دخلت اجلنة فرأيت مكتواب على ابب اجلنة ثالثة أسطر: األوىل الإله إال هللا حممد رسول هللا، والثاين وجدان ما قدمنا ورحبنا ما أكلنا وخسران ما خلفنا، والثالث: أمة مذنبة ورب غفور.
“Aku masuk surga, maka aku melihat pada pintu surga itu tertulis tiga tulisan; Pertama, La ilaha
illa Allah, Muhammad Rasulullah. Kedua, kami mendapatkan apa yang telah kami lakukan. Kami
beruntung dari apa yang telah kami makan. Dan kami tidak memperoleh apa yang telah kami
tinggalkan. Dan ketiga, umat yang berdosa dan Tuhan Yang Maha Pengampun.’”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Daylami dan al-Rafi’i. Keduanya melalui Mas’ud alQazwini dari ‘Abd Allah bin Ziyad al-Baghdadi dari ‘Ali bin ‘Asim dari Humayd dari Anas dengan redaksi sedikit berbeda. al-Hindi menjelaskan bahwa ia diriwayatkan juga oleh Ibn Najjar dari Anas.1145
Hukum Hadis: Sangat da’if.
Dalam sanad di atas terdapat beberapa kelemahan. Pertama, ‘Ali bin ‘Asim, ia menurut
Ibn Ma’in tidak cacat (lays bi shay’). Menurut pendapat al-Nasa’i matruk (ditinggalkan). alBukhari berkata, menurut ahli hadis tidak kuat sehingga mereka mengkritiknya. Beberapa ulama
telah men-da’if-kannya, bahkan Yazid bin Harun menuduhnya pendusta. Akan tetapi Ahmad
meriwayatkan hadisnya dan berpendapat bahwa ia tidak termasuk yang dituduh mereka-reka
hadis. Ibn Hajar menyimpulkan bahwa ia saduq, salah dalam periwayatan, dan dituduh Shi’ah.1146
Selain itu, Mas’ud al-Qazwini dan ‘Abd Allah bin Ziyad tidak ditemukan biografinya,
termasuk dalam kitab Tarikh al-Qazwin karangan al-Rafi’i dan Tarikh Baghdad.
Sedangkan riyawat Ibn Najjar, Penulis yakin beliau meriwayatkannya melalui jalan yang
sama. Jadi sanad hadis ini sangat da’if. Selain ‘Ali yang bisa dinilai da’if, Mas’ud dan ‘Abd Allah
bin Ziyad belum ditemukan biografinya, meskipun untuk mengatakan ‘Abd Allah bin Ziyad
sebagai majhul juga tidak bisa. Sebab, al-Daylami dan al-Rafi’i meriwayatkannya melalui beliau
dengan jalan berbeda (Muhammad bin Yahya dan al-Fadl bin al-Fadl al-Kindi).1147
Yang menguatkan pendapat Penulis bahwa hadis ini sangat da’if adalah ia tidak
disebutkan dalam beberapa kitab mu’tabar, yang khusus membahas kehidupan di akhirat,
termasuk sifat-sifat surga. Ini menunjukkan dua kemungkinan; Pertama, mereka tidak mengenal
hadis ini atau karena hadis ini sangat da’if. Kedua, hadis ini palsu, sehingga mereka tidak
menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka. Menurut Penulis, kemungkinan kedua lebih kuat.
- 1144 al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 163.
- 1145 al-Daylami, Firdaws al-Akhbar, jil. 3, hlm. 429, h.n. 516; al-Rafi’i, al-Tarikh, jil. 3, hlm. 91; al-Hindi,
Kanz al- ‘Ummal, jil. 4, hlm. 251, h.n. 10395. - 1146 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 3, hlm. 135-138; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 403.
- 1147 al-Daylami, Firdaws al-Akhbar (yang di-tahqiq oleh Fawwaz dan Muhammad al-Mu’tasim), jil. 3, hlm.
477; al-Rafi’i, al-Tarikh, jil. 3, hlm. 91.