دخلت مع النبي صلى الله عليه وسلم على رجل من الأنصار وهو في حالة النزع، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: تب إلى الله، فلم يعمل بلسانه وأحال عينيه نحو السماء، فتبسم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقلت: يارسول الله ماحملك على التبسم، فقال: هذا المريض لم يعمل بلسانه التوبة وأومأ ببصره إلى السماء وندم بقلبه، فقال الله تعالى: ياملائكتي إن عبدي عجز عن التوبة بلسانه وندم بقلبه فلا أضيع توبته بقلبه، اشهدوا أني قد غفزت له.
“Pernah saya bersama Nabi menemui seorang lelaki Ansar di kala ia sedang sakaratul maut. Maka bersabdalah Nabi: “Bertaubatlah kepada Allah!” Orang itu tidak dapat melakukan dengan lidahnya, namun ia putar-putarkan kedua matanya ke arah langit. Maka tersenyumlah Nabi, sehingga saya bertanya: “Ya Rasulallah, kenapakah Anda tersenyum?” Jawab Nabi: “Sesungguhnya orang sakit ini tidak dapat melakukan taubat dengan lidahnya, lalu berisyarat dengan matanya ke langit dan menyesal dengan hatinya. Maka Allah berfirman: “Wahai malaikat-malaikat-Ku, sesungguhnya hamba-Ku ini tidak mampu bertaubat dengan lidahnya, namun menyesal dengan hatinya. Maka, Aku takkan menyia-nyiakan taubat dan penyesalan dengan hatinya. Saksikanlah bahwa Aku benar-benar telah mengampuninya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini belum dapat ditemukan perawinya. al-Khubawi mengutipnya dari kitab Durrah al-Majalis.386
Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.
Hadis ini dinilai palsu, karena belum dapat ditemukan dalam kitab-kitab yang mu’tabar, termasuk dalam beberapa kitab khusus mengenai taubat, seperti karangan Ibn Abi al-Dunya, Ibn al-Qayyim dan Ibn Qudamah. Karena itu, hadis ini dapat dikategorikan tidak mempunyai asal.
- 386 al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 42.