Hadis 417


من قام بعشر آيات في الصلاة لم يكتب من الغافلين، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آية كتب من المكثرين ثوابا وهو كمن تصدق بسبعين ألف دينار

“Siapa yang berdiri membaca sepuluh ayat dalam shalatnya, tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai. Siapa yang berdiri dengan bacaan seratus ayat, maka dicatat sebagai golongan qanitin. Siapa yang berdiri dengan membaca seribu ayat, ia dicatat sebagai golongan yang terbanyak pahalanya dan ia diibaratkan orang yang bersedekah dengan tujuh puluh ribu dinar.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud, Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban. Semuanya dari ‘Abd Allah bin ‘Amr bin al-‘As. Tetapi dalam redaksi mereka tidak terdapat potongan terakhir: ثوابا

.978 المكثرين ganti sebagai المقنطرين mereka: redaksi Dalam . وهو كمن تصدق بسبعين ألف دينار

Ibn Sunni juga meriwayatkannya dari ‘Abd Allah bin ‘Amru secara ringkas dengan redaksi,

من قام بألف آية كتب من المقنطرين979

“Siapa yang berdiri membaca seribu ayat, maka dicatat sebagai golongan al-muqantirin.”
Redaksi terakhir dari hadis ini merupakan penambahan (idraj), yang merupakan penafsiran dari kata al-qintar. Dalam menafsirkan kata-kata tersebut terdapat 12 pendapat ulama, seperti dinyatakan oleh Ibn Abi Hatim dalam tafsirnya dan dinyatakan oleh al-Suyuti. al-Tabari meriwayatkan dari Ibn ‘Umar, bahwa al-qintar yang dimaksud, jumlahnya 70 ribu dinar. Beliau dan Ibn Abi Hatim juga meriwayatkan dari Mujahid, bahwa al-qintar adalah 70 ribu dinar.980

Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu dengan redaksi ini.

Hadis bagian pertama adalah marfu’, sebagai sabda Rasulullah Saw. dan sanadnya hasan sebagaimana yang dihukumi oleh al-Arna’ut. Sedangkan bagian seterusnya da’if, karena mawquf sebagai perkataan Ibn ‘Umar atau maqtu’ sebagai perkataan Mujahid.981 Jadi hadis tersebut bukan sabda Rasulullah Saw.

Penambahan perkataan seseorang ke dalam satu hadis Nabi Saw. jika dimaksudkan sebagai penafsiran, adalah tidak diharamkan, sebagaimana yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari dan yang lainnya. Sedangkan hadis di atas, penambahan di sini seakan-akan bukan merupakan penafsiran. Ia menjadi kelanjutan redaksi sebelumnya. Maka hadis dengan redaksi seperti di atas mawdu’, karena Nabi Saw. tidak menyebutkannya demikian. Nabi Saw. hanya menyabdakannya sebagaimana riwayat Abu Dawud, Ibn Khuzaymah dan lain-lainnya, seperti yang telah dijelaskan.


  • 978 Abu Dawud, Sunan, Kitab Shahr Ramadan, Bab Tahzib al-Qur’an, h.n. 1398; Ibn Khuzaymah, Sahih, Kitab Jawami‘ Abwab al-Salah, Bab Fadl Qira’ah Alf Ayat fi Laylah in Sahha al-Akhbar, h.n. 1444; Ibn Hibban, Sahih, Kitab al-Salah, Bab fi Qiyam al-Layl, h.n. 2563.
  • 979 Ibn Sunni, ‘Amal al-Yawm wa al-Laylah, hlm. 258, h.n. 708.
  • 980 Ibn Abi Hatim, Tafsir, jil. 2, hlm. 107-120; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, jil. 2, hlm. 18-19; al-Tabari, Tafsir, jil. 3, hlm. 199-202.
  • 981 Shu’ayb al-Arna’ut, Tahqiq al-Ihsan Bitartib Sahih Ibn Hibban, jil. 6, hlm. 311.