4. Pembatasan Kajian


Dalam buku ini, Penulis membatasi kajian dengan memfokuskan pembahasan pada upaya
pen-takhrij-an Hadis, analisis dan kritik hadis. Hal ini didorong oleh minat dan spesifikasi
keilmuan Penulis di bidang Hadis, serta kepedulian Penulis terhadap bahaya pemakaian hadishadis palsu yang banyak terdapat di dalam kitab D.N. ini. Rasulullah Saw. memberikan
peringatan tentang bahaya meriwayatkan hadis palsu melalui sabdanya:

مَن حَدَّثَ عنى بحديثٍ، وهو يَرى أنَّه كَذِبٌ؛ فهو أحَدُ الكَذَّابِ ˚ينَ18

“Siapa meriwayatkan satu hadis dan ia tahu bahwa hadis itu palsu (tanpa menjelaskan kepalsuannya), maka ia termasuk salah seorang pendusta.”19

Dan hadis Nabi Saw. yang lainnya:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار20

“Siapa yang sengaja mendustakanku, maka ia telah mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.”

Dalam upaya melakukan takhrij, analisis, dan kritik hadis-hadis nanti, Penulis akan memfokuskan pada penilaian terhadap kekuatan hadis-hadis tersebut dari segi sahih, Hasan, dan da’if-nya, tanpa harus menyebutkan semua perawi yang meriwayatkan hadis tersebut. Penulis juga akan membatasi diri dengan hanya men-takhrij hadis-hadis yang marfu’,21 atau yang dihukumi marfu’. Sementara hadis-hadis yang mawquf22 dan maqtu’23 tidak dibahas oleh Penulis. Hal ini disebabkan banyaknya jumlah hadis yang harus dikaji, yaitu lebih dari 820 hadis. Di samping itu, hadis yang mawquf dan maqtu’ tentu tidak sebanding dengan hadis yang marfu’, karena ancaman kursi dari api neraka disediakan untuk mereka yang memalsukan hadis yang marfu’. Dalam riwayat Muslim disebutkan lebih jelas melalui sabda Rasulullah Saw. di bawah ini:

إنَّ كَذِبًا عَلَيَّ ليسَ كَكَذِبٍ علَى أَحَدٍ، مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِِّدًا، فَ ˚ليَتَبَوِّأ مقعده من النار24

“Sesungguhnya berbohong kepadaku tidak sama dengan berbohong kepada salah seorang (di antara kalian). Siapa yang dengan sengaja mendustakanku, maka hendaklah ia menyediakan tempat duduknya dari api neraka.”


  • 18 Muslim bin al-Hajjaj al-Qushayri, Sahih Muslim, Tah. Muhammad Fu’ad ‘Abd. al-Baqi, al-Maktabah al- Islamiyyah, Istanbul, t.th, Kitab al-Muqaddimah, Bab Taghliz al-Kadhib, hlm. 1; Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa al- Tirmidhi, Sunan al-Tirmidhi, Tah. Ahmad Shakir dan Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1987, Kitab al-‘Ilm, Bab Fiman Rawa Hadithan wa Huwa Yara Annahu Kadhib, hlm. 2662; Abu ‘Abd Allah ‘Umar bin Yazid al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Tah. Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, t.th, Kitab al-Muqaddimah, Bab Man Haddatha ‘an Rasul Allah Saw. Hadithan, hlm. 40.
  • 19 Semua terjemahan hadis-hadis dalam buku ini ditulis oleh Penulis sendiri, kecuali jika diriwayatkan sebaliknya.
  • 20 Abu ‘Abd. Allah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Dar al-Fikr, Bayrut, t.th, Kitab al- ‘Ilm, Bab Ithm Man Kadhdhaba ‘ala al-Nabi Saw., h.n. 107, 108, 109; Muslim, Sahih, al-Muqaddimah, Bab Taghliz al-Kadhib, h.n. 3.
  • 21 Hadis marfu’ adalah Hadis yang dinisbatkan kepada Rasulullah Saw. baik berupa perkataan maupun perbuatan atau sifat dan taqrir-nya. Lihat glosori istilah.
  • 22 Hadis mawquf adalah Hadis yang disandarkan kepada sahabat Nabi.
  • 23 Hadis maqtu’ adalah Hadis yang disandarkan kepada tabi’in.
  • 24 Muslim, Sahih, al-Muqaddimah, Bab Taghliz al-Kadhib, h.n. 4.