Hadis 213


من تمسك بسنتي عند فساد أمتي فإنه أجر مائة شهيد.

“Siapa berpegang teguh pada sunnahku di kala umatku rusak, maka ia memperoleh pahala setara seratus orang mati shahid.”

Takhrij Hadis:

Hadis dengan lafal ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Zuhd dan Ibn ‘Adiy melalui Hasan bin Qutaybah. Seperti yang dijelaskan oleh al-Mundhiri, al-Tabarani dalam al-Awsat dan

Abu Nu’aym, meriwayatkannya melalui jalur berbeda dari Abu Hurayrah, tetapi tanpa kata-kata

مإئة. Lafalnya adalah شهيد اجر فله.523

Hukum Hadis: Sangat Da’if.

Sanad al-Bayhaqi dan Ibn ‘Adiy sangat da’if. Hasan bin Qutaybah, menurut Ibn ‘Adiy, tidak terlalu bermasalah (arju annahu la ba’sa bih). Tetapi al-Dhahabi menolak pendapat ini dengan mengingatkan bahwa ia binasa (halik). Menurut al-Daraqutni, hadisnya ditinggalkan (matruk al-hadith). Abu Hatim berpendapat ia da’if. al-‘Uqayli berkata, “Ia banyak salah duga (kathir al-awham)”.

Dalam sanad al-Tabarani dan Abu Nu’aym yang meriwayatkannya dari al-Tabarani, terdapat ‘Abd al-‘Aziz bin Abi Ruwwad dan Mahmud bin Salih. ‘Abd al ‘Aziz menurut pendapat Abu Hatim adalah saduq (tepercaya). Ahmad berkata, ia salih al-hadith. Tetapi ia dituduh sesat dalam akidah, karena mengikuti paham Murji’ah. Ibn Hibban mengatakan bahwa ia meriwayatkan dari Nafi‘ dari Ibn ‘Umar naskah yang palsu. Namun hadis-hadisnya boleh diuji (yu’tabar minh). Sedangkan Mahmud bin Salih al-Haythami mengatakan bahwa ia tidak menemukan biografinya. Karena itu, riwayat ini tidak dapat menguatkan riwayat al-Bayhaqi. Selain itu, ada perbedaan yang jelas dalam bilangan pahala yang dijanjikan. Dari sisi teks, al- Mundhiri men-da’if-kan hadis ini. al-Albani menghukumi hadis ini sangat da’if.524 Penulis menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa hadis ini sangat da’if dengan sebab seperti yang telah dijelaskan di atas.


  • 523 Ahmad bin Husayn bin ‘Ali al-Bayhaqi, al-Zuhd al-Kabir, Tah. ‘Amir Ahmad Haydar, Muassasah al- Kutub al-Thaqafiyyah, Bayrut, 1933, hlm.151, h.n. 209; Ibn ‘Adiy, al-Kamil, jil. 2, hlm 739; Abu Nu’aym, Hilyah al-Awliya’, jil. 8, hlm. 200; al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 1, hlm. 80.
  • 524 al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 1, hlm. 80; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 1, hlm. 80; al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Da’ifah, jil. 1, hlm. 33, h.n. 326; lihat boigrafi ‘Abd ‘Aziz bin Abi Ruwwad dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 628-629; dan biografi Muhammad bin Salih dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm.518-519.