{"id":173,"date":"2022-08-30T14:16:45","date_gmt":"2022-08-30T14:16:45","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/pengertian-hadis-hasan\/"},"modified":"2022-08-30T14:16:45","modified_gmt":"2022-08-30T14:16:45","slug":"pengertian-hadis-hasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/pengertian-hadis-hasan\/","title":{"rendered":"Pengertian Hadis Hasan"},"content":{"rendered":"<h1 class=\"pkh-single-title\"><\/h1>\n<div class=\"pkh-single-content\">\n<p><em>Hasan<\/em>, menurut\u00a0<em>lughat\u00a0<\/em>\u00a0adalah\u00a0<em>musybahah\u00a0<\/em>dari\u00a0<em>Al-Husna,\u00a0<\/em>artinya bagus. Dan bermakna\u00a0<em>Al-Jamal<\/em>\u00a0artinya keindahan. Menurut istilah, para ulama memberikan definisi hadis hasan secara beragam. Adapun pengertian lain dari para ulama-ulama tentang hadis hasan ini, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>At-Turmudzi mendefinisikan hadis hasan sebagai\u00a0<em>\u201cTiap-tiap hadis yang pada sanadnya tidak terdapat perawi yang tertuduh dusta, (pada matannya) tidak ada kejanggalan (syadz) dan hadis tersebut di riwayatkan pula melalui jalan lain.<\/em><\/li>\n<li>Ath-Thibi mengemukakan definisi hadis hasan sebagai \u201c<em>Hadis musnad (muttashil dan marfu\u2019) yang sanad-sanadnya mendekati derajat tsiqah atau hadis mursal yang (sanadnya) tsiqah , akan tetapi pada keduanya ada perawi lain. Hadis itu terhindar dari syadz dan illat).\u201d<\/em><\/li>\n<li>Ibnu Hajar al- Asqalani mendefinisikan hadis hasan sebagai\u00a0<em>\u201cKhabar ahad yang di nukilkan melalui perawi yang adil, sempurna ingatannya,khabar ahad yang di nukilkan melalui perawi yang adil, sempurna ingatannya, bersambung sanadnya dengan tanpa berilat dan syadz di sebut hadis shahih, namun bila kekuatan ingatannya kurang kokoh (sempurna) disebut hasan li dzatih.<\/em><\/li>\n<li>Dalam definisi yang lain Ibnu Hajar al- Asqalani mendefinisikan hadis hasan sebagai\u00a0<em>\u201cHadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kurang kuat hafalannya, bersambung sanadnya, tidak mengandung illat dan tidak syadz\u201d.<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p>Dengan Demikian, hadis\u00a0<em>hasan\u00a0<\/em>pada dasarnya adalah hadis\u00a0<em>musnad<\/em>\u00a0(sanadnya bersambung kepada Nabi), diriwayatkan oleh periwayat yang\u00a0<em>\u2018adil\u00a0<\/em>(misalnya tidak tertuduh berdusta), tidak mengandung\u00a0<em>syadz<\/em>\u00a0ataupun\u00a0<em>illat,\u00a0<\/em>tetapi di antara periwayatannya dalam sanad ada yang kurang\u00a0<em>dhabith.<\/em><\/p>\n<p>Dapat dikatakan bahwa hadis hasan hampir sama dengan hadis sahih, hanya saja terdapat perbedaan dalam soal ingatan perawi. Pada hadis sahih, ingatan atau daya hafalannya\u00a0sempurna, sedangkan hadis hasan kurang sempurna.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hasan, menurut\u00a0lughat\u00a0\u00a0adalah\u00a0musybahah\u00a0dari\u00a0Al-Husna,\u00a0artinya bagus. Dan bermakna\u00a0Al-Jamal\u00a0artinya keindahan. Menurut istilah, para ulama memberikan definisi hadis hasan secara beragam. Adapun pengertian lain dari para ulama-ulama tentang hadis hasan ini, antara lain: At-Turmudzi mendefinisikan hadis hasan sebagai\u00a0\u201cTiap-tiap hadis yang pada sanadnya tidak terdapat perawi yang tertuduh dusta, (pada matannya) tidak ada kejanggalan (syadz) dan hadis tersebut di riwayatkan pula [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":457,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[93],"tags":[],"class_list":["post-173","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengertian-hadis-hasan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/users\/457"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/173\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/al-majaazaat-al-nabawiyyah\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}