Hadis 127


لما نزل [الحمد لله رب العالمين349] و آية [الكرسي] 350 و[شهد الله أنه لاإله إلا هو]351 و [ قل اللهم مالك الملك] إلى قوله

]بغير حساب[ 352 تعلق بالعرش وقلن: يا رب أنزلنا على قوم يعملون بمعاصيك؟ فقال الله تعالى: وعزتي وجلالي لايتلون عبد عند دبر كل صلاة مكتوبة إلا غفرت له وأسكنته جنة الفردوس وأنظر إليه كل يوم سبعين، وأقضي له سبعين حاجة أدناها المغفرة. وقرأ هذه الآية: شهد الله أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولو العلم قائما بالقسط لاإله إلا هو العزيز الحكيم. وفي رواية الطبراني: وأنا أشهد أنك لا إله إلا أنت العزيز الحكيم

“Ketika turun: al-Hamdu lillahi rabbil ‘alamin, ayat al-Kursi, Shahidallahu annahu la ilaha illa huwa, qulillahumma malik al-mulki, sampai dengan firman-Nya: Bighayri Hisab, maka ayat-ayat itu bergantungan pada ‘Arash, dan berkata: “Ya Tuhanku, apakah Engkau menurunkan kami kepada suatu kaum yang melakukan kemaksiatan- kemaksiatan terhadap-Mu? Maka Allah menjawab: “Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, tidak seorang hamba pun yang membaca tiap-tiap sehabis shalat fardu, kecuali Aku ampuni ia, dan Aku tempatkan ia ke dalam surga Firdaus, dan Aku memandangnya setiap hari tujuh puluh kali, dan Aku tunaikan tujuh puluh hajatnya. Yang paling ringan di antaranya adalah ampunan.” Dan Nabi pun membaca ayat ini: Shahidallahu annahu la ilaha illa huwa wal mala’ikatu wa ‘ulul ‘ilmi qa’iman bil qisti la ilaha illa huwal ‘azizul hakim. Lalu beliau bersabda: “Dan aku tergolong orang yang menyaksikan hal itu.” Sedang menurut lafaz al-Tabrani: “Dan aku bersaksi bahwa Engkau, tiada Tuhan melainkan Engkau, Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Sinni dalam ‘Amal al-Yawm dan Ibn Hibban dalam al- Majruhin keduanya melalui al-Harith bin ‘Umayr dari Abu Ja’far bin Muhammad dari bapaknya dari kakeknya dari ‘Ali bin Abu Talib. al-Suyuti mengisyaratkan bahwa al-Daylami meriwayatkannya pula dari Abu Ayyub dengan sedikit perbedaan lafaz.353

Hukum Hadis: Da’if.

Ada kontroversi ulama dalam menilai hadis ini. Ibn Hibban dan Ibn al-Jawzi menilainya palsu dengan alasan bahwa dalam sanad hadis terdapat al-Harith bin ‘Umayr. Menurut Ibn Hibban, ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari perawi-perawi thiqah. Menurut al-Hakim, al- Harith meriwayatkan hadis-hadis palsu dari Humayd dan Ja’far al-Sadiq. Alasan kedua adalah seperti yang disampaikan oleh Ibn Hajar mengapa Ibn al-Jawzi menilai palsu, karena adanya pahala yang terlalu besar yang dijanjikan dalam hadis ini. Ibn al-Jawzi berkata bahwa hadis ini telah diketahuinya sejak kecil dan hatinya tertarik dengan hadis ini. Tetapi, setelah ia mengetahui bahwa hadis ini palsu, ia langsung meninggalkannya.

Pendapat tersebut ditolak oleh al-‘Iraqi, kemudian diikuti oleh Ibn Hajar dan al-Suyuti. Alasan mereka, al-Harith di atas adalah thiqah. Ia di-thiqah-kan oleh Hammad bin Zayd, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibn Ma’in dan al-Nasa’i, dan al-Bukhari meriwayatkan hadisnya sebagai shahid. Namun untuk menilainya sebagai hadis sahih juga bermasalah. Menurut Ibn Hajar, dalam sanad ini ada yang terputus namun tidak nampak, yaitu damir (ـه) pada bapak dan kakek Abu Ja’far di atas boleh ditafsirkan al-Bakir dari al-Husayn atau Zayn al ‘Abidin dari ‘Ali. Akan tetapi, pendengaran (سماع) al-Bakir dari al-Husayn atau Zayn al ‘Abidin dari ‘Ali bermasalah. Sebagian ulama berpendapat bahwa keduanya tidak mendengar dari bapaknya.

al-Suyuti, selain mengutip pendapat al-‘Iraqi dan Ibn Hajar di atas, juga menguatkan hadis ini dengan riwayat al-Daylami dari Abu Ayyub dengan sanad sebagai berikut:

أنبأنا أبو منصور العجلي، أنبأنا طالب، حدثنا أبو القاسم علي بن محمد بن عيسى بن موسى بن الحسين البزارحدثنا محمد بن علي المصري، أنبأنا محمد بن عبد الرحمن بن بحير بن ريسان، حدثنا عمرو بن  الربيع بن طارق، حدثنا يحي بن أيوب، حدثنا إسحاق بن أسـيد عن يعقوب بن إبـراهيم عن محمد بن ثابت شرحبيل عن عبد الله بن يزيد الخطمي عن أبي أيوب مرفوعا354

Namun, shahid yang dikemukakan al-Suyuti ini dalam sanad-nya terdapat Muhammad bin ‘Abd Rahman, ia dituduh oleh Ibn ‘Adiy dan al-Khatib sebagai pendusta, maka riwayat ini sama sekali tidak dapat menguatkan hadis asal. Karena itu, hadis ini tetap da’if, karena sanad hadis yang asal da’if disebabkan adanya sanad yang terputus. al-Qurtubi menyebutkan hadis ini dalam al-Tidhkar tanpa memberikan komentar.355


  • 349 al-Qur’an, al-Fatihah. 1: 1.
  • 350 al-Qur’an, al-Baqarah 2: 255.
  • 351 al-Qur’an, Ali ‘Imran 3: 18.
  • 352 al-Qur’an, Ali ‘Imran 3: 26.
  • 353 Ahmad bin Muhammad bin Ishaq al-Daynuri Abu Bakar bin Sinni, ‘Amal al-Yawm wa al-Laylah, Dar al-Tiba‘ah al-Muhammadiyyah, al-Qahirah, 1969, hlm. 56; Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 1, hlm. 223; al-Suyuti, al- La’ali, jil. 1, hlm. 228-230.
  • 354 Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 1, hlm. 223; Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 1, hlm. 244-245; al-Suyuti, al-La’ali, jil. 1, hlm. 228-230; Lihat biografi al-Harith dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 440.
  • 355 al-Qurtubi, al-Tidhkar, hlm. 235-236; Lihat biografi Muhammad bin ‘Abd Rahman dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 621.