رفع عن أميت اخلطأ والنسيان.
“Diampuni dari umatku kesalahan dan lupa.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini amat masyhur di kalangan ulama dan orang awam. Ia mengandung kaidah yang
amat penting dalam hukum Islam, sehingga Ibn Hajar menilainya sebagai “setengah dari
Islam”.1645 Namun demikian terdapat pertentangan yang hebat tentang kedudukan hukum hadis
ini. hadis ini diriwayatkan oleh beberapa perawi dari beberapa sahabat dan dengan beberapa
redaksi yang sedikit berbeda. Semuanya dengan redaksi tambahan pada akhirnya,
وما استكرهوا عليه
Pertama, diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas oleh Ibn Majah dan al-Bayhaqi dalam al-Sunan.
Keduanya melalui Walid bin Muslim dari al-Awza’i dari ‘Ata’ dari Ibn ‘Abbas. Ia juga
diriwayatkan oleh al-Daraqutni, al-Hakim, al-Bayhaqi, al-Tabarani dan al-Taymi dalam alFawa’id seperti yang isyaratkan oleh Ibn Hajar. Semuanya melalui al-Rabi’ bin Sulayman dari
Bishr bin Hakim dari al-Awza’i dari ‘Ata’ dari ‘Ubayd bin ‘Umayr dari Ibn ‘Abbas. Redaksi Ibn
Majah,
إن هللا وضع عن أميت
Redaksi al-Tabarani
إن هللا جتاوز عن أميت
Redaksi awal al-Daraqutni,
إن هللا عز وجل جياوز ألميت
Sedangkan redaksi رفع adalah redaksi al-Taymi.1646
Kedua, diriwayatkan dari Abu Dharr oleh Ibn Majah melalui Ibrahim bin Muhammad alFanyabi dari Ayyub bin Swayd dari Abu Bakar al-Huzali dari Shahr bin Hawshab dari Abu Dharr
dengan redaksi awalnya,
إن هللا جتاوز عن أميت
Ketiga, diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir oleh al-Tabarani dalam al-Awsat seperti yang
dikatakan oleh al-Haythami dengan redaksi awalnya,
وضع عن أميت1648
Keempat, diriwayatkan dari Thawban oleh al-Tabarani dalam al-Kabir dengan redaksi
awalnya,
إن هللا جتاوز عن أميت ثالثة1649
Kelima, diriwayatkan dari Ibn ‘Umar oleh al-Tabarani dalam al-Awsat dengan redaksi
awalnya,
وضع هللا عن أميت1650
Keenam, diriwayatkan dari Abu Bakarah oleh Ibn ‘Adiy dengan redaksi awalnya,
رفع عن هذه األمة ثالاث1651
Hukum Hadis: Hasan.
Terdapat pertentangan pendapat yang hebat tentang hukum hadis ini. Sebagian ulama
menghukuminya sahih. Sebagian lagi hasan. Sebagiannya lagi mengatakannya da’if. Bahkan
beberapa ulama mengatakannya palsu. Dalam riwayat dari Ibn ‘Abbas, pada sanad Ibn Majah
terdapat dua masalah. Pertama, pada sanadnya terdapat Walid bin Muslim. Beliau dikenali
sebagai perawi yang mudallis dan riwayat dalam hadis ini dengan ‘an عن. Kedua, antara ‘Ata’ dan
Ibn ‘Abbas tidak terdapat perawi lain seperti yang terdapat pada riwayat dari Bishr. al-Bayhaqi
mengatakan bahwa riwayat ini kurang tepat, akan tetapi Ibn Hajar mengatakannya sebagai
kecacatan yang tidak merusak (‘illah ghayr qadihah).1652 Terdapat riwayat lain dengan
penambahan perawi antara ‘Ata’ dan Ibn ‘Abbas yakni ‘Ubayd bin ‘Umayr. al-Tabarani
mengatakan bahwa riwayat ini tidak diriwayatkan dari al-Awza’i, kecuali oleh Bishr yang mana
al-Rabi’ telah menyendiri dalam meriwayatkannya dari Bishr. Akan tetapi hal ini tidak bermasalah, sebab keduanya perawi thiqah. Meskipun Bishr dinilai thiqah oleh Ibn Hajar, namun
asing (thiqah yaghrib).1653
Sedangkan riwayat dari Abu Dharr pada sanadnya terdapat beberapa perawi yang da’if.
Bahkan dua diantaranya lebih dari sekitar da’if, yaitu Ayyub bin Swayd. Ia menurut Ibn alMubarak irmi bih (buang ia). al-Bukhari berkata bahwa ia dikritik (takallamu fih). Namun Ibn
Hajar masih menilainya saduq yang tersalah (saduq yukhti’). Perawi yang kedua adalah Abu
Bakar al-Huzali. Ia da’if menurut ulama hadis. Bahkan Ibn Hajar menilainya sebagai pembawa
cerita dan hadisnya ditinggalkan (matruk al-hadith).1654
Riwayat dari ‘Uqbah juga da’if. Pada sanadnya, seperti yang dikatakan oleh al-Haythami,
terdapat Ibn Lahi’ah. Menurut mayoritas ulama Hadis, ia da’if, namun beberapa ulama lain telah
menghukuminya Hasan.1655 Riwayat dari Thawban juga da’if. Pada sanadnya seperti yang
dikatakan oleh al-Haythami, terdapat Yazid bin Rabi’ah al-Rahabi. Menurut al-Bukhari hadishadisnya munkar. al-Nasa’i berpendapat bahwa ia ditinggalkan (matruk). Abu Hatim, alHaythami dan beberapa perawi lainnya hanya menilainya da’if. Bahkan Ibn ‘Adiy berkata; “Saya
berharap ia tidak cacat.”1656
Riwayat dari Ibn ‘Umar seperti yang dikatakan al-Haythami terdapat Muhammad bin
Musaffa. Salih bin Jazarah berkata, “Ia meriwayatkan hadis-hadis munkar dan saya berharap ia
saduq.” Menurut pendapat Abu Hatim, al-Dhahabi dan Ibn Hajar, ia saduq. Ibn Hajar
menambahkan bahwa ia memiliki banyak riwayat yang salah dan men-tadlis (lah awham wa kan
yudallis).1657
Sedangkan riwayat dari Abu Bakarah, pada sanadnya terdapat Ja’far bin Jisr. Menurut Ibn
‘Adiy mayoritas yang diriwayatkan adalah hadis-hadis munkar. al-‘Uqayli berkata, dalam
hafalannya terdapat kekacauan yang parah. Ia cenderung pada Qadariyyah dan meriwayatkan hadis-hadis munkar.1658 Abu Hatim al-Razi, Ahmad bin Hanbal dan Ibn Nasr telah menghukumi
hadis ini palsu. Namun beberapa ulama, terutama ahli fikih dan usul fikih, telah menerima hadis
ini sebagai kaidah. al-Nawawi menghukumi hadis ini hasan. Ibn Hajar dan al-Sakhawi secara teks
juga berpendapat demikian. Bahkan al-Suyuti dan al-Albani men-sahih-kannya. Akan tetapi alMunawi men-da’if-kannya.1659
Menurut Penulis, melihat riwayat dan jalur hadis ini ia dapat dihukumi hasan, terutama
riwayat al-Daraqutni dan perawi-perawi lain yang meriwayatkannya dengan jalur yang sama.
Selain itu, seperti yang dikatakan oleh al-Sakhawi, perkara kandungan hadis ini mempunyai asal
yaitu hadis Abu Hurayrah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidhi,
al-Nasa’i, Ibn Majah dan Ahmad dengan redaksi (redaksi al-Bukhari),
إن هللا جتاوز يل عن أميت ما وسوست به صدورها ما مل تعمل أو تكلم
Dalam riwayat Ibn Majah saja terdapat tambahan pada akhirnya,
وما استكرهوا عليه
Semua perawi pada sanad Ibn Majah adalah thiqat. Namun demikian, Ibn Hajar
mengatakan bahwa beliau mengira redaksi tambahan ini adalah penyisipan atas riwayat Hisham
bin ‘Ammar,
ظن أنه مدرجة على هشام بن عمار1660
- 1645 Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 5, hlm. 161.
- 1646 Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Talaq al-Mukrah wa al-Nasi, h.n. 2045; al-Bayhaqi, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Ma Ja’a fi Talaq al-Mukrah; al-Tabarani, al-Mu’jam al-Saghir, hlm. 282, h.n. 752; al-Daraqutni, Sunan, Kitab al-Makatib, Bab al-Nuzuz; Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 5, hlm. 161.
- 1647 Ibn Majah, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Talaq al-Mukrah wa al-Nasi, h.n. 2043.
- 1648 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 6, hlm. 250.
- 1649 al-Tabarani, al-Mu’jam al-Kabir, jil. 2, hlm. 97, h.n. 1430.
- 1650 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 5, hlm. 250.
- 1651 Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 2, hlm. 150.
- 1652 al-Bayhaqi, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Ma Ja’a fi Talaq al-Mukrah; Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 5, hlm.
161. - 1653 al-Tabarani, al-Mu’jam al-Saghir, hlm. 282, h.n. 752; Lih. biografi Bishr dan al-Rabi’ dalam Ibn Hajar,
Taqrib Tahdhib, hlm. 122 dan 206. - 1654 Lih. biografi Ibrahim dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 61; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib,
hlm. 93; biografi Ayyub dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 287-288; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 118; biografi Abu Bakar al-Huzali al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 194 dan jil. 4, hlm. 497; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 625. - 1655 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 5, hlm. 250; Lih. biografi Ibn Lahi’ah dalam al-Dhahabi, Mizan alI’tidal, jil. 2, hlm. 475-483; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 319.
- 1656 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 5, hlm. 250; Lih. biografi Yazi al-Rahabi dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 422.
- 1657 al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 5, hlm. 250; Lih. biografi Muhammad bin Musaffa dalam alDhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 4, hlm. 43; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 507.
- 1658 Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 2, hlm. 150; Lih. biografi Ja’far bin Jisr dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1,hlm. 403-404.
- 1659 Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 5, hlm. 161; al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 228-230, h.n. 528; Yahya bin Sharaf al-Nawawi, Rawdah al-Talibin, Tah. ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Mawjud dan ‘Ali Muhammad Mu‘awwad, Dar bal-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1992, jil. 6, hlm. 168; Yahya bin Sharaf al-Nawawi, al-Arba’in al-Nawawiyyah fi alAhadith al-Sahihah al-Nabawiyyah, Matba’ah Mustafa al-Babi al-Halabi, t.th. hlm. 63-64, h.n. 39; al-Suyuti, alJami’ al-Saghir, jil. 1, hlm. 600; al-Albani, Irwa’ al-Ghalil, jil. 2, hlm. 123, h.n. 82; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 4, hlm. 34-35.
- 1660 al-Bukhari, Sahih, Kitab al-Talaq, Bab la Talaq Qabl al-Nikah, h.n. 5269 dan lih. h.n. 2528 dan 6664;
Muslim, Sahih, Kitab al-Iman, Bab Tajauz Allah ‘an Hadith al-Nafs, h.n. 127; Abu Dawud, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab fi al-Waswasah bi al-Talaq, h.n. 2209; al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Ma Ja’a fi Man Yuhaddith Nafsah Bitalaq Imra’atih, h.n. 1183; al-Nasa’i, Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Man Talaq fi Nafsih, h.n. 3433-3435; Ibn Majah,Sunan, Kitab al-Talaq, Bab Talaq al-Mukrah wa al-Nasi, h.n. 2044; Ahmad, Musnad, jil. 2, hlm. 425, 474, 481dan491; Ibn Hajar, Talkhis al-Habir, jil. 2, hlm. 281-283.