Hadis 15


إذا كان أول ليلة من رمضان هبت ريح من تحت العرش يقال لها المثيرة وتتحرك أوراق أشجار الجنة فيسمع من ذلك صدى لم يسمع السامعون أحسن منه فتنظر الحور العين إلى ذلك فيقلن: اللهم اجعل لنا في هذا الشهر من عبادك أزواجا، فما من عبد صام

رمضان إلا زوجه الله تعالى من تلك الحور في الخيمة كما قال الله تعالى في كلامه القديم )حور مقصورات في الخيام(123 وعلى

كل حوراء منهن سبعون حلة ليست على لون واحد، ولكل امرأة سرير من ياقوتة حمراء منسوج بالدر، وعلى كل سرير سبعون فراشا وسبعون مائدة من ألوان الطعام، هذا لمن صام رمضان سوى ما عمل من الحسنات.

“Apabila tiba hari pertama bulan Ramadan, maka bertiuplah angin dari bawah ‘Arash yang disebut angin Mutsirah, dan bergerak-geraklah daun-daun pohon surga, sehingga terdengarlah oleh karena gema, yang orang tidak pernah mendengar gema yang lebih indah dari itu. Maka, para bidadari pun memperhatikan itu, lalu berkata: “Ya Allah, jadikanlah untuk kami pada bulan ini suami-suami di antara hamba-hamba-Mu.” Maka, tidak seorang pun hamba Allah yang berpuasa pada bulan Ramadan, kecuali dijodohkan oleh Allah dengan seorang istri dari bidadari-bidadari itu dalam rumah, sebagaimana Allah mengatakan dalam firman-Nya yang dahulu: “(Bidadari-bidadari jelita yang putih bersih dipingit dalam rumah).” Sedang setiap bidadari mengenakan 70 pakaian yang warnanya tidak sama. Dan untuk setiap wanita ada sebuah tahta yang terbuat dari permata yaqut merah bertahtakan mutiara, dan pada setiap tahta, terdapat 70 kasur dan 70 hidangan dari berbagai macam makanan. Ini semua untuk orang yang berpuasa pada bulan Ramadan, selain (pahala) kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya.”
Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan al-Baihaqi dalam al-Shu’ab al-iman, Abu Shaykh dalam Thawab al-A’mal, al-Asfahani dalam al-Targhib dan Ibn al-Jawzi dalam al- ‘Ilal, semuanya dari Ibn ‘Abbas.124

Penulis mendapati bahwa semua yang meriwayatkan hadis ke 5; Ibn Khuzaymah, al- Baihaqi, al-Asfahani, Abu Ya’la dan al-Samarqandi telah meriwayatkan hadis ini dari Ibn Mas’ud dan Abu Mas’ud al-Ghaffari. Dalam riwayat mereka, hadis ini adalah sambungan dari hadis ke 5 tersebut.

Hukum Hadis: Da’if

Menurut Ibn al-Jawzi, hadis ini tidak sahih disebabkan ada tiga perawinya yang dikritik, yaitu pertama, al-Dahhak yang menurut Yahya bin Sa’id adalah da’if. Kedua, al-Qasim bin Hakam tidak dikenali (majhul). Ketiga, al-‘Ala’ bin ‘Amru yang menurut Ibn Hibban tidak boleh ber-hujjah dengan periwayatannya.125

Pendapat Penulis, hadis ini tidak sampai ke level palsu, karena al-Qasim bin Hakam di atas tidak majhul seperti disangkakan, akan tetapi beliau thiqah menurut al-Nasa’i dan saduq menurut Ibn Hajar. Disamping hadis ini juga mempunyai shahid dari hadis Ibn ‘Umar yang diriwayatkan Ibn al-Jawzi dalam ‘Ilal, meskipun sanad-nya da’if, akan tetapi dapat mengisyaratkan bahwa hadis ini mempunyai asal. Bahkan al-Mundhiri dalam al-Targhib mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Abu Shaykh dalam Thawab al-A’mal dan al- Baihaqi. Dalam isnad al-Baihaqi tidak ada yang disepakati bersama bahwa ia da’if. Ditambah lagi bahwa hadis ini telah diriwayatkan juga dari Ibn Mas’ud dan Abu Mas’ud al-Ghaffari oleh Ibn Khuzaymah, al-Baihaqi, al-Asfahani, Abu Ya’la, dan al-Samarqandi dengan sanad yang da’if seperti yang telah dijelaskan di atas.126 Namun demikian, tidak berarti bahwa hadis ini menjadi hasan. Sebaliknya hadis ini juga tidak boleh dikategorikan sebagai palsu


  • 123 al-Qur’an, al-Rahman 55: 72.
  • 124 al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 3 hlm. 304; al-Asbahani, al-Targhib, jil. 2, hlm. 358-359, h.n. 1768; ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali bin al-Jawzi, al- ‘Ilal al-Mutanahiyah fi al-Ahadith al-Wahiyah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1983, jil. 2, hlm. 534-537, h.n. 880.
  • 125 Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 536-537, h.n. 881.
  • 126 Ahmad bin ‘Ali bin Hajar, Tahdhib al-Tahdhib, Dar al-Ma’arif al-Nizamiyyah, al-Hind, 1327 H, jil. 3, hlm. 311; Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 536-537, h.n. 881; ‘Abd al-‘Azim bin ‘Abd al-Qawiy al-Mundhiri, al- Targhib wa al-Tarhib min al-Hadith al-Sharif, Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, Bayrut, 1968, jil. 2, hlm. 99.