الزهد يف الدنيا يريح القلب واجلسد والرغبة فيها تتعب القلب والبدن.
“Zuhud terhadap dunia memberi keringanan hati dan jasad. Cinta kepadanya memayahkan hati
dan badan.”
Takhrij Hadis:
Hadis dengan redaksi seperti ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Zuhd dan Ibn Abi alDunya dalam Dhamm al-Dunya. Keduanya melalui al-Haytham bin Jamil dari Muhammad bin
Muslim, dari Ibrahim bin Maysarah dari Tawus secara mursal. Dalam redaksi akhir mereka,
1744 وإن الرغبة يف الدنيا تطيل اهلم واحلزن
Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab, Ibn ‘Adiy, al-‘Uqayli dalam
al-Du’afa’, Ibn al-Jawzi dalam al-‘Ilal dan al-Tabarani dalam al-Awsat, seperti yang dikutip oleh
al-Haythami. Semuanya melalui al-Ash’ath bin Buraz dari ‘Ali bin Zayd dari Sa’id bin Musayyab
dari Abu Hurayrah dengan redaksi,
إن الزهادة يف الدنيا تريح القلب
al-Quda’i juga telah meriwayatkannya dari Ahmad bin al-Faraj dari Baqiyyah dari Bakar
bin Khunays dari Mujahid dari ‘Abd Allah bin ‘Amru. Dalam riwayat ini terdapat redaksi
tambahan,
والبطالة تقسي القلب1746
Hadis ini juga diriwayatkan secara mawquf dari ‘Umar sebagai perkataan beliau oleh Ibn
al-Mubarak dan al-Bayhaqi dalam al-Shu’ab. Redaksi Ibn al-Mubarak,
الزهادة يف الدنيا راحة للقلب واجلسد.
Ibn Abi al-Dunya juga meriwayatkannya dari Ibrahim bin al-Ash’ath dari al-Fadl bin ‘Iyad,
langsung kepada Rasulullah Saw. secara mu’dal dengan redaksi sama seperti riwayat beliau yang
marfu’.1747
Hukum Hadis: Da’if.
Hadis riwayat Ahmad dan Ibn Abi al-Dunya dari Tawus, selain mursal dan mursal adalah
da’if, pada sanadnya terdapat Muhammad bin Muslim al-Ta’ifi. Ia thiqah menurut Ibn Ma’in dan
da’if menurut pendapat Ahmad. Ibn Hajar menilainya saduq yang salah dalam hafalannya. alSuyuti tidak menghukumi riwayat ini, sedangkan al-Albani mengatakan ia amat da’if.1748
Riwayat yang kedua, pada sanad terdapat dua orang perawi yang dikritik. Pertama, ‘Ali
bin Jad’an. Ia da’if. Kedua, Ash’ath bin Buraz. Ia menurut al-Bukhari munkar al-Hadith. Menurut
pendapat Ibn Ma’in, ia lays bi shay’. Sedangkan al-Nasa’i menilainya ditinggalkan (matruk). Jadi
sanad ini amat da’if.
Seperti yang dikatakan al-Albani, al-Haythami dipandang salah ketika mengatakan bahwa
dalam sanad al-Tabarani terdapat Ash’ath bin Nazzar yang tidak beliau kenali. Sedangkan perawi
lainnya telah dinilai thiqah, meskipun terdapat ke-da’if-an pada mareka. Demikian pula al – Mundhiri yang menghukumi sanad al-Tabarani muqarib. Penulis mendapati al-Albani dalam
riwayat ini mempunyai dua pendapat. Dalam Da’if al-Jami’ al-Saghir, beliau menghukumi
riwayat ini da’if. Tetapi dalam Silsilah al-Ahadith al-Da’ifah, beliau hukumkan sebagai amat
da’if. Jadi ia pun salah. Hanya Allah sajalah yang tidak salah.1749
al-Suyuti menghukumi riwayat ini da’if. al-Munawi menambahkan, ia bukan sekedar
da’if, tetapi lebih dari itu.1750 Sedangkan riwayat al-Quda’i, pada sanadnya terdapat banyak
kritikan. Pertama, Ahmad bin al-Faraj. Ia menurut Abu Hatim kedudukannya dalam kejujuran
(mahalluh as-sidq). Tetapi menurut Ibn ‘Adiy ia pertengahan dan tidak bisa dijadikan hujjah
(huwa wast, la yuhtajju bih). Kedua, Baqiyyah. Ia saduq, namun mudallis. Dalam riwayat ini ia
telah menggunakan redaksi penyampaian dengan ‘an (عن(. Riwayatnya berarti da’if. Ketiga,
Bakar bin Khunays. Ia menurut Ibn Ma’in lays bi shay’. Dalam riwayat lain shaykh yang saleh
tidak memiliki cacat (shaykh salih la ba’sa bih). Sedangkan menurut pendapat al-Nasa’i da’if.
Ibn Hibban berkata, ia meriwayatkan dari perawi Basrah dan Kufah berbagai macam hadis palsu
hingga meyakinkan hati bahwa ia yang memalsukannya. al-Daraqutni menilainya matruk
(ditinggalkan). Ibn Hajar menyimpulkannya saduq yang memiliki banyak kesalahan dan Ibn
Hibban menilainya sebagai perawi dengan kedudukan terendah (afrata fih). Jadi sanad ini masih
dapat dinilai da’if, meskipun sudah menghampiri amat da’if. al-Suyuti menghukuminya hasan.
al-Albani menolaknya dan mengatakan ia amat da’if.1751
Seperti yang dijelaskan di atas, hadis ini juga diriwayatkan secara mawquf sebagai
perkataan ‘Umar dan sebagai perkataan beberapa orang ulama sufi. al-Albani menguatkan
riwayat ini. Artinya hadis ini bukanlah sabda Rasulullah Saw. Ia hanyalah perkataan ulama-ulama
sufi, kemudian dinisbahkan kepada Rasulullah Saw. oleh beberapa orang perawi yang da’if, baik
itu disengaja ataupun tidak.1752
Penulis belum menemukan ulama terdahulu yang menguatkan riwayat yang mawquf
dangan istilah yang biasa digunakan al-mawquf ashbah. al-Albani juga tidak menjelaskan adanya ulama yang mendahului beliau menyatakan pendapat ini. Karena itu, Penulis hanya menghukumi
hadis yang disebutkan di sini sebagai da’if, tanpa menghukuminya mawquf. Sebab selain alAlbani telah menyendiri, dari sudut matan, ia masih dapat diterima sebagai marfu’.
Kesimpulannya, hadis ini secara keseluruhan masih dapat dihukumi da’if.
- 1744 Dalam dua naskah yang di-tahqiq secara berlainan, yaitu oleh Muhammad al-Sa’id Zaghlul dan oleh ‘Isam
Faris dan Muhammad bin Ibrahim, Hadis ini diriwayatkan secara mattasil, yaitu dari ‘Ata’ dari Abu Hurayrah.
Sedangkan dalam dua naskah lain, yaitu naskah yang tidak di-tahqiq, diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
serta naskah yang di-tahqiq oleh Dr. Muhammad Jalal Sharaf, Hadis ini diriwayatkan dari Tawus secara mursal.
Menurut Penulis, yang lebih benar adalah riwayat yang mursal seperti yang dikutip oleh al-Suyuti dan lain-lain. Lih.
Ahmad, al-Zuhd, Bab Zuhd Nabiyyina Muhammad Saw., hlm. 33-34, h.n. 49; Ibn Abi al-Dunya, Dhamm al-Dunya,
hlm. 54, h.n. 131; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 8. - 1745 al-Bayhaqi, al-Shu’ab, jil. 7, hlm. 348, h.n. 10538; Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 1, hlm. 376; al-‘Uqayli, alDu’afa’, jil. 4, hlm. 394; Ibn al-Jawzi, al-‘Ilal, jil. 2, hlm. 803, h.n. 1343; al-Haythami, Majma’, jil. 10, hlm. 286.1746 al-Quda’i, Musnad, jil. 1, hlm. 188, h.n. 278. al-Haythami, Majma’, jil. 10, hlm. 286.
- 1747 Ibn al-Mubarak, al-Zuhd, hlm. 210, h.n. 593; al-Bayhaqi, al-Shu’ab, jil. 7, hlm. 368, h.n. 10609.
- 1748 al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 8; al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Da’ifah, jil. 3, hlm. 454-455,
h.n. 1291; al-Albani, Da’if al-Jami’ al-Saghir, jil. 3, hlm. 202, h.n. 3196; Lihat biografi Muhammad bin Muslim dalam
al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 40; Ibn Hajar, al-Taqrib, hlm. 506. - 1749 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 10, hlm. 286; al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Da’ifah, jil. 3, hlm.
454-455, h.n. 1291; al-Albani, Da’if al-Jami’ al-Saghir, jil. 3, hlm. 202, h.n. 3196. - 1750 al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 4, hlm. 157; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 8; al-Munawi, Fayd alQadir, jil. 4, hlm. 73.
- 1751 al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 8; al-Albani, Da’if al-Jami’ al-Saghir, jil. 3, hlm. 202, h.n. 3197; biografi Ahmad al-Faraj dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 128; biografi Bakar bin Khunays dalamal-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 128; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 126.
- 1752 al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Da’ifah, jil. 3, hlm. 456.