لا يستقيم إيمان العبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه، ولايدخل المؤمن الجنة حتى يأمن جاره من لسانه.
“Takkan lurus iman seseorang sampai hatinya lurus. Takkan lurus hatinya sampai lurus lidahnya. Dan takkan masuk surga seorang mukmin, sehingga tetangganya aman dari lisannya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan Ibn Abi al-Dunya dalam al-Samt. Seperti diisyaratkan oleh al-‘Iraqi, hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Khara’iti. Semuanya melalui jalan ‘Ali bin Sa‘dah al-Bahili dari Qatadah dari Anas. Dalam lafaz Ibn Abi al-Dunya disebutkan dengan sedikit perbedaan redaksi.484
al-Bayhaqi dalam Shu’ab al-iman meriwayatkannya dari Hasan al-Basri dari beberapa sahabatnya secara marfu’ dengan lafaz sampai kata-kata لسانه يستقيم حتى .485
Hukum Hadis: Hasan.
al-‘Iraqi mengatakan bahwa dalam sanad hadis ini ada kelemahannya. Di dalam sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bermasalah, ‘Ali bin Mas‘adah. al-Haythami mengatakan bahwa ia adalah thiqah menurut beberapa ulama dan da’if menurut yang lainnya. al-Bukhari, al- Nasa’i dan Ibn Hibban juga menilainya lemah, sedangkan Ibn Ma’in menilainya salih (patut). Dalam riwayat lain ia mengatakan bahwa tidak masalah jika meriwayatkan dari orang Basrah. Menurut Abu Hatim, ia perawi yang diterima. Ibn Hajar menyifatinya sebagai orang yang jujur, akan tetapi mempunyai beberapa prasangka yang salah.486
Hadis ini dapat dinilai hasan, karena selain ‘Ali bin Mas‘adah, masih disifatkan sebagai jujur (saduq). Ia meriwayatkan hadis ini dari ulama Basrah, yaitu Qatadah dan seperti yang dijelaskan oleh Ibn Ma’in, riwayat ‘Ali dari ulama Basrah tidak bermasalah.
Sedangkan riwayat al-Bayhaqi adalah da’if, sebab sanad-nya mubham, karena Hasan al- Basri tidak menyebutkan nama perawi yang meriwayatkannya. Jadi hadis ini tidak dapat menguatkan hadis di atas secara langsung. Namun secara tidak langsung bisa menguatkan.
- 484 Ahmad, Musnad, jil. 3, hlm. 198; ‘Abd Allah bin Muhammad Ibn Abi al-Dunya, al-Samt wa Adab al- Lisan, tahqiq Muhammad ‘Abd al-Qadir ‘Ata’, Mu’assasah al-Kutub al-Thaqafiyah, Bayrut, 1988, hlm. 182-183, h.n. 9; al-‘Iraqi, al-Mughni, jil. 3, hlm. 138.
- 485 al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 1, hlm. 41, h.n. 8.