Hadis 101


… فانطلق بي جبريل إلى رجل كثيرة كل رجل منه بطنه مثل بطن البعير الضحخم منضدين بعضهم على بعض على سابلة آل فرعون يطؤهم آل فرعون يعرضون لى النار غضوا وعشيا يقبلون مثل الإبل المنهومة، يخبطون الحجارة والشجر، لايسمعون ولا يعقلون، فإذا أحس بهم أصحاب تلك البطون قاموا فتميل بهم بطونهم فيصرعون. ثم يقوم أحدهم فيميل به بطنه فيصرع فلا يستطيعون أن يرجعوا أي أن يزايلوا مكانهم حتى يغشاهم آل فرعون مقبلين ومدبرين، فذلك عذابهم في البرزخ. وقال عليه الصلاة والسلام: وآل فرعون يقولون اللهم لا تقم الساعة أبدا. يقول الله تعالى ]أدخلوا آل فرعون أشد العذاب295.[ قلت: يا جبرائيل، من

هؤلاء؟ قال: هؤلاء آكل الربا من أمتك [لا يقومون إلا كما يقوم الذي يتخبطه الشيطان من المس296.]

“… Maka bertolaklah Jibril membawaku menuju laki-laki yang banyak. Masing-masing mereka berperut seperti perut unta yang gemuk. Saling tindih sesama mereka di jalan keluarga Fir‘aun. Sedang keluarga Fir‘aun menginjak mereka, dalam keadaan dipanggang di atas api pagi dan petang. Mereka maju ke depan bagaikan unta yang dihardik. Maksudnya, seperti unta yang diteriaki supaya cepat-cepat berjalannya, atau seperti Dhun Nahm (yang keterlaluan dalam memperturutkan syahwat kepada makanan lantaran lapar).” Mereka membentur batu-batu dan pohon-pohon. Tidak mendengar dan tidak pula berpikir. Apabila orang-orang mempunyai perut-perut seperti itu merasakan kedatangan mereka, maka mereka pun bangkit, dan oleh karenanya perut-perut mereka miring, lalu mereka pun tersungkur. Kemudian salah satu dari mereka bangkit. Maka miringlah karena perutnya, sehingga tersungkur, lalu tidak dapat lagi kembali, yakni tidak bisa meninggalkan tempat mereka, sehingga didatangi oleh keluarga Fir‘aun. Yakni diinjak-injak oleh mereka maju mundur. Demikian itulah azab mereka di alam Barzakh. Nabi Saw. berkata; keluarga Fir‘aun berkata: “Ya Allah, janganlah Engkau dirikan Sa‘ah selama-lamanya. Maka, Allah berfirman: “Masukkah keluarga Fir‘aun ke dalam azab yang terberat!” Aku bertanya: Wahai Jibril, siapakah mereka? Jibril menjawab: “Mereka adalah pemakan riba dari umatmu; ‘Mereka tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang dipukul keras-keras oleh setan lantaran penyakit gila.’”

Takhrij Hadis:

Hadis ini merupakan potongan dari hadis mengenai cerita Isra’ dan Mi’raj yang panjang, diriwayatkan oleh al-Tabari dan al-Bayhaqi dalam Dala‘il al-Nubuwwah. al-Suyuti mengisyaratkan bahwa hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan Ibn Mardiwayh. Semuanya melalui Abu Harun al-‘Abdi dari Abu Sa’id al-Khudri.297

Hukum Hadis: Sangat da’if.

Dalam sanad hadis ini terdapat Abu Harun al-‘Abdi yang nama sebenarnya ialah ‘Umarah bin Juwayn. Ia dinilai pendusta oleh Hammad bin Zayd, Shu’bah dan Salih bin Muhammad Abu ‘Ali. Menurut al-Nasa’i, ia adalah orang yang riwayat hadisnya ditinggalkan. Sedangkan menurut Ibn Ma’in, ia adalah orang lemah yang riwayat hadisnya tidak dapat dibenarkan. Ahmad mensifatkannya sebagai orang yang riwayat hadisnya kurang bernilai. Ibn Hajar berkata, penilaian  terhadap  al-‘Abdi  cukup  beragam:  ada  yang  menyebutnya  Shi’ah,  hadisnya ditinggalkan, dan ada juga yang menilainya sebagai pendusta.298 Kesimpulannya, sanad ini sangat da’if, sehingga hadisnya pun dinilai sangat da’if.


  • 297 al-Tabari, Tafsir, jil. 15, hlm. 11-14; al-Bayhaqi, Dala’il al-Nubuwwah, jil. 2, hlm. 380-396; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, jil. 4, hlm. 267.
  • 298 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 173-174; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 408.