قال قتادة: هذه الأية نزلت فى أصحاب الصفة وكانوا سبعمائة فقير فى مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرجعون إلى تجارة ولا إلى زرع ولا إلى ضرع يصلون صلاة ينتظرون أخرى فلما نزلت هذه الاية فقال النبى صلى الله عليه وسلم الحمد لله الذى جعل فى أمتى من أمرت أن أصبر نفسى معهم
Qatadah berkata; Ayat ini turun terkait Ashab al-Suffah (para penghuni serambi masjid). Mereka berjumlah 700 orang fakir dan tinggal di Masjid Nabi. Mereka tidak dapat Kembali ke perdagangan, pertanian ataupun peternakan. Mereka menunaikan shalat, lalu menunggu shalat berikutnya. Tatkala ayat ini turun, maka bersabdalah Nabi Saw.: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di kalangan umatku orang-orang yang aku disuruh bersamar bersama mereka.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Dala’il dari Abu Sa’id melalui al-Mu‘alla bin Ziyad, dari al-‘Ala’ bin Bashir al-Muzani dari Abu al-Siddiq al-Naji dari Abu Sa’id dengan redaksi berbeda yaitu:
كنت في عصابة من المهاجرين جالسا معهم، وإن بعضهم يستتر ببعض من العرى، وقارئ لنا يقرأ علينا فكنا نستمع إلى كتاب الله. فقال النب صلى الله عليه وسلم: الحمد لله الذي جعل من أمتي من أمرت أن أصبر معهم نفسي قال: ثم جلس 997…
Aku pernah berada di tengah-tengah sekelompok orang dari sahabat Muhajirin dengan duduk
bersama mereka. Ada sebagian di antara mereka yang bersembunyi pada sebagian yang lain karena telanjang, sementara seorang qari’ membacakan kepada kami hingga kami menyimak kitab Allah. Lantas Nabi Saw. berkata, “Segala puji milik Allah yang telah menjadikan orang- orang di antara umatku di mana diriku menyuruhku untuk bersabar bersama mereka.” Ia berkata, “Kemudian ia duduk.”
Hukum Hadis: Da’if.
Dalam sanad ini terdapat al-‘Ala’ bin Bashir. Menurut Ibn Madini dan Ibn Hajar, ia tidak dikenali (majhul). al-Dhahabi mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari Abu al-Siddiq dan yang meriwayatkan darinya (al-‘Ala’) hanyalah Mu‘alla bin Ziyad.998 Jadi sanad ini da’if. Maka secara lahiriah, hadis ini dapat dihukumi da’if.
- 997 al-Bayhaqi, Dala’il al-Nubuwwah, jil. 1, hlm. 351.
- 998 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 97; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 434.