Hadis 169


1عجلت أيها المصلي، إذا صليت فاقعد فاحمد الله بما هو أهله وصل علي ثم ادعه. ثم صلى رجل آخر بعد ذلك فحمد الله وصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال صلى الله عليه وسلم: أيها المصلي ادع تجب، ادع تجب،

-2 كذلك من سمع اسمي فصلى علي، استجاب الله كل دعائه.

“Kau tergesa-gesa, wahai orang yang shalat. Apabila kamu shalat, maka duduklah, lalu pujilah Allah dengan pujian yang sepatutnya, dan bershalawatlah kepadaku, barulah kamu memohon kepada-Nya. Kemudian shalat orang yang lainnya sesudahnya lalu ia memuji Allah dan bershalawat kepada nabi sallahu alaihi wa sallam . lalu nabi bersabda: wahai orang yang shalat, berdoalah (pasti akan) di ijabah, berdoalah (pasti akan) di ijabah ”
“ begitu juga yang mendengar namaku bershalawatlah kepadaku, Allah akan mengijabah semua doanya.

Takhrij Hadis:

Hadis dengan lafaz seperti ini dikatakan oleh al-Khubawi diriwayatkan dari Fadalah bin ‘Ubayd. Penulis menemukan hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidhi, al-Nasa’i, Ahmad, Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Tabarani dan Ibn Bashkuwal seperti yang diisyaratkan oleh al-Sakhawi, semuanya memakai jalur periwayatan dari Fadalah.441 Tetapi dalam semua lafaz yang mereka riwayatkan belum ditemukan redaksi yang disebutkan oleh al- al-Khubawi, yaitu man sami‘a ismi fa salla ‘alayya istajaba Allah kulla du‘a’ih. Ada kemungkinan potongan redaksi itu merupakan penggalan dari hadis lain yang digabungkan al-Khubawi dengan lafaz penyambung wa kadzalika. Dengan demikian, hadis ini berarti diriwayatkan dari Fadalah.

Penulis cenderung sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa hadis ini terbagi menjadi dua bagian, karena dari semua perawi yang telah disebutkan tidak ada seorang pun yang menyebutkan potongan redaksi akhir. hadis yang kedua ini belum dapat ditemukan perawinya. hadis pertama dengan lafaz seperti di atas adalah riwayat al-Tabarani dan Ibn Bashkuwal. Sedangkan riwayat lainnya terdapat perbedaan redaksi.442

Hukum Hadis: hadis pertama: Hasan li-ghayrih.

hadis kedua: mendekati palsu,

Hukum hadis pertama dimaksudkan untuk riwayat al-Tabarani dan Ibn Bashkuwal. Dalam sanad keduanya, seperti yang dikatakan al-Sakhawi, terdapat Rishdin bin Sa’ad. Abu Zur’ah menilainya sebagai perawi yang lemah. al-Nasa’i berpendapat bahwa ia ditinggalkan (matruk). Tetapi menurut Ahmad dan al-Sakhawi, riwayatnya dapat diterima dalam masalah al-raqa’iq.443

Hadis ini dapat dinilai hasan li-ghayrih. Meskipun terdapat perawi yang lemah, namun seperti dikatakan Ahmad dan al-Sakhawi, riwayatnya masih boleh diterima dalam masalah al- raqa’iq, dan hadis ini masuk dalam masalah tersebut. Selain itu, hadis ini mempunyai banyak penguat seperti riwayat al-Nasa’i dan al-Tirmidhi dengan redaksi yang sedikit berbeda.

Sedangkan hadis kedua, karena belum dapat ditemukan, maka belum dapat dipastikan hukumnya. Secara lahiriah hadis ini lebih mendekati palsu, karena termasuk dalam kategori tidak dikenali sumbernya.


  • 441 Abu Dawud, Sunan, Kitab al-Salah, Bab al-Du’a’, h.n. 1481; al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Da’awat, Bab (tanpa judul, no. 65), h.n. 3476; al-Nasa’i, Sunan, Kitab al-Sahuw, Bab al-Tahmid wa al-Salah ‘ala al-Nabi Saw. fi al-Salah, h.n. 1282; Ahmad, Musnad, jil. 6, hlm. 18; Ibn Khuzaymah, Sahih, Kitab al-Salah Bab al-Salah ‘ala al-Nabi Saw. fi al-Tashahhud, h.n. 709-710; Ibn Hibban, Sahih, Kitab al-Salah, Bab Sifah al-Salah, h.n. 1957; al-Hakim, al- Mustadrak, Kitab al-Salah, Bab Idha Salla Ahadukum Falyabda’ Bitahmid Allah, jil. 1, hlm. 230; al-Tabarani, al- Mu’jam al-Kabir, jil. 18, hlm. 308-309, h.n. 790-795; al-Bayhaqi, Sunan, Kitab al-Salah ‘ala al-Nabi Saw. fi al-Tashahhud; Ibn Hajar, Fath al-Bari, jil. 11, hlm. 165; Muhammad bin ‘Abd Allah al-Khatib al-Tabrizi, Mishkah al- Masabih, tahqiq Muhammad Nasir al-Din al-Albani, al-Maktab al-Islami, Dimashq, 1961, jil. 1, hlm. 293, h.n. 930; al-Sakhawi, al-Qawl al-Badi’, hlm. 257-258.
  • 442 al-Tabarani, Mu’jam al-Kabir, jil. 18, hlm. 308-309, h.n. 790-795.
  • 443 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 49-51; al-Sakhawi, al-Qawl al-Badi’, hlm. 258.