Hadis 143


عليكم بلا إله إلا الله والاستغفار فأكثروا منهما فإن إبليس عليه اللعنة قال: أهلكت الناس بالذنوب والمعاصي وأهلكوني بلا إله إلا الله والاستغفار، فلما رأيت ذلك أهلكتهم بالهوى وهم يحسبون أنهم مهتدون.

“Senantiasalah kamu membaca La ilaha illa Allah dan istighfar. Perbanyaklah kamu membaca keduanya. Karena sesungguhnya Iblis berkata: “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan, namun mereka membinasakanku dengan la ilaha illa Allah dan istigfar. Tatkala aku melihat hal itu, maka aku binasakan mereka dengan hawa nafsu, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Abi ‘Asim dalam al-Sunnah, Abu Ya’la dan al-Tabarani dalam al-Du‘a’ secara ringkas. Semuanya melalui ‘Uthman bin Matar dari ‘Abd al-Ghafur dari Abu Nusayrah dari Abu Raja’ al-Ataridi dari Abu Bakar al-Siddiq.390

Hukum Hadis: Sangat da’if

Hadis ini dinilai da’if oleh al-Haythami, al-Suyuti, al-Munawi dan al-Busiri seperti yang dikutip al-A’zami dan Husayn Salim Asad. Sebabnya adalah salah seorang perawinya yang bernama ‘Uthman bin Matar al-Shaybani dinilai da’if. al-Albani menilai hadis ini dengan mengatakan bahwa isnad-nya mawdu’ (palsu). Menurut al-Albani, selain ‘Uthman, gurunya yang bernama ‘Abd al-Ghafur juga dinilai da’if, bahkan Ibn Hibban mengatakan bahwa ia termasuk orang yang memalsukan hadis.391

Dalam biografi ‘Abd al-Ghafur ditemukan pendapat al-Bukhari bahwa para ulama meninggalkan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abd al-Ghafur. Ibn Ma’in berpendapat bahwa hadis riwayat ‘Abd al-Ghafur tidak bernilai sama sekali. Ibn ‘Adiy berkata: Ia adalah lemah atau munkar al-hadith.392

Melihat kredibilitas ‘Abd al-Ghafur, penilaian hadis ini sebagai hadis yang sangat lemah lebih tepat dari pada penilaian palsu. Sebab, ulama yang mengatakan bahwa ‘Abd al-Ghafur di atas sebagai pemalsu hadis adalah Ibn Hibban saja. Pernyataan al-Bukhari, Ibn Ma’in, dan Ibn ‘Adiy menilainya sebagai perawi yang sangat lemah, tetapi tidak sampai ke tahap pendusta. Mungkin karena itu al-Haythami dan al-Busiri hanya mengatakan isnad-nya da’if.


  • 390 Ibn Abi ‘Asim, al-Sunnah, jil. 1, hlm. 9; Abu Ya’la, Musnad, jil. 1, hlm. 42, h.n. 136; Sulayman bin Ahmad al-Tabarani, Kitab al-Du’a’, Dar al-Basha’ir, Bayrut, 1987, jil. 3, hlm. 1601, h.n. 1780.
  • 391 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 10, hlm. 207; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 139; al- Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 4, hlm. 354-355; al-A’zami, Tahqiq al-Matalib al-‘Aliyah, jil. 3, hlm. 96; Husayn Salim Asad dalam Tahqiq Musnad Abi Ya’la, jil. 1, hlm. 43; Muhammad Nasir al-Din al-Albani dalam Tahqiq al-Sunnah, jil. 1, hlm. 43.
  • 392 Lihat biografi ‘Abd Ghafur dalam Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 2, hlm. 148; al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 641.