من قرأ [قل هو هللا أحد1898] بعد صالة الغد عشر مرات مل يصل إليه ذنب وإن جهده الشيطان.
“Siapa membaca ‘Qul Huwa Allah ahad’ sesudah shalat Subuh sepuluh kali, maka takkan sampai
kepadanya suatu dosapun, sekalipun setan bersungguh-sungguh menggodanya.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Durays melalui dua jalan. Pertama, dari ‘Ali bin
Muhammad al-Tanafisi dari Ya’la. Kedua, dari Ahmad bin ‘Abd Allah dari Isra’il. Keduanya
(Ya’la dan Isra’il) dari al-Hajjaj bin Dinar dari al-Hakam bin Hajal dari seseorang dari kaumnya
dari ‘Ali secara mawquf.1899
al-Suyuti menjelaskan bahwa Ibn ‘Asakir meriwayatkannya dari ‘Ali secara marfu’
dengan redaksi,
عشر مرات، [قل هو هللا] من صلى صالة الغداة مث مل يتكلم حىت قرأ ذلك اليوم ذنب وأجري من الشيطان مل تدركه .
Beliau juga menjelaskan bahwa Ibn Durays dan Sa’id bin Mansur juga meriwayatkannya
dari ‘Ali secara mawquf dengan redaksi sedikit berbeda.1900
Hukum Hadis: Da’if.
Riwayat Ibn Durays itu da’if. Sebab, selain ia mawquf, namun mempunyai hukum marfu’.
Pada sanadnya terdapat seorang yang tidak disebutkan namanya yaitu rajul min qawmih. Juga
terdapat al-Hajjaj bin Dinar. Ia menurut Ahmad dan Yahya tidak cacat (lays bih ba’s). Menurut
Abu Hatim tidak bisa dijadikan hujjah (la yuhtajju bih). al-Daraqutni berkata tidak kuat (lays bil
qawiy). Namun demikian, Ibn al-Mubarak, Ya’qub bin Shaybah dan al-‘Ijli telah menganggapnya
thiqah. Ibn Hajar menyimpulkannya orang yang tidak cacat (la ba’sa bih).1901 Jadi sanad ini da’if.
Sedangkan riwayat Ibn ‘Asakir, seperti yang telah dijadikan kaidah oleh al-Suyuti, isyarat bagi
riwayat Ibn ‘Asakir secara menyendiri menunjukkan bahwa hadis ini da’if. Jadi hadis ini dapat
dihukumi da’if.
- 1898 al-Qur’an, al-Ikhlas 112: 1.
- 1899 Ibn Durays, Fada’il al-Qur’an, hlm. 115, 116 dan 118, h.n. 268 dan 274.
- 1900 al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, jil. 6, hlm. 710 dan 712.
- 1901 al-Dhahabi, Mizan al-I’tidal, jil. 1, hlm. 461; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 153.