E.Metodologi Men-takhrij Hadis


Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa teori men-takhrij hadis adalah satu kaedah baru yang mungkin dalam prakteknya sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu, namun baru diungkapkan oleh ulama sekarang secara lebih jelas dan terperinci. Dr. Mahmud al-Tahhan telah mengklasifikasikan metode pen-takhrij-an hadis menjadi 5 kaedah, yaitu:

  1. Men-takhrij dengan cara mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis. Penggunaan kaedah ini mengharuskan seorang pen-takhrij mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut. Jika diketahui bahwa sahabat yang meriwayatkan adalah Abu Hurayrah, maka hadis ini dapat dicari dalam kitab-kitab musnad pada bab Musnad Abu Hurayrah.
  2. Men-takhrij dengan cara mengetahui kata pertama (awal) dari lafaz hadis. Ini adalah cara yang paling mudah dibanding dengan cara-cara lainnya. Penggunaannya diharuskan mengetahui dengan pasti kata pertama lafaz hadis yang akan di-takhrij. Jika sudah dapat dipastikan kata pertamanya tersebut, pen-takhrij dapat merujuk kitab-kitab faharis (indeks) atau kitab indeks kumpulan beberapa kitab seperti indeks kitab Jami’ al-Usul li Ibn al-Athir atau kitab Mawsu’ah Atraf al-Hadith karya Abu Hajir Muhammad Basyuni Zaghlul. Saat ini, hampir semua kitab hadis telah dibuat indeksnya dan telah dicetak secara terpisah ataupun dicetak pada akhir kitab. Ini termasuk metode yang paling mudah.
  3. Men-takhrij dengan cara mendeteksi satu kalimat (yang sering diulang/terkenal/ bentuk kata kerja) dari redaksi hadis. Cara ini cukup mudah, pemakainya bisa memilih satu lafaz tertentu, kemudian mencarinya dalam kitab al-Mu’jam al-Mafahras li Alfaz al-Hadith.
  4. Men-takhrij dengan cara mengetahui satu judul dari judul-judul yang terkandung dalam hadis itu, dengan memilih judul yang lebih dikenal/masyhur. Metode ini mengharuskan pen-takhrij mengerti makna judul yang terdapat di dalam hadis tersebut, lalu mencarinya pada kitab-kitab tertentu yang mengandung judul itu.
  5. Men-takhrij dengan cara meneliti sifat-sifat khas yang dimiliki hadis tersebut, baik pada sanad ataupun matan-nya.93 Metode ini merupakan metode yang paling sulit dibanding yang lainnya. Terutama bagi mereka yang bukan pakar. Penggunaan metode ini mengharuskan pen-takhrij mengenal dengan pasti sifat-sifat khas yang ada di dalam hadis itu, baik yang terdapat dalam sanad seperti irsal,94 waqaf 95 atau ‘illah96 maupun dalam matan seperti mempunyai ciri-ciri hadis masyhur, palsu, gharib dan sebagainya.

Masing-masing metode mempunyai kemudahan dan kelebihan, serta kekurangannya sendiri. Karena itulah, Penulis dalam pen-takhrij-an hadis-hadis kitab D.N. ini, tidak bergantung pada satu atau dua metode saja, akan tetapi memakai semua metode tersebut, ditambah bantuan komputer program hadis keluaran Mu’assasah al-‘Alamiyyah dan PT. Ariss Computer Inc seperti yang telah dijelaskan di atas.


  • 93 al-Tahhan, Usul al-Takhrij, hlm. 37-38.
  • 94 Irsal adalah urutan sanad yang tidak bersambung.
  • 95 Waqaf adalah sanad yang terhenti pada satu peringkat tertentu.
  • 95 Waqaf adalah sanad yang terhenti pada satu peringkat tertentu.
  • 96 ‘Illah adalah kejanggalan/kecacatan yang tidak terlihat dengan jelas dalam Hadis.