ألا إن رجب شهر الله الأصم، فمن صام منه يوما إيمانا واحتسابا استوجب عليه رضوان الله الأكبر، فمن صام منه يومين لا يصف الواصفون من أهل السماء والأرض ماله عند الله من الكرامة، ومن صام ثلاثة أيام عوفي من كل بلاء الدنيا وعذاب الآخرة والجنون والخذام والبرص ومن فتنة الدجال، ومن صام سبعة أيام غلقت عنه سبعة أبواب جهنم، ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة، ومن صام عشرة أيام لم يسأل من الله شيئا إلا أعطاه، ومن صام خمسة عشر يوما غفر الله تعالى ذنوبه ماتقدم وبدله بسيآته حسنات ومن زاد، زاد الله أجره
“Ketahuilah, bahwasanya Rajab adalah bulan Allah yang tuli. Maka, siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, karena iman dan ikhlas, maka pastilah mendapat keridaan Allah yang terbesar. Siapa berpuasa dua hari, maka takkan ada penghuni langit maupun bumi yang dapat mengatakan tentang kemuliaannya yang diperoleh dari sisi Allah. Siapa berpuasa tiga hari, maka diselamatkan dari segala bencana dunia dan azab akhirat, penyakit gila, kusta, sopak, dan dari tipu daya Dajjal. Siapa berpuasa tujuh hari, maka ditutuplah terhadapnya tujuh pintu Jahannam. Siapa berpuasa delapan hari, maka dibukakanlah untuknya delapan pintu surga. Siapa berpuasa sepuluh hari, maka tidak ada sesuatu pun yang dimintanya kepada Allah kecuali Dia berikan kepadanya. Siapa berpuasa lima belas hari, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat, dan menggantikan kesalahan-kesalahan dengan kebaikan-kebaikan. Dan siapa menambah puasanya, maka Allah akan menambah pahalanya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab al-iman dan Fada’il al-Awqat dan al-Asfahani dalam al-Targhib. Semuanya melalui ‘Uthman bin Matar dari ‘Abd al-Ghafur dari ‘Abd ‘Aziz bin Sa’id dari bapaknya.417
Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.
Dalam sanad al-Bayhaqi terdapat beberapa perawi yang lemah dan sangat lemah, serta seorang yang dituduh meriwayatkan hadis palsu dari perawi terpercaya (thiqat). Salah satunya adalah ‘Uthman bin Matar yang dinilai lemah oleh Abu Hatim, al-Nasa’i, al-Dhahabi dan Ibn Hajar. Sedangkan Abu Salih ‘Abd al-Ghafur al-Wasiti, menurut al-Bukhari, mereka meninggalkannya dan hadisnya munkar. Ibn ‘Adiy berkata: Ia da’if dan hadisnya munkar. al- Nasa’i berpendapat ia perawi yang hadisnya ditinggalkan. Ibn Hibban juga menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari perawi thiqat.
al-Bayhaqi yang meriwayatkan hadis ini hanya mengatakan bahwa sanad-nya da’if. Akan tetapi Ibn Hajar yang diikuti oleh Ibn ‘Arraq menilainya palsu.418
- 417 al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 3, hlm. 368, h.n. 3801; al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm. 92-93; al- Asfahani, al-Targhib, jil. 2, hlm. 392, h.n. 1849.
- 418 al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm. 90; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 3, hlm. 188; Ibn Hajar, Tabyin al-‘Ajab, hlm. 20-24; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm 158; dan lihat biografi ‘Uthman bin Matar dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 53-56; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 386; dan biografi ‘Abd al-Ghafur dalam Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 2, hlm. 148; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 55; al-Halabi, al- Kashf al-Hathith, hlm 171.