Hadis 514


من التواضع أن يشرب الرجل من سؤر أخيه، وما شرب رجل من سؤر أخيه إال كتب له سبعون حسنة، وحميت عنه سبعون سيئة، ورفعت درجته يف أعلى عليني.

“Diantara sikap tawaduk adalah seseorang minum dari gelas saudaranya. Seseorang tidak akan
minum dari gelas saudaranya, kecuali dicatat baginya tujuh puluh kebaikan, dihapuskan darinya
tujuh puluh keburukan, dan diangkat derajatnya di ‘illiyyin yang tertinggi.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini dikatakan oleh Ibn al-Jawzi dan lainnya diriwayatkan oleh al-Daraqutni dalam
al-Afrad dari Ibn ‘Abbas melalui Nuh bin Abi Maryam.1224

Hukum Hadis: Sangat da’if.

Hadis ini telah dihukumi palsu oleh beberapa ulama seperti Ibn al-Jawzi dan al-Shawkani,
sebab dalam sanad hadis ini terdapat Nuh. Namun pendapat ini ditolak al-Suyuti dan Ibn ‘Arraq.
Alasan al-Suyuti, hadis ini mempunyai mutaba’ah yang diriwayatkan oleh al-Isma’ili.1225

Nuh bin Abi Maryam menurut Ahmad tidak layak meriwayatkan hadis (lam yakun
bidhalik fi al-hadith). Muslim dan yang lain menilai hadisnya ditinggalkan (matruk al-hadith). alBukhari berpendapat ia munkar al-hadith. Ibn ‘Adiy berkata mayoritas yang ia riwayatkan tidak
memiliki mutaba’ah, dan ia beserta ke-da’if-annya, hadisnya masih boleh ditulis. al-Hakim mengatakan Abu ‘Asmah meriwayatkan hadis mawdu’ yang panjang tentang keutamaan alQur’an. Dari pendapat ulama di atas, maka sanad ini sangat da’if, bahkan mawdu’.1226

Mutaba‘ah yang dikutip al-Suyuti, selain diriwayatkan oleh al-Isma’ili. Juga diriwayatkan
oleh al-Sahmi dalam Tarikh al-Jurjan dari beliau dari Ibn ‘Abbas melalui Ja’far bin Muhammad
al-Haddad dari Ibrahim bin Ahmad al-Balkhi dari al-Hasan bin Rushayd dengan redaksi yang
yang seperti Namun . ورفعت له سبعون درجة dengan diganti ورفعت له يف أعلى عليني perkataan tetapi ,sama
dikutip al-Sahmi dari gurunya, yaitu al-Isma’ili, Ibrahim dan al-Hasan tidak dikenali. Menurut
al-Dhahabi, al-Hasan bin Rushayd لني فيه, manakala al-Razi mengatakan tidak dikenal (majhul).1227
Ini berarti sanad ini tidak dapat menguatkan sanad asal. Jadi hadis ini sangat da’if.


  • 1223 Muslim, SahiH, Kitab al-Iman, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanih, h.n. 91.
  • 1224 Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 3, hlm. 40.
  • 1225 Ibn al-Jawzi, al-Mawdu’at, jil. 3, hlm. 40; al-Shawkani, al-Fawa’id, hlm. 185; al-Suyuti, al-La’ali, jil. 2,
    hlm. 258; Ibn ‘Arraq, Tanzih al-Shari’ah, jil. 2, hlm. 259.