Hadis 167


خلق الله وجوه الحور من أربعة ألوان: أبيض وأخضر وأصفر وأحمر، وخلق بدنها من الزعفران والمسك والعنبروالكافور، وشعرها من قرنفل، فمن أصابع رجلها إلى ركبتها من الزعفران الطيب، ومن ركبتها إلى سرتها من المسك، ومن سرتها إلى عنقها من العنبر، ومن عنقها إلى رأسها من الكافور، ولو بصقت بصقة في الدنيا لصارت مسكا، مكتوب في صدرها اسم زوجها واسم من أسماء الله تعالى، ما بين منكبيها فرسخ، وفي كل يد من يديها عشرة أسورة من ذهب، وفي أصابعها عشرة خواتم، وفي رجلها خلاخيل من الجواهر واللؤلؤ.

“Allah menciptakan wajah para bidadari dari empat warna: putih, hijau, kuning dan merah. Dan menciptakan tubuhnya dari za‘faran, ambar dan kapur barus; sedang rambutnya dari cengkeh, jari-jari kakinya sampai ke lututnya dari za‘faran yang harum, lututnya sampai ke pusarnya dari kasturi, dari pusarnya sampai ke lehernya dari ambar, dari lehernya sampai kepalanya dari kapur barus. Dan sekiranya ia meludah setetes ke dunia, tentu ludahnya itu menjadi kasturi. Tertulis pada dadanya nama suaminya dan salah satu di antara nama-nama Allah. Di antara kedua bahunya luas, dan pada masing- masing dari kedua tangannya terdapat sepuluh gelang emas dan pada jari-jarinya ada sebuah cincin, sedang pada kakinya terdapat gelang-gelang kaki dari intan dan mutiara.”

Takhrij Hadis:

al-Khubawi mengutip hadis ini dari kitab Daqa’iq al-Akhbar tanpa menyebutkan perawi, termasuk perawi sahabat. Ia hanya mengatakan bahwa terdapat khabar dari Nabi Saw.437

Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.

Hadis tentang penciptaan bidadari dan bahan dasar penciptaannya memang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadis. Hanya saja yang sejelas dan sedetail hadis ini tidak dapat ditemukan. Dari sudut bahasa, ia bukan bahasa Nabi, dan jarang sekali ditemukan hadis Nabi yang sahih yang menjelaskan suatu hal secara terperinci, kecuali terkait masalah hukum. hadis di atas terasa sekali keanehan dan kejanggalan bahasa serta isinya. Ditambahkan lagi, seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan tentang sumber rujukan kitab Durrah al-Nasihin, kitab Daqa’iq al-Akhbar ini termasuk kitab yang tidak mu’tabar. Kemudian, karena hadis ini tidak ditemukan dalam kitab hadis yang mu’tabar dan mu’tamad, maka hadis ini dapat dinilai palsu.


  • 437 ‘Abd al-Rahim al-Qadi, Daqa’iq al-Akhbar, hlm. 79.