المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم إلى من يخالل.
“Seseorang terlihat dalam keberagamaan sahabatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat pada siapa orang itu bersahabat.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidhi, Ahmad, Abu Dawud al-Tayalisi, al-Hakim, Abu Nu’aym, al-Bayhaqi dalam al-Adab dan al-Shu’ab, al-Quda’i dan lain-lain dari Abu Hurayrah melalui Musa bin Wardan.893 al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab juga meriwayatkannya dari Abu Hurayrah tanpa melalui Musa bin Wardan.894
Hukum Hadis: Hasan.
Hadis ini telah dihukumi palsu oleh Ibn al-Jawzi dan al-Qazwini, namun ditolak oleh ulama-ulama yang lain, diantaranya al-Zarkashi, al-‘Ala’i, al-Sakhawi, al-Suyuti, Ibn ‘Arraq, al- Shawkani dan ‘Ali al-Qari. Mereka menolak alasan Ibn al-Jawzi yang mengatakan bahwa dalam sanad hadis ini terdapat Musa bin Wardan yang dituduh pendusta. Musa bin Wardan bukanlah pendusta. Menurut Abu Dawud ia thiqah, dan dalam riwayat lain da’if. Ibn Ma’in sendiri berpendapat ia da’if, tapi jika hadisnya diriwayatkan oleh ‘Abbas, maka riwayatnya Salih. Jika diriwayatkan oleh ‘Uthman al-Darimi, maka tidak kuat (lays bi qawiy). Menurut al-Daraqutni, periwayatannya tidak masalah (la ba’sa bih). Ibn Hajar menilainya jujur yang kadang kala salah (saduq rubama akhta’).895 Maka sanad ini masih boleh dihukumi hasan.
al-Tirmidhi menghukumi hadis ini hasan gharib. al-Hakim menghukuminya sahih. al- Nawawi mengatakan bahwa sanadnya sahih. al-‘Ala’i menegaskan bahwa hukum hadis ini tidak sampai ke tahap da’if, apalagi palsu. Hukumnya hasan gharib. al-Albani menghukuminya hasan.896 Kesimpulannya, hadis ini sekurang-kurangnya dapat dihukumi hasan.
- 893 Abu Dawud, Sunan, Kitab al-Adab, Bab Man Yu’mar ‘an Yujalis, h.n. 4833; al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Zuhd, Bab (tanpa judul, no 45), h.n. 2378; Ahmad, Musnad, jil. 2, hlm. 303 dan 304; Abu Dawud al-Tayalisi, Musnad, hlm. 335, h.n. 2573; al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab al-Birr wa al-Silah, Bab al-Mar’ ‘ala Din Khalilih, jil. 4, hlm. 171; Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 3, hlm. 135; al-Bayhaqi, al-Adab, hlm. 57; al-Bayhaqi, Shu’ab al- Iman, jil. 5, hlm. 55, h.n 9436; al-Quda’i, Musnad, jil. 1, hlm. 141, h.n. 187 dan 188.
- 894 al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 5, hlm. 55, h.n. 9437.
- 895 al-Zarkashi, al-Tadhkirah, hlm. 89; al-‘Ala’i, al-Naqd al-Sahih, hlm. 60-63; al-Sakhawi, al-Maqasid al- Hasanah, hlm. 378, h.n. 1009; al-Suyuti, al-Durar al-Muntathirah, hlm. 367; ‘Ali al-Qari, al-Asrar al-Marfu’ah, hlm. 313; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 281; al-Shawkani, al-Fawa’id al-Majmu‘ah, hlm. 260; dan lihat biografi Musa bin Wardan dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 226; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 554; ‘Ali al-Qari, al-Mirqat, jil. 8, hlm. 751, h.n. 5019.
- 896 al-Tirmidhi>, Sunan, Kitab al-Zuhd, Bab (tanpa judul, no. 45), h.n. 2378; al-Hakim, al-Mustadrak, Kitab al-Birr wa al-Silah, Bab al-Mar’ ‘ala Din Khalilih, jil. 4, hlm. 171; al-Nawawi, Riyad al-Salihin, hlm. 151, h.n. 367; al-‘Ala’i, al-Naqd al-Sahih, hlm. 60-63; al-Albani, Sahih Sunan al-Tirmidhi, jil. 2, hlm. 280, h.n. 1937.