkan nama sahabat tersebut, baik itu Thawban atau sahabat Nabi yang lainnya.509
Hukum Hadis: Sahih.
Sanad al-Wahidi palsu, sebab seperti yang telah dijelaskan pada hadis sebelumnya, al- Kalbi dituduh pendusta oleh kebanyakan ulama ahli hadis. Maka riwayatnya tidak dapat diterima. Riwayat al-Tabari semuanya mursal. Mursal merupakan satu dari jenis hadis da’if. Sedangkan sanad riwayat dari Ibn ‘Abbas adalah sahih. Semua perawinya adalah perawi hadis sahih. Demikian pula riwayat dari ‘A’ishah yang dikatakan oleh al-Haythami bahwa perawinya adalah perawi sahih, kecuali ‘Abdullah al-‘Abidi. Beliau thiqah.510 Jadi, hadis ini sahih.
- 505 al-Qur’an, al-Nisa’ 4: 69
- 506 al-Wahidi, Asbab Nuzul al-Qur’an, hlm. 158.
- 507 al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 2, hlm. 131, h.n. 1380; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, jil, 12, hlm.68, h.n. 12559; Ibn Hajar, al-Kafi al-Shaf, hlm. 46, h.n. 374; al-Munawi, al-Fath al-Samawi, jil. 2, hlm. 500-502, h.n. 376.
- 508 al-Tabari, Tafsir, jil. 5, hlm. 163-164.
- 509 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 7, hlm. 7
- 510 Ibid.