السخاء شجرة في الجنة أغصانها متدليات في الدنيا، فمن أخذ غصنا منها قاده إلى الجنة. والبخيل شجرة في النار أغصانها متدليات في الدنيا، فمن أخذ غصنا منها قاده إلى النار.
“Kedermawanan itu sebatang pohon dalam surga, yang dahan-dahannya menjuntai ke dunia. Siapa mengambil salah satu di antaranya, maka dahan itu akan membimbingnya ke surga. Dan kekikiran itu sebatang pohon dalam neraka, yang dahan-dahannya menjuntai ke dunia. Siapa yang mengambil salah satu di antaranya, maka dahan itu akan membimbingnya ke neraka.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini disebutkan al-Ghazali dalam al-Ihya’. al-‘Iraqi dalam takhrij hadis-hadis al-Ihya’ mengatakan, hadis ini diriwayatkan Ibn Hibban dalam al-Majruhin, Ibn ‘Adiy dalam al-Kamil dan al-Daraqutni dalam al-Mustajiddat. Semuanya dari Abu Hurayrah. Juga diriwayatkan oleh
Abu Nu’aym dari Jabir. Semua sanad di atas da’if. hadis ini juga telah diriwayatkan Ibn al-Jawzi dalam al-Mawdu’at dari sahabat-sahabat di atas, juga dari al-Husayn dan Abi Sa’id.251
Hadis ini juga diriwayatkan Khatib al-Baghdadi dari Jabir. Tetapi hadis ini diriwayatkan melalui jalan yang sama yaitu ‘Asim bin ‘Abdillah. al-Baihaqi juga telah meriwayatkannya dalam al-Shu’ab dari al-Husayn dan Abu Hurayrah. Namun sanad-nya sama dengan sanad yang dituduh Ibn al-Jawzi, yaitu palsu.252
Hukum Hadis: Da’if.
Hadis ini telah dinilai palsu oleh Ibn al-Jawzi. Tetapi ditolak oleh beberapa ulama, seperti al-‘Iraqi, al-Suyuti, Ibn ‘Arraq, al-Shawkani dan lain-lain. Mereka hanya mengatakan bahwa hadis ini da’if. Bahkan dalam al-Jami’ al-Saghir, al-Suyuti menilainya hasan. al-Munawi mengingatkan bahwa hadis ini telah dinilai da’if oleh al-‘Iraqi dan palsu oleh Ibn al-Jawzi.253
Alasan penolakan mereka karena hadis ini mempunyai beberapa jalur periwayatan. Meskipun pada beberapa jalur periwayatan tersebut terdapat perawi yang dituduh pendusta, sehingga hal ini mengakibatkan hadisnya dikategorikan palsu, tetapi pada beberapa jalur periwayatan lainnya, perawinya hanya setingkat da’if, tidak sampai ke level pemalsu atau pendusta hadis. Maka hadis ini dapat dikategorikan sebagai da’if.254
- 251 al-Ghazali, al-Ihya’, jil. 3, hlm 302-303; al-‘Iraqi, al-Mughni, jil. 3, hlm. 303.
- 252 al-Khatib, Tarikh Baghdad, jil. 4, hlm. 137. al-Bayhaqi, Shu’ab al-Iman, jil. 7, hlm. 434-435, h.n. 1875 dan 1877.
- 253 Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 2, hlm. 182-183; al-‘Iraqi, al-Mughni, jil. 3, hlm. 303; al-Suyuti, al-La’ali, jil. 2, hlm. 93; al-Suyuti, al-Jami’ al-Saghir, jil. 2, hlm. 38; al-Munawi, Fayd al-Qadir, jil. 4, hlm. 138; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 139; al-Shawkani, al-Fawa’id al-Majmu‘ah, hlm.78; al-‘Ajluni, Kashf al-Khafa’, jil. 1, hlm. 525; al-Zabidi, al-Ittihaf, jil. 9, hlm 720.
- 254 Ibid.