Keindahan Surga


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِى ظِلِّهَا مِائَةَ سَنَةٍ

  رواه مسلم

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Sa’id bin Abi Sa’id al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon, di mana seorang pengendara berjalan (berkendara) di bawah naungannya selama seratus tahun, namun belum dapat melewatinya.” (HR Muslim)

 

Hadis ini menggambarkan luasnya dan besarnya ciptaan Allah di surga, melalui perumpamaan sebuah pohon. Bayangan (naungan) pohon itu begitu panjang, sampai jika seseorang mengendarai kendaraan (unta, kuda, atau lainnya) selama 100 tahun di bawahnya, ia belum bisa keluar dari bayangannya. Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, hadis ini bukan sekadar simbolik, melainkan menunjukkan kenikmatan nyata di surga. Pohon ini benar-benar ada secara fisik, meski hakikat dan bentuknya hanya Allah yang tahu. Hal ini menjadi penguat bahwa surga itu bukan khayalan, melainkan tempat yang nyata dan penuh kenikmatan luar biasa yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, ataupun terlintas dalam hati manusia. Pendapat Ulama: Imam an-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa maksud dari “seratus tahun perjalanan” adalah untuk menunjukkan luasnya, bukan karena pengendara itu lambat. Ini adalah bentuk ta’jib (penekanan) untuk mengagumkan makna. Hadis ini juga menunjukkan bahwa kenikmatan surga jauh lebih tinggi daripada kenikmatan dunia, sebagaimana dalam firman Allah:“…dan di surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata (QS. Az-Zukhruf: 71)