Hadis 85


السخي قريب إلى الحق والخلق، والبخيل بعيد من الحق والخلق.

“Orang dermawan itu dekat \pada Allah dan makhluk-Nya; dan orang yang pelit itu jauh dari Allah dan makhluk-Nya.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi melalui Sa’id bin Muhammad dari Yahya bin Sa’id dari al-A’raj dari Abu Hurayrah. al-Baihaqi meriwayatkan juga dalam Shu’ab al-Iman melalui jalan ini, juga dari ‘A’ishah, Jabir dan Ibn Mas’ud, semuanya secara marfu’. Tetapi semua jalannya beliau hukumkan da’if. al-Khatib juga meriwayatkan dalam kitab al-Bukhala’ dari Abu Hurayrah melalui dua jalur. Tetapi dalam kedua sanad-nya terdapat Muhammad al-Warraq. al- Haythami mengatakan bahwa hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Awsat. Ibn al-Jawzi meriwayatkannya juga dari Anas bin Malik dan sahabat-sahabat di atas.255

Hukum Hadis: Da’if.

al-Tirmidhi berkata: hadis ini gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadis Yahya bin Sa’id dari al-A’raj dari Abu Hurayrah, kecuali dari riwayat Sa’id bin Muhammad. Yang betul adalah yang diriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dari ‘A’ishah secara mursal.256

Sa’id bin Muhammad al-Warraq menurut al-Bukhari, al-Baihaqi, Ibn Sa’ad, Ibn Hajar dan beberapa ulama lain adalah da’if, mengikut pendapat al-Daraqutni, ia adalah perawi yang matruk. Ibn ‘Adiy berkata: Saya berharap bahwa ia adalah rawi yang hadisnya tidak ditinggalkan.257

Mengenai riwayat dari ‘A’ishah, semuanya adalah da’if. Demikian pula hadis yang diriwayatkan oleh al-Khatib ataupun Ibn al-Jawzi, karena dalam sanad mereka ada perawi yang da’if. Begitu pula riwayat dari Anas bin Malik.258

Hadis ini meskipun dinilai palsu oleh Ibn al-Jawzi dalam al-Mawdu’at, kemudian diikuti oleh ‘Ali al-Qari, tetapi penilaian tersebut dibantah beberapa ulama dengan alasan bahwa hadis ini telah diriwayatkan al-Tirmidhi, Ibn Hibban dan al-Baihaqi dari jalan seperti yang disebut di

atas. Adapun Sa’id bin Muhammad al-Warraq, sekalipun ia da’if, tetapi ia tidak sampai dituduh pendusta atau pembuat hadis palsu. Maka hadisnya menjadi da’if.259

Alasan kedua adalah apa yang dikatakan oleh Ibn Hajar.

 

“Alasan Ibn al-Jawzi mengkategorikan hadis ini palsu dengan dalil kata-kata al- Daraqutni; hadis ini mempunyai banyak jalan, tetapi tidak ada satupun yang thabit”. Perkataan ini tidak berarti bahwa hadis ini palsu, karena al-thabit mencakup hadis sahih dan da’if. hadis ini da’if. Maka menilai hadis ini palsu bukanlah hukuman yang baik ”.260

Alasan ketiga, al-Tirmidhi dan lain-lainnya menduga bahwa Sa’id telah bersendirian dalam meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Sa’id dengan sanad seperti di atas adalah kurang tepat, karena Ibn ‘Arraq menemukan bahwa Sa’id telah diikuti oleh ‘Abd ‘Aziz bin Abi Hazim yang diriwayatkan oleh al-Daylami. Begitu juga hadis ‘A’ishah, al-Baihaqi telah meriwayatkannya dari jalan Sa’id bin Maslamah dan Talid bin Sulayman. Meskipun keduanya da’if, tapi ia dapat menjadi bukti bahwa hadis ini bukan palsu. Bahkan bisa naik menjadi hasan.261

Penulis berpendapat bahwa hadis ini belum bisa menjadi Hasan lighayrih, karena sanad asal adalah da’if, bahkan sangat da’if, dan sanad yang akan dijadikan penguatnya juga da’if, maka ia tetap menjadi da’if seperti hukuman beberapa ulama semisal al-Tirmidhi, Ibn Hibban, al- Baihaqi, al-Mundhiri, Ibn Hajar, al-Suyuti, al-Munawi dan lain-lain terhadap hadis ini.262


  • 255 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Bir wa al-Silah, Bab Ma Ja’a fi al-Sakha’, h.n. 1961; al-Bayhaqi, Shu’ab al- Iman, jil. 7, hlm. 427-428, h.n. 10843-10851; al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 9, hlm, 730-731; Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali al-Khatib al-Baghdadi, al-Bukhala’, Tah. Mahmud Ibrahim Salim, Maktabah Ibn Sina, al-Qahirah, t.th., hlm. 36-38, h.n. 1; al-Haythami, Majma’ al-Zawa’id, jil. 3, hlm. 127-128; Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 2, hlm. 180-182.
  • 256 al-Tirmidhi, Sunan, Kitab al-Bir wa al-Silah, Bab Ma Ja’a fi al-Sakha’, h.n. 1961.
  • 257 Lihat biografi al-Warraq dalam al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 2, hlm. 156-157; Ibn Hajar, Taqrib al- Tahdhib, hlm. 239.
  • 258 Lihat Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 139.
  • 259 Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 2, hlm. 180-182; ‘Ali al-Qari, al-Asrar al-Marfu’ah, hlm. 483; al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 239, h.n. 557; al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 9, hlm, 730-731; al-Razi, ‘Ilal, jil. 2, hlm. 283-284, h.n. 2352-2353.
  • 260 al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 239, h.n. 557; al-Zabidi, Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin, jil. 9, hlm. 730-731. al-‘Ajluni, Kashf al-Khafa’, jil. 1, hlm. 450, h.n. 1468.
  • 261 Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 139.
  • 262 al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 38; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 4, hlm. 139.