Hadis 130


لما عرج بي إلى السماء رأيت مدينة من النور مثل الدنيا ألف مرة معلقة بسلاسل من النور تحت العرش ولها مائة ألف باب مستقل في كل باب بستان مفروش برحمة الله وفي كل بستان قصر من النور وفي كل قصر دار من النور وفي كل دار سبعون حجرة من النور مصراع من الذهب ومصراع من الفضة، وفي كل باب سرير من النور، وعلى كل سرير فراش من النور، وفوق كل

أهذا للنبي فراش جارية من الحور العين لو أبدت واحدة خنصرها إلى دار الدنيا لغلب نور خنصرها الشمس والقمر. فقلت: يارب أو لصديق؟ قال الله تعالى: هذا للذاكرين آناء الليل وأطراف النهار، وإن لهم عندي لمزيد وأنا أوسع.

“Ketika aku dimi’rajkan ke langit, aku melihat sebuah kota dari cahaya yang besarnya seribu kali lipat dari dunia, tergantung dari ‘Arash dengan rantai-rantai cahaya. Kota itu mempunyai seratus ribu pintu sendiri-sendiri. Setiap pintunya terdapat taman yang dihampari rahmat Allah. Setiap taman terdapat istana dari cahaya. Setiap ruangan terdapat rumah dari cahaya. Di atas tiap-tiap rumah terdapat kamar dari cahaya. Setiap kamar terdapat empat ratus pintu; masing-masing pintu mempunyai dua daun pintu, sebuah dari emas dan sebuah lagi dari perak. Dan di depan tiap-tiap pintu terdapat singgasana dari cahaya. Di atas tiap-tiap singgasana terdapat kasur dari cahaya. Di atas tiap-tiap kasur ada seorang bidadari, yang sekiranya seorang bidadari menampakkan jari manisnya ke dunia ini, niscaya cahaya jari manisnya itu mengalahkan matahari dan bulan. Maka aku berkata, “Ya Tuhanku, apakah ini untuk seorang Nabi, ataukah untuk seorang siddiq?” Jawab Allah: “Ini untuk orang-orang yang berzikir di malam hari dan pada penghujung-penghujung siang. Dan sesungguhnya mereka masih memperoleh tambahan lagi di sisi-Ku, sedang Aku Maha Luas.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini belum dapat ditemukan perawinya. Secara tekstual, al-Khubawi mengutipnya dari kitab Tanbih al-Ghafilin.359

Hukum Hadis: Mawdu’/Palsu.

Hadis ini dikutip dari kitab Tanbih al-Ghafilin. Namun Penulis tidak menemukannya dalam kitab yang disebutkan. Dilihat dari matan dan maknanya, hadis ini dapat dinilai palsu, karena terdapat hal-hal yang oleh ulama hadis dikenal dengan istilah: Hal yang tidak akan pernah dikatakan oleh Rasulullah Saw.


  • 359 al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 38.